Halaman

Kamis, 18 Januari 2018

S.O.L.O (Story Of Love)

Bab 16

"Apa aku boleh sedikit bercerita lagi.." Ucap Anna sambil menenangkan Nita.


"Iya... Hiks hiks..." Jawab Nita yang masih menangis tersedu sedu. Ia tidak pernah menyangka bahwa kebenaran akan sesakit ini.


Anna memejamkan matanya, beberapa kali ia mengambil nafas. Lalu ia membuka matanya dan menoleh ke arah Nita, hingga ia memalingkan wajahnya dari Nita.


"Aku mengenal Reyhan sudah sangat lama. Awal aku mengenalnya sebenarnya ketika kami masih duduk di bangku Sekolah Dasar, bukan ketika aku berkuliah dan kembali ke kota ini. Saat itu kami masih kecil, aku dan Reyhan tergabung dalam satu kelas. Reyhan semasa kecil, bukanlah seperti sekarang, ia berbeda dan sangatlah jauh berbeda.
Saat itu kami menjadi teman satu kelas, ia hanyalah bocah yang sangat pintar  semasa usianya, namun ada juga kisah menyedihkan darinya. Reyhan adalah anak panti asuhan, ia tidak pernah tahu siapa orang tuanya, selama waktu itu ia hanya bocah biasa. Yang suka sedih dan menangis bila ada yang mengejek tentang darimana asal usulnya. Tapi asal kau tahu, bahwa sejak itulah Reyhan menjadi laki laki yang kuat. Ia berubah dari bocah cengeng menjadi bocah yang ditakuti oleh orang orang, dan beberapa temannya.
Ia terus berlatih dan menggunakan kemampuan otaknya yang hebat untuk menakuti orang orang, ia juga mengubah gaya bicara dan tingkah lakunya.
Tapi bagiku Reyhan hanyalah sebuah bocah yang mencoba menghapus kesedihannya. Namun hatinya tetap hangat dan selalu baik, walau ia sering berkata kasar dan suka mengancam orang. Pertemanan kami berjalan singkat, ketika selesai dari Pendidikan Sekolah Dasar, aku harus ikut pindah bersama orang tuaku ke luar kota, karena ayahku mendapatkan pekerjaan dan harus menetap di kota lain. Dan saat itu aku sudah tidak bertemu lagi dengan Reyhan.
Hingga aku kembali ke kota ini dan berkuliah di Universitas sama sepertimu. Saat itulah aku bertemu lagi dengannya, aku kira dia sudah tidak mengenal atau melupakan diriku. Namun aku terkejut bahwa dia masih mengingat semua detail tentang diriku, dia memang mempunyai otak yang hebat.
Dan asal kau tahu Nita, aku dan Reyhan hanya sahabat, tak berlebih ataupun berkurang. Dan ketika aku tahu Reyhan dekat denganmu, aku sangat senang. Kelakuan dan tingkahnya yang buruk mulai berkurang itu karenamu."


Penjelasan dan cerita dari Anna tentang sahabatnya. Air matanya menetes saat  menceritakan masa lalu tentang Reyhan. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan terdiam beberapa saat.


Sementara Nita hanya terpaku diam, semua hal ini sangat tidak masuk akal, namun semua fakta dan bukti menunjukkan semuanya. Reyhan laki laki yang pernah menggores luka di hatinya, ternyata laki laki yang sangat baik, sebagai mantan teman terdekat seharusnya ia tahu akan hal itu. Ia yang merasa bahwa sudah tahu segala hal tentang Reyhan, ternyata tidak tahu apa apa. Dan semua pertanyaan tentang orang tua Reyhan sudah terjawab.
Tubuhnya terlalu lemah untuk berdiri, ia tak memiliki tenaga untuk bangkit, kesedihan dan rasa bersalah telah menguras semua kekuatan yang dimilikinya.


****


Tiga hari telah berlalu setelah kejadian itu. Pagi ini sinar mentari lebih cerah dan hangat, juga udara pagi ini juga terlampau sangat segar dan sejuk. Alam seperti memberi isyarat pada manusia bahwa hari ini adalah saat terbaik untuk memulai sesuatu hal yang baru dan positif.


Namun hal itu nampaknya tak terjadi pada Nita. Gadis yang selalu ceria, enerjik, serta bersemangat ini hanya terbaring dan berkutat dengan tempat tidurnya. Tidak ada kegiatan yang ia lakukan selama tiga hari ini, hanya makan dan minum sambil sesekali menangis.
Sejak bertemu dengan Anna dan mengetahui kebenaran akan semuanya, membuat dirinya berada dalam dilema hidup. Dia merasa seperti dihantam oleh ombak yang sangat besar dan kuat. Yang kemudian membuka tabir kebenaran serta masuk dengan paksa ke dalam otaknya. Tak ada yang bisa ia lakukan sekarang, selain bersedih dan menangis.


****


"Ada apa dengan putrimu?" Tanya Ridwan yang sudah selesai menyantap sarapan paginya.


"Entahlah aku juga tidak tahu... Tapi sudah tiga hari ini ia bersikap seperti itu.." Jawab Istrinya yang menemaninya sarapan.


"Hmm... Apa mungkin ia bertengkar dengan Arifin?" Sahut Ridwan yang khawatir dengan kondisi putrinya. Ia tidak pernah ingat tingkah laku anak gadisnya seperti ini.


"Aku tidak tahu... Tapi mungkin aku akan bertanya kembali padanya." Ucap Ayu yang mencoba menenangkan hati suaminya. Ia tahu bahwa suaminya ini sangat sayang kepada putri mereka, namun jangan sampai rasa sayangnya menimbulkan kekhawatiran yang akan mengganggu pekerjaannya.


Setelah itu Ridwan berpamitan pada istrinya untuk berangkat kerja. Dan sang istri mengantarnya sampai pintu rumah, juga tak lupa mencium tangan suaminya.
Selesai itu ia membereskan meja makan dan membersihkan rumahnya, baru kemudian ia akan menemui putrinya dan berbicara padanya sebagai sesama wanita. Cukup lama baginya untuk bersih bersih rumah, butuh waktu hampir dua jam lebih untuk melakukannya, mulai dari mencuci piring dan gelas, menyapu dan mengepel rumahnya.


Hingga semaunya sudah selesai, wanita ini mandi dan berganti pakaian. Selepas itu ia mendatangi anaknya yang masih berselimut kalbu di lantai atas. "Tok..Tok" Beberapa kali ibu ini mengetuk pintu kamar anaknya, namun tidak ada sahutan atau terdengar sesuatu. Ia pun mencoba membuka pintunya, dan ternyata tidak di kunci.
Ia masuk ke dalam kamar putrinya yang sedikit gelap dan remang remang. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan putrinya ini, namun semua itu terlihat dari kondisi kamarnya. Kamar yang terbiasa terang, bersih, wangi dan indah ini terlihat sangat gelap, kotor dan sedikit menakutkan. Dan sepertinya itu adalah gambaran perasaan dari Nita saat ini.


"Apa aku baik baik saja sayang?" Ujar ibunya yang menghampiri dan duduk di pinggir tempat tidur.


Nita langsung bangun mengetahui ibunya ada di kamar dan tepat berada di sampingnya. Rambut Nita yang biasanya terlihat indah dan halus, menjadi berantakan, matanya merah dan pupil matanya membengkak sebagai tanda ia terus menangis dan bersedih beberapa waktu ini. Wajah ceria dan cantiknya berubah menjadi kusut dan tanpa terlihat semangat hidup.
Saat inilah Nita hanya menatap ibunya dan kemudian memeluknya.


"Apa yang terjadi denganmu sayang?" Tanya Ibunya sekali lagi. Sementara Nita hanya memeluk erat ibunya.


"Ceritakan pada ibumu ini, dan kita akan cari solusi dan jalan keluarnya?" Ujar Ayu yang tahu bahwa putrinya sedang mendapatkan masalah yang berat dan membuat putrinya menjadi sedikit depresi.


Mendengar suara ibunya berbicara kepadanya membuat gadis ini merasa sedikit tenang. Baginya ibunya adalah bidadari yang tahu segala hal tentangnya, juga tentang isi hatinya.
Nita lalu menceritakan semua hal tentang Reyhan kepada ibunya, juga tentang kebenaran dan kenyataan yang baru beberapa hari yang lalu ia terima. Dan ketika selesai bercerita tentang masalah yang dialaminya kepada ibunya, air mata gadis ini kembali tumpah dan kesedihan seperti sedang menaungi dan bertempat tinggal dalam dirinya.

"Seharusnya kau bersyukur sayang...Tuhan masih memperlihatkan kebenaran padamu." Ujar Ayu yang membelai rambut anaknya dengan lembut dan perlahan.

Nita tidak tahu dan bingung dengan perkataan ibunya barusan. Ia sama sekali tidak mengerti maksud ucapan dari ibunya. "Maksud Mama apa?"

"Berarti Tuhan masih sayang padamu. Dan tidak membiarkan terus terjerembab dalam lembah kebencian." Ujar Ayu yang memberi nasehat pada putrinya.

"Iya Ma.." Jawab Nita yang mulai mencerna nasehat dari ibunya secara perlahan.

"Sekarang mandi dan bersihkan dirimu. Terus siapkan mental dan minta maaflah pada dia... Dan untuk selanjutnya biar Tuhan yang menunjukkan jalannya padamu." Tambah Ayu yang masih membelai lembut rambut putrinya.

Nita kemudian memeluk ibunya dan beranjak dari tempat tidur. Ia menuruti nasehat dari ibunya. Sebab ibunya selalu tahu hal yang terbaik untuk putrinya ini.

****


Pukul 10.00.


Nita yang pagi ini merasa lebih baik setelah kemarin telah bercerita dan curhat kepada ibunya. Ia pun langsung melaksanakan nasehat dari ibunya. Dan ia berharap setelah melakukan hal ini tidak ada kesedihan ataupun rasa bersalah di kemudian hari.
Ia duduk di bangku taman dan menunggu seseorang, lebih dari lima belas menit ia menunggu. Namun seseorang yang ditunggu olehnya tak kunjung datang. Hingga sudut matanya melihat seseorang yang berjalan dan menghampirinya.


"Ada apa lagi? Apa kau ingin mengatakan hal bodoh yang sama lagi." Sapa Reyhan yang sudah berdiri di depan Nita.


Nita melihat wajahnya dan kemudian ia mengatakan sesuatu pada Reyhan. "Aku sudah tahu semuanya...Kak."


"Apa maksudmu?" Ucap Reyhan dengan sedikit bingung. Namun dari nada suaranya gadis ini sudah melunak, ia pun mulai berpikir apa maksud dari Nita.


"Aku sudah tahu semuanya, tentang semua hal dirimu..." Jawab Nita yang kemudian menundukkan wajahnya. Ia mencoba mengontrol emosinya agar tidak meledak.


"Hmm pasti Anna sialan yang memberi tahu hal ini padamu." Seru Reyhan dengan memandang lawan bicaranya.


"Iya kak..." Jawab Nita dengan mengangguk pelan dan tetap menundukkan wajahnya.


"Ya sudah..." Balas Reyhan. Ia pun langsung berbalik arah dan akan melangkah pergi.


"Kenapa kak...Kenapa waktu itu aku tidak menjawab atau memberikan aku alasan!" Ucap Nita dengan menaikkan nada suaranya. Ia tahu bahwa Reyhan akan pergi. Kali ini ia mengangkat wajahnya dan memandang lawan bicaranya.


Namun Reyhan yang berbalik arah tetap melangkah ke arah lain. Ia sama sekali tidak peduli ataupun menggubris perkataan dari Nita. Ia hanya melangkah pergi menjauhinya. "Saat itu aku bisa memberimu seribu alasan, namun apakah hatimu bisa percaya padaku ketika itu."


"Maaf kak...Maafkan aku waktu itu yang terlalu egois dan mudah percaya... Hiks Hiks.." Ucap Nita yang kemudian menangis. Kesedihan kembali datang dan membuat air matanya kembali menetes. Serta rasa bersalahnya memperburuk situasi hatinya saat ini.


"Itu Bukan salahmu... Dan aku juga memaafkan salahmu. Aku memahami kondisimu saat itu." Ucap Reyhan yang kini kembali ada di depan Nita dan menatap wajah gadis ini.


Saat gadis ini ingin berucap dan meminta maaf kembali. Namun tiba tiba saja Reyhan memeluknya dan mencium keningnya. Hal yang tak pernah ia alami ketika keduanya bersama di masa lalu.
Semua perasaan Nita kini campur aduk menjadi satu. Perasaan atas rasa bersalah dan rasa sedihnya langsung hancur dan menghilang begitu mudah. Kegelisahan dan gelombang yang ada di dalam hatinya juga sudah sirna.


Nita tidak tahu kenapa Reyhan selalu bisa membuatnya tenang dan nyaman. Berada disisinya dan di peluk seperti sekarang membuat gadis ini merasa hangat dan sejuk. Air matanya berhenti menetes,  hatinya yang hancur dan berantakan kembali damai.


Waktu seperti berhenti untuk sesaat, agar kedua manusia ini bisa menikmati waktu mereka sedikit lebih lama. Namun waktu juga yang harus menghentikan dan memisahkan mereka.


Reyhan melepas pelukannya pada Nita dan menatap dalam pada kedua mata gadis ini sambil mengatakan sesuatu. "Bagiku kau lebih dari sekedar cinta, kau adalah cahaya dan aku adalah kegelapan. Kau datang dan menerangi diriku juga hidupku, dan sebagai gantinya aku akan melindungi dan mencintaimu walau harus dalam kegelapan. Sebenarnya aku ingin kau kembali padaku, berada di sisiku. Namun dirimu bukan lagi milikku dan aku akan bahagia meski kau tak bisa bersamaku."


Setelah itu Reyhan berjalan pergi dan meninggalkan Nita dengan sejuta perasaan. Namun senyuman manis dan indah sudah tergambar dari wajah gadis ini, keceriaan telah hadir lagi dalam dirinya dan wajah cantiknya kembali memancarkan keindahan.


******


TBC...

S.O.L.O (Story Of Love)

Bab 15

Nita yang seharian ini pergi ke Mall untuk berbelanja, dan sekalian menghapus nuansa buruk dalam hatinya. Namun nampaknya apa yang di harapkan olehnya ini tak akan terwujud. Sebab saat dirinya menikmati makanan di Mall ini, ada seseorang yang menghampiri dan menyebut namanya. "Kau... Yunita Novianti kan?"


Nita hanya terdiam memandangi orang ini, dia tidak tahu siapa gadis yang menyapa dirinya. Gadis berambut pendek model jepang, dengan wajah yang cantik dan hiasan kaca mata. Ia terdiam dan mencoba mengingat siapa orang ini, namun nampaknya penyimpanan otaknya sedang error sekarang.


"Maaf anda siapa yah?" Ujar Nita sambil masih berusaha mengingat.


"Boleh saya duduk..." Jawab Gadis ini.


"Oh iya maaf... Tentu silahkan." Ucap Nita yang juga lupa mempersilahkan duduk.


Gadis ini kemudian duduk di seberang meja di hadapan Nita. Ia kembali bertanya padanya. "Apa kau tidak ingat aku?"


Nita hanya terdiam seraya masih sambil mengingat ingat sesuatu. Meskipun dia masih belum tahu atau ingat siapa gadis ini, namun wajahnya sangat familiar bagi dirinya. "Maaf saya tidak ingat dan mengenal anda."


"Hehehe... Tentu saja kau tidak mengenal tentang aku. Namun aku cukup baik mengenal dirimu..." Ucapan Gadis ini dengan senyuman yang sangat indah.


"Mengenal saya...? Sebenarnya anda ini siapa?" Ujar Nita yang seolah tak mengerti ucapan lawan bicaranya ini.


"Baiklah aku akan memperkenalkan diri. Namaku Anna Febrianti, teman dan sahabat mantan pacarmu, Reyhan." Jawab Gadis ini sambil mengulurkan tangannya.


Saat ini Nita langsung tersadar siapa sebenarnya orang ini, dia adalah gadis yang pernah ia lihat semasa waktu berkuliah dulu. Ia gadis yang pergi bersama Reyhan yang sempat dilihat dan direkam oleh Risti. Mengingat hal itu membuat Nita tidak ingin menjabat tangan lawan bicaranya, ia bangkit dari tempat duduk dan ingin pergi. Namun langkahnya kalah cepat dengan tangan gadis ini.
Tangan Nita sudah dipegang oleh Anna. Kemudian Nita menoleh ke gadis yang masih duduk dan memegang tangannya. Dari sorot mata Nita terlihat sebuah amarah dan kebencian yang sangat dalam.

Tentu saja hal itu dipicu dari semua kejadian di masa lalu. Ia menjadi penyebab dan penghancur hubungannya dengan Reyhan. Ia adalah orang yang jahat dan sama berdosanya dengan Reyhan.
Nita lalu menggerakkan tangannya dan melepaskan tangan yang sedang memegangi dirinya.

"Apa kau masih marah akan kejadian masa lalu?" Ujar Anna yang sudah bangkit dari tempat duduknya.

Namun Nita tidak ingin menoleh atau melihat. Ia ingin melangkah pergi, dan tidak mau mendengar atau menggubris ucapan gadis ini.

"Jika kau punya sedikit waktu... Ada hal yang ingin aku tunjukkan kepadamu." Suara Anna.

Saat ini Nita malah berbalik dan melihat gadis ini. Sebenarnya ia tidak ingin mendengar apapun lagi, namun hati dan otaknya sedang tidak sedang dalam satu irama. Otak kecilnya menyuruh untuk pergi dan meninggalkan tempat ini, namun hati dan naluri wanitanya membuatnya tetap berada disini dan ingin sedikit mendengarkan sedikit hal.

"Ikutlah denganku..." Ujar Anna. Anna kemudian pergi dan di ekori oleh Nita. Sampai akhirnya Nita yang pergi naik motor harus mengikuti mobil Anna.

****


Sebenarnya di tengah jalan Nita sempat ingin mengubah keinginannya. Namun sekali lagi nurani sebagai seorang wanita yang memaksanya untuk terus mengikutinya. Selang beberapa menit sampailah mereka pada sebuah halaman dan rumah yang besar.
Anna langsung keluar dari mobil dan diikuti oleh Nita yang turun dari sepeda motornya. Anna pun melihat dan menggerakkan kepala sebagai tanda agar Nita tetap mengikutinya.

Dan dengan langkah yang ragu ragu Nita berjalan tepat di belakangnya. Sebenarnya gadis ini ragu dengan apa yang akan di sampaikan pada dirinya. Namun mata Nita hanya melihat sekeliling dan mengagumi betapa luas dan indahnya rumah ini.

"Silahkan duduk... Ucap Anna yang mempersilahkan tamunya. Sementara Nita hanya mengangguk pelan. 
Anna pun masuk ke dalam rumah dan membiarkan tamunya itu sedikit menunggu di teras rumahnya. Tak kurang dari lima menit ia sudah kembali menemui tamunya dengan membawa minuman dan kado.


"Untuk apa ini?" Tanya Nita yang menerima dua buah kado dari Anna.


Sementara Anna lalu meletakkan dua gelas minuman di meja dan menyuruh Nita untuk membuka kedua kado tersebut. "Buka saja kadonya."


Kado yang pertama berukuran lumayan besar dengan bentuk persegi empat. Dan kado yang kedua berupa kotak kecil. Lantas Nita pun membuka kado yang diterimanya itu, ia membuka kado yang pertama, ternyata itu adalah sebuah gambar lukisan dirinya. Sebuah sketsa gambar wajahnya yang sangatlah indah, sketsa gambar ini sangat mirip sekali dengan wajah aslinya, pasti ini di buat dengan sangat sabar dan hati hati.


Dan sedangkan untuk kado kedua, yang berupa kotak kecil. Ia membukanya dan langsung di kejutkan oleh sebuah liontin. Sebuah kalung liontin sangat indah dan mahal. Namun Nita masih heran apa maksud dari semua ini.


"Apa maksudnya ini?" Ujar Nita yang melihat lukisan dan liontin ini. Ia mengernyitkan dahinya sebagai tanda bahwa dirinya tidak memahami.


"Semua itu dari Reyhan." Balas Anna.


"Reyhan...???" Ucap Nita yang semakin bingung.


"Kedua kado itu sudah sangat lama tersimpan di rumahku. Dan sampai hari ini akhirnya aku bisa bertemu dengan dirimu. Dan aku bisa langsung memberikan kado ini padamu, lalu aku bisa tidur dengan nyenyak malam ini." Jelas Anna diikuti dengan gurauan.


Nita melihat temannya ini dan sungguh tidak mengerti maksud dan tujuan dari Anna. Kado, dan Reyhan, apa sebenarnya yang ada di balik kedua hal ini. "Apa maksudmu? Jujur! Sama sekali aku tidak mengerti dan paham tujuanmu ini." Ujar Nita dengan sedikit menaikkan nada suaranya. Namun saat ini kegusaran sedang melanda hatinya.


"Maaf... Akan aku jelaskan..." Jawab Anna dengan tersenyum. Namun ia mempersilakan Nita untuk meminum minumannya terlebih dahulu sebelum mendengar cerita darinya.

"Semua hadiah ini dari Reyhan... Kau pasti tahu sesaat sebelum hubunganmu dan Reyhan memburuk. Kau akan berulang tahun, dan saat itu beberapa hari sebelumnya Reyhan memintaku untuk menemani dirinya pergi berbelanja kado hadiah di hari ulang tahunmu." Jawab Anna sambil menjelaskan secara perlahan kepada Nita.

Nita kembali memutar ingatan otaknya, dan ia langsung seperti mengingat sedikit hal tentang itu. Memang benar sebelum pertengkaran dan pertemuan terakhir dengan Reyhan itu berada pada bulan yang sama dengan kelahirannya. Namun ia kembali menghela nafas dan kembali memastikan hal itu dengan mengingat semua kejadian di masa lalu. "Apa semua ini benar?"

"Iya..." Jawab Anna dengan mengangguk pelan.

"Lalu kenapa Reyhan menghilang dan tidak pernah mengatakan apapun padaku saat itu, atau sekarang?" Tanya Nita dengan perasaan campur aduk. Matanya berkaca kaca, namun otaknya menolak semua hal ini, akan tetapi semua bukti dan suara hatinya mengatakan bahwa apa yang baru saja di dengar olehnya adalah kebenaran.

"Aku tidak tahu... Dan ketika aku mendengar hal itu. Aku sempat ingin menjelaskan padamu... Namun Reyhan saat itu menyuruhku untuk tidak perlu memberi tahu kebenaran ini padamu." Balas Anna yang mencoba menenangkan hati temannya ini.

"Lalu kenapa Reyhan menghilang dan pergi entah kemana?" Tanya Nita lagi. Kali ini tangisannya sudah pecah, air matanya mengalir dan menghiasi wajah cantiknya. Ia seperti tidak percaya tentang semua ini.

"Sebelum lulus dari kuliah, Reyhan sudah mendapatkan tawaran pekerjaan dari perusahaan terkenal dan terkemuka. Ia pernah mengirim surat lamaran kerja dan hasilnya, ia di terima. Namun saat itu ia ditempatkan di kantor cabang di Kota Malang. Sebenarnya ia tidak ingin menceritakan hal ini padamu, karena ia tidak ingin berpisah denganmu. Namun pertengkaran kalian dan kemarahanmu menjadikan semuanya terjadi. Dan asal kau tahu, kedua hadiah itu dibuat dan di beli Reyhan dengan Hasil keringatnya sendiri." Jelas Anna dengan detail.

"Apa Maksudnya? Hiks... Hiks..." Ucap Nita di sela tangisannya.

"Aku tahu kau tidak akan pernah tahu, dan Reyhan tidak akan menceritakan hal ini padamu. Sebenarnya selama kuliah....Mungkin dari SMA Reyhan telah bekerja paruh waktu. Mesti kadang ia mengancam seseorang untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan olehnya, akan tetapi selama ini ia bekerja sebagai pelayan restoran. Dan semua hasilnya itu di tabung dan disimpan di bank, hingga suatu hari ia mengambil beberapa uang di bank dan membeli liontin itu. Sedangkan untuk lukisan itu, ia membuat sketsa wajahmu dan membuatnya dengan sangat sabar, hingga kau bisa lihat hasilnya sekarang." Penjelasan dari Anna yang menghancurkan gunung es kebencian Nita. Kali ini dirinya benar benar hancur, kesedihan menyapa dirinya dan berdiam diri di dalam hatinya.

"Lalu apa maksud semua ini?" Tanya Nita dengan suara kacau.

"Kurasa kamu tahu..." Jawab Anna singkat.

"Kau salah aku tidak tahu. Apa kau pikir dengan memberi tahu semua hal ini, aku akan memaafkan dan kembali pada Reyhan!" Ujar Nita yang semakin kacau. Ia tidak bisa mengontrol emosi, kesedihan dan rasa bersalahnya.

"Aku tidak meminta hal itu... Namun dengan tahu sedikit kebenaran. Kamu bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi dan kenyataan tentang semua ini." Balas Anna yang kemudian memeluk dan menenangkan temannya ini.


*****


TBC...

Rabu, 17 Januari 2018

S.O.L.O (Story Of Love)


Bab 13

Dan semakin lama hubungan dua mahluk ini semakin dekat. Hubungan keduanya membuat semua anak anak kampus, dan Dosen menjadi bingung dan heran. Tidak mungkin seseorang yang begitu cantik dan baik hati seperti seorang bidadari, bersanding dan bersama manusia yang lebih pantas menjadi seorang iblis. Namun semua perkataan itu tidak membuat kedua orang ini marah, keduanya tidak pernah mempedulikan hal itu.


Begitu juga dengan Nita, ia tak harus dan tidak perlu mendengarkan suara suara yang selalu bergema di belakang telinganya. Menurutnya semua orang disini tidaklah tahu siapa Reyhan dan sifatnya yang sebenarnya. Karena menurut dirinya dan juga Reyhan, semua orang ini tidak penting. Seperti yang pernah Reyhan katakan kepadanya. "Baik dan buruk  seseorang bukan dari apa yang dilakukan, atau dikerjakan. Melainkan dari sudut mana mata kalian memandang."


Namun masih ada beberapa hal yang masih membuat risau hatinya. Yaitu tentang perasaan Reyhan kepadanya. Selama ini hubungan mereka memang sangat dekat. Akan tetapi ia tidak tahu bagaimana perasaan lelaki itu terhadap dirinya, sebab Reyhan tidak pernah mengatakan apapun mengenai perasaannya.


"Hei Nit melamun aja..." Tegur Andien yang saat itu melihat temannya bengong di kantin. Bahkan makanan yang di pesannya tidak disentuh sama sekali.


"Ahh kau.. aku kira siapa." Jawabku yang tersadar dari lamunan.


"Uhh... Apa yang membuat putri kecantikan ini menjadi pemikir berat." Ujar Risti yang datang menghampiri kita berdua. Ia lalu duduk di sebelahku, sedangkan Andien duduk di bangku depanku.


"Bukan apa apa kok.... Tidak penting." Sahutku seketika.


"Yakin?" Tanya Risti sambil mengedipkan mata padaku. Ia seperti tahu isi hatiku dan apa yang ku pikirkan saat ini.


"Iya.." Jawabku singkat.


"Lalu bagaimana hubunganmu dengan Reyhan... Si pangeran kegelapan itu?" Sela Andien kemudian.


"Ya begini begini aja. Kami baik baik saja."


"Apa jangan jangan kalian.." Ucap Risti dengan tersenyum seperti mengetahui sesuatu.


"Sudah.! Kita bisa ganti topik lain." Ujarku dengan tegas kepada kedua teman kelasku ini. Memang benar mereka adalah teman yang baik, akan tetapi terkadang mulut mereka tidak begitu baik.


Saat itulah kedua temanku ini menatapku dengan takut. Aku bisa dengan jelas melihat ketakutan dari kedua wajah temanku saat ini. Setelah itu suasana hening terjadi pada kami bertiga, tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari masing masing mulut kami. Kami terdiam seperti tidak mengenal sebelumnya, namun saat itu aku sadar dan sudah salah terhadap kedua temanku ini. Aku harus segera minta maaf kepada kedua temanku.


"Maafkan aku tadi.." Kataku meminta maaf kepada keduanya.


"Kami juga minta maaf ya.." Jawab Andien sambil memelukku.


"Iya aku juga minta maaf.." Suara Risti kepadaku.


Aku menghela nafas dan kemudian aku berpamitan kepada kedua temanku ini untuk pergi ke kelas. Temanku pun membayar makanannya dan langsung mengikuti ke kelas.


*****


Sudah lama aku dan Reyhan berhubungan. Kami sering pergi bersama entah kemanapun itu, atau hanya sekedar menonton film, bersantai atau mengobrol. Pernah suatu hari ia mengajakku untuk pergi ke rumahnya, namun ternyata saat itu aku bukan diajak ke rumah, malah berada di hotel.
Sempat seketika itu aku berpikiran buruk kepadanya ketika membawaku ke hotel ini, namun seperti tahu jalan pikiranku saat ini. Ia mengatakan bahwa ia tinggal disini dalam beberapa waktu terakhir.


Saat itu aku benar benar heran. Namun sesampainya di kamar hotel, ia tidak bercerita dan mengatakan apapun kepadaku. Dan hal ini tentu membuatku semakin penasaran. Hingga aku memberanikan diri untuk mencoba bertanya.


"Reyhan? Bolehkah aku bertanya padamu?" Ucapku.


"Kau aneh sekali hari ini... Hari ini kau lebih banyak dan aktif dalam bertanya." Ujar Reyhan kepadaku.


"Bagaimana apa aku boleh bertanya?" Ucapku kembali.


"Tentu.. Apa yang ingin kau tanyakan." Katanya.


"Apa Orang Tuamu pemilik hotel ini?" Tanyaku.


"Bukan.."


"Lalu Orang Tuamu atau kamu yang kerja di hotel?" Tanyaku lagi.


"Salah semua." Jawabnya singkat.


"Lalu?" Ujarku yang semakin penasaran akan hal ini.


"Aku tinggal di hotel ini secara gratis dan cuma cuma. Sebab bangunan hotel ini berbeda dengan sertifikat bangunan dan tanah mereka. Jadi secara tidak langsung bangunan ini memakan sedikit wilayah orang lain dan pemerintah. Dan saat pemilik hotel ini tahu bahwa aku mengetahui hal ini, mereka langsung menawariku untuk tinggal disini secara gratis." Ucapnya yang menjelaskan padaku.


Ketika mendengarkan semua penjelasan darinya aku langsung sadar, bahwa seseorang yang sedang dekat denganku beberapa waktu ini adalah laki laki yang menakutkan.
Aku pernah berpikir apa ia tidak takut apa yang akan dilakukan oleh pemilik atau petugas hotel ini kepadanya, bisa saja terjadi hal yang buruk kepadanya nanti.
Namun sekali lagi ia hanya tertawa dengan suara yang khas kepadaku.


Bukan hanya itu saja, Reyhan tidak pernah mengatakan darimana ia berasal dan siapa orang tuanya, pernah sesekali aku bertanya padanya. Namun bukan jawaban yang aku dapat, melainkan sifat diamnya. Sejak itu pun aku memutuskan untuk tidak bertanya tentang asal usulnya.


*****


Hingga suatu pagi aku mendengar sebuah kabar dari teman kelasku. Ia menghampiri diriku yang sedang duduk diam di dalam kelas. Memang saat ini kami semua sedang menunggu dosen kami yang terlambat datang, hal ini tak pernah terjadi sebelumnya.
Risti yang saat itu bertempat duduk beberapa bangku di depanku, langsung berdiri dan berjalan ke arahku. Ia menarik bangku yang kosong dan langsung duduk tepat di sebelahku.


"Nit... Ada yang ingin aku katakan dan sampaikan padamu." Ujarnya dengan suara pelan.


"Apa?" Jawabku cuek. Orang ini adalah ratu penggosip di kelas kami, dan jelas dengan pasti ia ingin menggosipkan sesuatu padaku.


"Tapi janji kau jangan marah.." Ujarnya kembali seperti meminta ijin.


"Iya iya..." Jawabku yang memang saat ini sedang malas untuk berbicara. Namun dari sorot kedua matanya aku melihat keseriusan.


Risti berkata padaku bahwa kemarin sore ia melihat Reyhan dengan seorang gadis berada di mall. Namun ia tidak tahu atau kenal siapa gadis yang bersama Reyhan, namun ia sempat mengambil beberapa gambar keduanya dengan kamera ponselnya. Ia pun menunjukkan hal itu padaku.


"Maaf Nit... Tapi aku ingin kau tahu." Ucapnya saat menunjukkan foto itu padaku.


Aku yang pertama kali tidak percaya dengan ucapan temanku ini langsung ingin marah, akan tetapi ia mempunyai bukti sebagai semua perkataan darinya tadi. Dan saat melihat foto tersebut hatiku perih dan hancur.
Di foto itu aku melihat Reyhan makan dengan seorang gadis yang cantik, dan keduanya tampak mesra dan bahagia. Aku merasa seperti hancur, semua pertanyaanku telah terjawab kali ini, tentang Reyhan tidak pernah mengatakan perasaannya padaku dan tentang kejelasan hubungan kami. Dan sekarang aku tahu alasannya ia tidak pernah melakukan hal itu.


Mataku berkaca kaca, air mataku kutahan semampu mungkin, namun hatiku tetap saja perih dan sakit. Aku seperti tertusuk oleh pisau beracun, meski tidak membunuhmu seketika, tapi membunuh dirimu secara perlahan dengan rasa sakit yang mengerikan.
Namun aku harus bersikap kuat, aku ingin langsung mendatanginya saat ini juga, namun tujuanku terhalang oleh Dosen kami yang baru saja masuk ke kelas. Aku langsung mengirim pesan singkat ke nomor handphone nya untuk bertemu siang nanti.
Selama jam mata kuliah ini berlangsung, aku tidak fokus sama sekali. Tubuhku memang berada disini, tapi pikiranku telah melayang pergi, dan hatiku kesakitan setengah mati.


*****


Akhirnya mata kuliah ini selesai juga. Setelah Dosen kami keluar, aku langsung berlari menuju pintu kelas dan menuju tempat Reyhan. Saat ini aku yakin teman temanku memandang sifat aneh dariku.
Namun aku harus tetap menemuinya saat ini, kutahan air mataku yang sudah keluar beberapa kali. Sebab yang kubutuhkan saat ini adalah penjelasan darinya.


Aku bisa melihatnya, ia sedang duduk seperti biasanya di bangku kesukaannya. Aku tahu ia pasti melihatku berlari ke arahnya, dan ia juga melempar sebuah senyum yang manis untuk menutupi kebusukannya.


"Kau terlambat gadis bodoh!" Sapanya ketika aku sudah berada di hadapannya.


Kuatur kembali nafasku dan ku coba redam amarah serta ku tahan air mataku saat ini. Untuk pertama kalinya aku bersuara lantang padanya. "Apa yang kau lakukan kemarin sore!"


Dia hanya melihat ekspresi ku saat itu, namun dia tak menjawab atau mengatakan apapun padaku. Ia seperti penjahat yang tidak mengakui perbuatan dosanya, serta bertingkah seperti tidak terjadi apa apa. Dengan tatapan matanya yang tajam ia melihatku.


"Jawab pertanyaanku... Apa kau pergi dengan seorang gadis lain kemarin!!!" Ucapku dengan setengah berteriak dan meneteskan air mata.


"Bukan urusanmu..." Jawab Reyhan. Dan kemudian ia berlalu pergi meninggalkan diriku.


Kata katanya itu seperti menyadarkan diriku, bahwa kami bukan siapa siapa. Tidak ada hubungan resmi atau ikatan yang terjadi atau terjalin diantara kami berdua.
Hatiku semakin hancur mendengar hal itu, sekarang racun yang terdapat di pisau itu seperti sudah meracuni dan membunuhku sekarang.


Hatiku sakit meminta penjelasan. Namun apa yang ingin aku dapatkan tak terwujud. Aku masih bisa melihatnya meski sudah beberapa langkah ia pergi. Ku hapus air mataku dengan kedua tangan dan aku berteriak padanya.


"Kau tahu kak... Aku berharap ini tidak pernah terjadinya. Aku berharap tidak pernah bertemu ataupun kenal denganmu!!" Ucapku yang berteriak memaki dirinya.


Namun ia hanya menghentikan langkah kakinya tanpa berbalik mengahadapku, ia hanya bersuara seperti biasanya. "Maaf... Dan semoga tuhan mengabulkan doamu itu."
Kemudian ia melanjutkan langkah kakinya pergi meninggalkanku.


Setelah itu aku tidak pernah mau lagi mendengar kabar tentangnya. Ku putuskan untuk menghapus namanya dari ingatan dan hatiku. Namun rasa sakit dan perasaan hancur masih membekas di hati ini. Saat itulah Arifin ada dan menjadi sosok pahlawan yang dengan setia menghibur dan menjadi semangat baru di hidupku. Hubungan kami semakin dekat dan akrab lalu berpacaran hingga sekarang ini.


Namun untuk Reyhan, setelah kejadian peristiwa itu. Menjadi pertemuan terakhir diriku dengannya, sejak hari itu aku tidak pernah lagi mendengar atau melihatnya di setiap sudut kampus.
Bangku taman kesukaannya juga selalu kosong, dan bahkan ada gosip tersebar bahwa dia di  Drop Out atau D.O dari kampus. Ada juga gosip yang mengatakan ia pindah ke Universitas lain.
Tentu saja semua hal itu aku ketahui dari Risti, si Ratu Penggosip.
Pernah aku iseng bertanya tentang kabarnya ke beberapa orang teman sekelas dan sahabatnya. Namun tidak ada yang tahu kabarnya atau dimana ia berada sekarang. Juga para Dosen yang aku tanyai saat itu seperti menyembunyikan sesuatu tentang dirinya.


Hingga kami bertemu kembali setelah beberapa waktu berlalu, atau lebih tepatnya setelah ia pindah dan menjadi tetangga sebelah rumahku.


TBC...

S.O.L.O

Bab 14

Sore hari yang indah. Matahari masih bersinar dengan sisa cahaya yang tersisa. Nampak berwarna sangat indah dan tenang. Seperti menggambarkan Keagungan Tuhan di alam semesta.
Sore ini Bunga duduk diam di dalam kafe, gadis bertubuh kurus ini menikmati keindahan sore ini dengan sendiri, tak ada teman, sahabat atau kekasih. Setelah ia dan Tama menghadiri acara pernikahan sahabatnya, ia kemudian harus mengantarkan kekasihnya ke Bandara. Meski walau rasa rindu masih menyelimuti, namun secara terpaksa ia harus berpisah dengannya. Semua itu dilakukan Tama demi sebuah masa depan yang indah.


"Kau datang terlalu awal..." Tegur seorang laki laki.


"Tidak apa apa... Sesekali aku ingin datang lebih awal." Jawabnya sambil mempersilahkan lelaki itu duduk.


"Kurasa kau benar.." Ucap laki laki ini. Ia menarik bangkunya dan duduk di meja hadapan Bunga.


"Apa kau kesepian setelah kekasihmu pergi?" Ujar laki laki ini.


"Tentu... Aku bahkan masih sangat merindukannya..." Seru Bunga setelah menegak minumannya.


"Bukankah tidak baik jika kekasihmu baru beberapa hari pergi dan kau malah bertemu pria lain... Kekeke."


"Kau benar sekali Reyhan. Tapi kurasa tak masalah jika aku bertemu denganmu.." Jawab Bunga dengan tersenyum ke arahnya.


"Hahaha... Pasti pacarmu yang sialan itu sudah cerita banyak hal tentangku kepadamu ya?" Ujar Reyhan.


"Mungkin iya atau mungkin tidak.." Guman lirih Bunga. Senyuman jelas terlihat dari wajah cantik gadis ini.


"Kekeke... Kurasa kau gadis yang cepat belajar ya... Hahaha." Suara Reyhan di sela tawanya.


"Tentu... Aku belajar dari kesalahan dan pengalaman." Timpal Bunga.


"Bagus kalau begitu... Jadi tidak masalah jika kita berteman." Sahutnya.


"Berteman?"


"Iya." Ucap Reyhan.


"Baiklah..." Jawab Bunga.


"Lalu untuk apa kau ingin bertemu denganku?" Tambah Reyhan.


"Ada hal yang ingin aku tanyakan padamu?" Seru Bunga dengan wajah yang serius.


"Kau adalah gadis yang unik dan mempunyai kemampuan menganalisa seseorang dengan baik." Puji Reyhan.


"Kau tahu kan... Ketika aku bersamanya dalam beberapa hari ini, dan aku bertanya padanya tentang siapa aku sebenarnya. Namun kekasihku itu menjawabnya dengan sesuai yang ia ketahui. Dan kemarin aku bertemu dengan sahabatku Yunita Novianti atau Nita, tentu kau tahu apa yang telah disampaikan olehnya kepadaku." Kata Bunga dengan penuh keyakinan.


"Apa ini sebuah pernyataan atau pertanyaan?" Ucap Reyhan. Namun ekspresi wajahnya telah berubah menjadi sedikit tegang.


"Silahkan kau artikan sendiri... Yang jelas sekarang aku ingin penjelasan darimu." Serunya.


"Kekeke... Kau tahu Bunga. Kau mempunyai kemampuan mengintimidasi lawan bicaramu, dan kau juga pandai menyembunyikan ekspresi aslimu. Tapi kau salah dalam satu hal." Ucap Reyhan.


"Apa itu...?" Tanya Bunga sambil mengernyitkan alisnya.


"Hahaha... Kebenaran." Jawab Reyhan.


"Maksudmu?" Suara Bunga yang semakin bingung.


"Kau bisa mengintimidasi lawan bicaramu dan kau memiliki kemampuan analisa yang bagus. Tapi... Bagaimana kalau itu adalah rencana dari lawanmu...?" Jelas Reyhan dengan senyum kemenangan.


Bunga berubah menjadi bingung, ia yakin bahwa tadi ia sempat membaca cara berpikir Reyhan, namun sekarang dirinya yang di buat bingung dengan kata kata Reyhan.
Ia tahu bahwa orang ini begitu pandai bermain teka teki dan tipuan, namun ia tidak bisa menebak jalan pikirannya.
Apa yang dipikirkan, ekspresi wajahnya, tingkah laku dan gerakan tubuhnya serta suara hatinya, tak bisa ditebak. Ini mirip ketika kau ingin pergi ke selatan tapi melangkahkan kaki ke utara.


"Hahaha..." Tawa Reyhan pecah melihat ekspresi kebingunan dari temannya itu.


"Sudah tidak usah dibahas lagi." Gerutunya yang masih bingung.


"Lalu apa yang kita bahas?" Seru Reyhan dengan tersenyum.


"Kau dan Nita." Jawabnya Tegas.


"Bukankah temanmu itu sudah menjelaskan semua dan segala hal padamu. Jadi seharusnya tak perlu ada lagi yang kau tanyakan." Ungkap Reyhan.


****


Sehari sebelumnya.


Nita yang waktu itu setelah bertemu dengan Reyhan memilih untuk pergi ke rumah temannya, Bunga. Ia ingin bercerita dan berbagi kesedihan saat ini, sebab ia tak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.
Dan ketika sampai dirumah sahabatnya itu ia melihat mobil salah satu sahabat lainnya disana. Ia lalu mengetuk pintu rumah dan langsung disambut oleh Bunga.


Saat itu Bunga sangat heran dengan Nita, wajah sahabatnya ini begitu sedih dan pucat, tak ada sinar cerah yang setiap hari menghiasi wajah sahabatnya ini.
Ia pun mempersilahkan Nita untuk masuk dan menyuruhnya duduk di ruang tamu bersama dengan Merlin, yang saat itu juga ada di rumahnya.
Ekspresi Merlin hampir sama dengan Bunga, ketika melihat Nita datang dengan wajah sedih, dan pucat. Seperti habis di terjang oleh sebuah badai.


"Ada apa Nita?" Tanya Merlin sambil memeluk sahabatnya itu.


Nita yang duduk dan mendapat pelukan hangat dari sahabatnya itu hanya bisa diam. Matanya berkaca kaca, hatinya sangat sedih serta tinggal menunggu waktu saja agar air matanya segera tumpah.


"Ini minumlah dulu..." Ujar Bunga yang datang dari dapur dan membawa minuman untuk sahabatnya.


"Terimakasih..." Ucapnya lirih.


"Ceritakan pada kami apa yang sebenarnya terjadi... Hingga bisa membuatmu seperti ini?" Seru Bunga yang duduk di sebelah kanan Nita, sedangkan Merlin berada di samping kiri dari Nita.


Nita terdiam dan menatap sahabatnya satu per satu. Ia bersyukur disaat seperti ini mempunyai sahabat seperti mereka. Sahabat yang takkan ingin ia tukar dengan apapun jua.
Ia kembali menghela nafas dan menyiapkan mentalnya. Kemudian dirinya bercerita tentang masa lalu dirinya bersama Reyhan. Ia menceritakan semua hal dengan detail kepada kedua sahabatnya ini, hingga tak ada satu kata pun yang terlewat olehnya. Namum di akhir cerita itu, ia sudah tak mampu lagi membendung air matanya. Cerita ini berakhir dengan suara tangis dan akhir mata dari Nita.


Sedangkan Bunga, dan Merlin hanya terdiam. Mereka berusaha menenangkan sahabatnya, namun mereka juga tidak tahu jalan keluar dari permasalahan sahabatnya ini. Hingga ketiga gadis ini saling berpelukan dan memeluk sama lain sebagai simbol mereka berdua juga merasakan apa yang sedang dirasakan sahabatnya, Nita.


****


"Kau sudah paham... Lalu untuk apa kau ingin bertemu dan membahas hal ini denganku." Ujar Reyhan kepada Bunga.


"Tapi aku juga ingin mendengarkan penjelasan darimu.." Kata yang keluar dari mulut Bunga.


"Terserah. Tak ada yang perlu dijelaskan." Jelas Reyhan yang kemudian pergi meninggalkan Bunga.


Sementara Bunga hanya duduk terdiam tanpa bisa melakukan apa apa. Sebenarnya ia ingin sekali membantu dua orang yang sedang bermusuhan ini, namun ia dihadapkan pada sikap egois masing masing dari mereka. Perbincangan dengan Reyhan tak menghasilkan apa apa, tak ada informasi yang ingin ia ketahui berhasil di dapatkan, semua ini berakhir dengan percuma.


*****


Nita yang beberapa hari terakhir terlihat murung ini mencoba untuk menghapus kesedihan yang ada di hatinya. Ia ingin pergi jalan jalan dan berbelanja sebagai sebuah pelampiasan, namun saat hendak keluar ia melihat rumah Reyhan yang tepat ada di sebelahnya dan hanya berjarak beberapa meter itu. Ia merasa sangat benci dan penuh amarah kepada Reyhan, ia sangat ingin mengusirnya pergi agar tidak mengganggu lagi ketenangan hidupnya.
Ia langsung mengendarai motornya dan pergi entah kemana.


Nampaknya berbelanja memang bisa sedikit mengobati rasa sesal penuh amarah dan rasa sakit hatinya. Seharian berjalan jalan dan berkeliling mall sedikit sejenak melupakan masalah yang tengah di hadapinya. Namun rasa itu nampaknya tidak akan bertahan lama.
Ada seseorang yang menghampiri dan menyapa dirinya ketika menikmati Makan siang di Mall.


"Kau...?" Ucap Nita dengan heran.


*****


TBC....

Senin, 15 Januari 2018

S.O.L.O (Story Of Love)

Bab 11

Beberapa Minggu Kemudian.


Sebuah hari yang indah, dengan cuaca cerah dan di minggu pagi. Tapi ada beberapa hal yang justru terjadi di hari yang indah ini.


"Sayang... Cepat nanti kita terlambat?" Teriak Tama yang duduk ruang tamu menanti kekasihnya berganti pakaian dan berhias.


"Iya sebentar sayang..." Teriak Bunga yang masih sibuk dengan hiasan wajahnya.


"Maaf ya nak Tama, anak ibu memang lama kalau berdandan." Seru suara halus yang mendinginkan suasana panasnya.


"Iya tidak apa apa kok tante.." Jawab Tama dengan nada yang tak kalah halus.


Hari ini adalah hari salah satu sahabat Bunga. Annisa Putri Choirun atau Nisa dan Indra melangsungkan acara resepsi pernikahan mereka, yang bertempat di sebuah hotel. Setelah sebelumnya beberapa hari yang lalu mereka melaksanakan acara Ijab Qobul. Calon mertua dan menantu ini masih sibuk menunggu Bunga yang masih sibuk tersendiri. Sudah hampir setengah jam kedua orang lintas generasi ini menunggu, hingga tergambar jelas rasa bosan dan sebal pada wajah masing masing.


"Ayo kita berangkat..." Ucap Bunga yang baru keluar dari kamarnya. Kali ini ia berbeda dari biasanya, terlihat lebih cantik dan anggun. Bahkan Tama menatapnya tanpa berkedip.


"Ehem ehem..." Suara Ibu Bunga yang membuyarkan lamunan Tama. Sementara itu Bunga hanya mampu tertawa melihat ekspresi pacarnya itu.


Mereka bertiga keluar dari rumah dan menuju tempat Resepsi Pernikahan.


****


Di Tempat lain Yunita dan Arifin berangkat bersama. Mereka pergi menggunakan mobil Arifin. Sedangkan orang tua dan adiknya telah berangkat terlebih dahulu. Hari ini Nita mengenakan pakaian yang sepasang dengan kekasihnya. Sebuah pakaian yang indah serta di balutan dengan warna merah muda yang semakin menampilkan keindahan dan kecantikan dirinya. Ditambah dengan sepasang sepatu yang menghiasi dan menjadi pijakan keindahan kakinya.


Sementara Arifin mengenakan pakaian dengan warna merah dan celana hitam dengan sepatu berwarna hitam gelap. Kedua pasangan ini nampak serasi sekali, bahkan sudah seperti terlihat bagaikan suami istri.


****


Pesta Pernikahan ini berlangsung dengan meriah dan khidmat. Semua orang memandang kedua pasangan tersebut yang menjadi tokoh utama dari sebuah kisah pendek dan bagaikan menjadi raja dan ratu semalam.
Nisa malam ini terlihat sangat cantik dan sempurna, dengan pakaian sebuah gaun yang berwarna putih yang melambangkan sebuah kesucian.
Demikian juga dengan sang mempelai pria yang menggunakan jas berwarna putih, dan celana putih. Hingga nampaknya keduanya seperti pasangan dari kerajaan langit yang suci.


"Tak kusangka Nisa menjadi secantik itu..." Bisik Merlinda ke telinga Bunga.


"Heem that's  beautiful natural." Seru Bunga. Merlinda, Bunga dan kekasihnya duduk menjadi dalam satu deretan bangku. Dan disamping kirinya duduk Nita dengan kekasihnya. Sementara Merlin tidak datang dengan pacarnya yang baru putus beberapa minggu lalu.


Tapi tiba tiba semua mata hadirin di pesta tersebut melihat ke tempat lain. Kali ini semua mata menatap seorang laki laki yang baru datang dan masuk ke hotel tersebut.


"Kenapa dia ada disini?" Ujar lirih Bunga.


"Nisa juga mengundangnya..." Sahut Nita di sela ucapan sahabatnya.


Tapi memang benar, Reyhan datang seperti sebuah Bintang baru. Mengalahkan semua pandangan yang tadi menatap kagum ke arah pasangan suami istri tesebut. Namun sekarang semua tatapan kagum dan takjub itu beralih pada Reyhan.


Reyhan datang dengan penampilan baru. Rambut panjangnya sudah tak lagi ada, ia juga sudah memotong dan mengganti model gaya rambutnya menjadi belah samping. Terlihat sangat rapi dan elegan.


Ia datang ke acara ini dengan menggunakan pakaian berupa jas yang berwarna hitam dengan corak berwarna kuning emas. Ditambah dengan celana warna hitam serta sepatu hitam yang mengkilat. Hal ini membuat dirinya terlihat seperti Bangsawan dari sebuah kerajaan. Apalagi sikapnya saat berjalan terlihat elegan dan angkuh, justru semakin memperkuat pesona akan dirinya.


"Aku tahu dia memang tampan... Tapi malam  begitu terlihat tampan dan mempesona. Oh Tuhan kuatkan diri hamba ini.." Suara lirih Merlin saat melihat Reyhan datang dan berjalan serta kini tepat duduk di sebelahnya.

Sementara Tama mengetahui teman lamanya itu juga datang, ia langsung meninggalkan Bunga untuk berpindah tempat duduk di sebelah Reyhan.

Sementara Merlin dan Nita menatap heran dengan ekspresi aneh saat pacar sahabatnya itu akrab dengan Reyhan, lelaki aneh namun tampan.

"Suatu saat akan aku ceritakan.." Ucap Bunga yang melihat ekspresi aneh dari kedua sahabatnya.

"Maksudmu apa?" Gerutu Merlin yang makin penasaran.

"Sudahlah. Kita nikmati dulu saja pestanya." Jawabnya.

****


Tiga hari kemudian.


Udara malam yang dingin dengan awan mendung menyelimuti langit malam ini dan hembusan angin yang bertiup seperti mengatakan bahwa hujan tak lama lagi akan tiba. Untuk di Negara Indonesia seharusnya waktu ini adalah musim panas, namun nampaknya bumi ini sudah terlalu tua dan rapuh hingga terkadang kita bisa merasakan air hujan di musim panas, dan juga kita bisa kekeringan di musim hujan.


Tidak ada yang tahu kenapa hal ini bisa terjadi, bahkan para manusia yang ahli pun sulit untuk menjelaskan hal ini dengan detail dan logis. Mereka hanya memberi sebuah pernyataan dan jawaban yang ingin kita ketahui.


Sebenarnya malam ini belum terlalu larut. Akan tetapi mungkin karena sebentar lagi hujan akan segera turun, jadi jalanan yang biasanya terlihat ramai dan sedikit macet kini terlihat lenggang dan sedikit sepi. Namun masih banyak orang orang yang berlalu lalang di jalanan ini.


"Hei Robi... Apa kau benar orang ini akan lewat sini?" Tanya seseorang kepada temannya.


"Aku yakin sekali, bahkan sangat yakin." Jawabnya ke orang yang duduk di sebelahnya dan menyetir mobil.


"Tapi apa kau yakin akan melakukan ini Arifin?" Kata orang yang duduk di jok belakang.


"Iya... Kita harus memberinya pelajaran." Sahut salah satu yang ada di jok belakang juga.


"Aku mengandalkan kalian semua." Ujar Arifin.


Entah apa yang akan dilakukan keempat orang ini, namun mereka seperti membuat rencana untuk melakukan sesuatu hal yang buruk. Dan seketika sampai di suatu jalan, mobil yang mereka tumpangi menepi dan berhenti sambil mata mereka mengamati sesuatu.
Sudah berapa menit mereka menunggu disitu, terdiam duduk di dalam mobil dengan waspada, seperti seekor Harimau yang sedang mengincar mangsanya.


"Lihat itu..." teriak salah satu temannya yang menunjukkan seseorang yang melewati mobil mereka.


Arifin pun menyalakan mesin mobilnya dan memacu mengejar si pengendara sepeda motor yang baru saja lewat. Dan butuh waktu lama bagi Arifin mengejar dan mengikuti orang itu. Ia pun tepat berada di belakang jarak orang itu dan tetap menjaga jarak. Hingga kemudian mobilnya melewati si pengendara dan berhenti tepat di depannya, pada saat jalanan yang sepi.


Sedangkan si pengendara tadi langsung mengerem motornya hingga hampir terjatuh. Ia lalu berhenti dan menatap mobil yang berhenti seenaknya di depannya.
Saat itulah keempat orang ini turun dari mobil dan menatapnya dengan tajam.


Si pengendara ini hanya terdiam melihat empat orang berjalan ke arahnya, ia pun langsung membuka helmnya dan turun dari motornya.


"Aku hanya mengatakan ini sekali! Pergi dari Kota ini dan hidupmu akan tenang, tapi jika kau bersikeras maka jangan salahkan kami kalau kami harus membuatmu terluka." Teriak Arifin dengan nada keras, layaknya pria sejati.


"Benar Bung, lebih baik kau pergi atau menyesal." Tambah salah satu temannya yang bertubuh paling besar diantara keempat orang ini.


Sementara yang dua lainnya bertubuh kekar namun dengan tinggi yang sedang, akan tetapi ada salah satu diantara mereka berpenampilan layaknya seorang tentara. Dengan rambut khas dan badan yang identik mirip prajurit.


"Hahaha.... Kalian terlalu bodoh. Kenapa aku tidak terkejut dengan apa yang kalian rencanakan dan yang akan kalian lakukan." Ujar pria yang ada di hadapan ke empat orang ini. Dengan pakaian serba hitam, ia seperti mengadopsi kegelapan dalam dirinya.


"Diam kau Reyhan. Kau pikir kami tidak tahu siapa kau ini!" Teriak dan hardik Arifin.


"Tentu saja kau dan teman teman bodohmu itu tahu siapa aku yang sebenarnya. Justru ini adalah hal yang bagus bukan!" Ujar Reyhan.


"Benar Bung.. Pergilah dari kota ini. Maka kau akan selamat." Ucap salah satu orang yang ada disebelah kanan Arifin.


"Hahaha... Kau pikir kami akan takut dengan cerita legenda waktu kau masih kuliah dulu! Lebih baik pergi saja!" Sahut orang yang berpenampilan layaknya tentara ini.


"Lalu apa mau kalian? Orang bodoh!" Ujar Reyhan. Kali ini matanya memancarkan sebuah tatapan tajam dan menakutkan.


"Ayo kita beri pelajaran saja orang ini!" Teriak salah satu orang yang bertubuh tinggi. Arifin dan teman temannya pun berlari ke arah Reyhan untuk menghajarnya.


Sementara Reyhan menatap orang orang yang berlari sambil menyeringai. "Tidak ada perkelahian malam ini, hanya ada sebuah pembantaian."


****


Nita duduk di kursi depan rumahnya, hari ini atau lebih tepatnya malam ini mendadak ia merasakan sesuatu yang tidak enak di dalam hatinya. Ia seperti merasakan sebuah rasa takut dan khawatir, apalagi udara malam yang dingin semakin memperburuk suasana hatinya.
Beberapa kali ia mengirim pesan dan menelpon kekasihnya, namun tidak ada balasan satu pun. Ia lalu masuk ke dalam rumah karena air hujan sudah datang malam ini. Dia juga berdoa agar tidak terjadi sesuatu pada kekasihnya, Arifin.


Gerimis kecil malam ini membasahi beberapa orang pemuda yang tergeletak dan terbaring lemah, sisa nafasnya masih ada. Namun tenaga mereka sudah tidak ada lagi, dengan luka memar, dan wajah yang lebam. Nampaknya keempat orang ini babak belur dan terluka parah, hingga tak ada satupun dari mereka yang mampu untuk berdiri.


"Bukankah aku tadi mengatakan, bahwa ini bukan perkelahian. Tapi pembantaian." Ucap Reyhan yang masih berdiri kokoh. Meski ia juga mengalami luka memar di bagian tubuhnya namun ia bisa berdiri tegak. Mengalahkan orang orang yang berbadan lebih besar darinya.


Sementara Arifin bersama teman temannya yang tergeletak lemah itu hanya menatap tajam ke arahnya. Ia dan teman temannya tidak percaya bisa dikalahkan oleh orang yang berbadan lebih kecil darinya saat ini, apalagi ini pertarungan empat lawan satu, justru pihaknya yang unggul dan harus menang, bukan sebaliknya.


"Jika kalian pernah mendengar cerita tentangku di masa lalu, seharusnya kalian takkan mengganggu ku dengan hal bodoh dan tidak berguna ini. Kalian para sampah yang menyedihkan." Ujar Reyhan dengan tatapan tajam dan menakutkan. Ia berbicara dengan gayanya yang meremehkan empat orang yang terbaring lemah ini.


"Tapi kami tidak tahu bahwa cerita itu benar..." Ucap salah satu dari mereka di sela erangan rasa sakitnya.


"Tentu, aku tak menyalahkan kalian akan hal itu. Namun yang harus kalian ketahui adalah bahwa terkadang dongeng atau legenda berasal dari sesuatu yang nyata dan benar." Jelasnya.


"Lalu apa yang akan kau lakukan pada kami sekarang..." Suara Arifin Serak.


"Kali ini aku akan membiarkan kalian. Namun jika lain kali kalian mengangguku, maka akan benar benar terjadi pembantaian!!! Kalian pikir kalian adalah Pemangsa, tapi sebenarnya kalian adalah Mangsa. Kekekeke...." Serunya dengan tawa yang menakutkan.


Reyhan masih menatap orang orang ini dengan tatapan yang menakutkan, ia melihat dan menatapnya satu per satu. Mulut besar dan suara lantang yang tadi di dengarnya dan berteriak kepada dirinya sudah tidak lagi di dengar olehnya. Sekarang hanya nampak sebuah tatapan putus asa dari keempat orang ini.


Akan tetapi Reyhan tak puas akan hal ini, ia sudah tahu identitas dan keburukan semua lawannya. Kemudian dirinya mengatakan satu per satu kebusukan, dan tingkah laku orang orang ini. Dan tentu saja ke empat orang ini terkejut setengah mati, seperti ada petir yang menyambar tubuh mereka saat ini.
Tak terkecuali dengan Arifin, ia mendengar Reyhan berbicara tentang kelakuan buruk, serta kebusukannya dan semua hal buruk dirinya dan orang tuanya.


"Asal kau tahu Arifin bodoh! Jika kau mengganggu ku lagi, akan aku pastikan kau dan semua keluargamu akan kehilangan segalanya dan terusir serta tersisih dari dunia ini." Ancam Reyhan. Ia kemudian pergi meninggalkan ke empat orang ini.


Keesokan harinya.


Nita yang berada di ruang tamu kekasihnya ini sedang menunggu kekasihnya keluar dari kamar. Ia tahu dari temannya bahwa Arifin masuk rumah sakit karena sebuah insiden perkelahian. Hari ini ia langsung mengunjungi rumahnya serta membawa beberapa buah buahan.


"Maaf kau menunggu lama ya sayang.." Tegur Arifin yang berjalan ke arahnya. Luka memar dan lebam nampak di sekujur tubuhnya.


Nita yang melihat hal itu bersedih dan langsung meneteskan air mata. Ia sebenarnya ingin bertanya pada kekasihnya itu tentang siapa yang melukainya seperti ini. Namun Arifin tidak ingin mengatakan atau membicarakan hal ini. Matanya seperti menyembunyikan sesuatu hal kepadanya.


Dan sebagai wanita secara naluri ia tahu betul apa yang membuat kekasihnya ini babak belur. Ia tidak tahu secara detail dan logis, namun perasaan dan hatinya mengatakan hal itu.


*****


Reyhan baru bangun tidur dari malam yang panjang, ia lalu berjalan ke pintu depan rumahnya untuk membersihkan rumah serta halamannya. Namun baru saja membuka pintu ia melihat sebuah amplop surat yang berada dan tergeletak di depan pintunya. Kemudian diambilnya amplop itu dan dibukanya. Ia sedikit tersenyum saat membaca isi dari amplop tersebut.


Dua jam telah berlalu, dan ia sudah pergi ke suatu tempat setelah menerima amplop tersebut. Hingga ia berada di tempat itu, langkah kakinya seperti tahu dimana orang yang berada mengirimnya surat sekarang.
Dari jauh ia bisa melihat orang itu dengan jelas, ia berjalan ke arahnya langka demi langkah hingga sampai tiba di hadapannya.


"Aku harap kau ingin bertemu denganku bukan untuk mengatakan atau membicarakan hal bodoh dan tak berguna." Sapa Reyhan.


Namun seorang gadis berdiri dan menatapnya dengan sinis. Dari tatapan matanya saja sudah terlihat sebuah amarah yang maha dahsyat. Ia hanya mengatakan sedikit hal. "Apa yang kau lakukan pada Arifin dan untuk apa kau kembali lagi kesini!"


"Nampaknya setelah lama kita tidak bertemu dan berbicara. Kau telah mengalami kemajuan mental yang hebat." Ujar Reyhan.


"Terserah apa katamu! Yang jelas jangan kau ganggu aku, dan sahabatku juga kekasihku." Ucap Gadis ini setengah membentak.


"Kekeke... Nampaknya kau salah paham. Coba bersihkan matamu dan lihat baik baik." Ujarnya.


"Apa kau pikir dengan menghajar dan memukul, serta mengancam pacarku akan membuat diriku kembali padamu kak! Kau salah kalau begitu." Suara Gadis ini dengan penuh amarah.


"Kekeke.... Kurasa kau masih tetap menjadi Gadis Bodoh, walau sekarang kau jauh lebih pintar. Asal kau tahu... Bahwa kekasih bodohmu itu yang ingin menghajarku, namun seperti dia salah perhitungan." Jawabnya.


"Aku tidak peduli siapa yang salah! Yang aku inginkan kau jangan lagi mengganggu ku dan hadir di hidupku."


Reyhan berjalan mendekatinya dan hanya berjarak dua langkah. Ia menatap matanya kemudian tersenyum sambil mengatakan sesuatu dengan sangat jelas. "Kau salah Nit... Aku kembali lagi kesini bukan untukmu, aku hanya mengambil sisa kenangan yang tersisa dariku di Kota ini."


Nita ingin sekali marah saat ini, tapi ia harus berpikir jernih, ia tidak mau rasa amarah mengendalikan tubuhnya. Beberapa kali ia mengambil nafas untuk menenangkan dirinya.


Tapi saat itulah Reyhan berbalik arah melangkah pergi meninggalkan dirinya. Ia hanya mendengar sedikit kata darinya. "Bagiku kau tetaplah Gadis bodoh yang tidak tahu apapun."


Setelah itu ia melihat Reyhan berjalan semakin jauh, dan jauh hingga tidak terlihat lagi oleh kedua bola matanya. Sama seperti masa lalu saat dimana ia melihatnya berjalan pergi untuk terakhir kalinya waktu itu.


TBC....

S.O.L.O (Story Of Love)

Bab 12

Aku terbangun...
Kulihat sinar mentari menyinari bumi
Menampakkan keindahan yang sejati
Sebagai bukti nyata dari sang Pencipta


Ku kira diri ini berhalusinasi
Atau mungkin sedang bermimpi
Karena ku lihat gadis berparas cantik
Cantik dan indah bagaikan bidadari


Entah apapun ini
Atau apa yang telah terjadi saat ini
Ku nikmati saja waktu yang berharga
Dengan memandangi kecantikan bidadari


Andai ini memang benar terjadi?
Dan ini bukanlah sebuah mimpi
Aku yang sedang berada di nirwana
Dan mengagumi keindahan bidadari surga


Maka sungguh bahagia aku
Hidup kekal abadi bersama bidadari
Melewati waktu yang indah setiap hari
Dengan selalu bersama Yunita Novianti


*****


Yunita Novianti


Tugas kuliah memang tidak akan pernah ada habisnya, sampai kita lulus dan menjadi sarjana. Dan setiap hari tugas tugas itu selalu bertambah, tanpa kita tahu betapa banyak waktu yang di buang untuk menyelesaikan tugas ini. Seperti hari hari biasanya aku menghabiskan waktu ku dengan pergi ke taman kampus, namun saat itu aku tahu beberapa bangku di taman telah penuh terisi oleh mahasiswa fakultas lain.


Dan bagi mahasiswi semester baru seperti ku, harus siap mencari tempat duduk yang lain di taman ini. Hingga seketika itu aku bisa melihat ada sebuah bangku taman yang kosong dan sepi, tepat berada di bawah pohon yang besar. Tentu saja hal ini sangat menyenangkan.
Aku pun berlari kecil kesana kemudian langsung duduk dan menjernihkan kepala ku dari beberapa tugas kuliah yang menumpuk. Tak cukup waktu aku menikmati udara yang sejuk dengan suasana yang tenang dan nyaman hingga tiba tiba aku mendengar seseorang orang yang berkata kasar kepadaku.


Saat itu dia menatapku tajam, benar benar sesuatu yang sangat menakutkan. Meski saat itu aku dalam sekejap sempat terpesona oleh ketampanan wajahnya, akan tetapi hal itu tak berlangsung lama. Ia kembali berkata kasar padaku dengan nada yang sedikit tinggi.


"Apa kau tidak mendengar kata kataku!" Ucapnya saat itu.


Saat itulah aku hanya dapat menundukkan kepala dan meminta maaf padanya, aku tahu siapa orang yang berdiri dan berkata kasar di hadapan ku ini. Meskipun aku masih mahasiswi baru, namun aku tahu siapa dia. Namanya sering disebut oleh teman temanku dan beberapa Dosen yang mengajar di kelasku.


Namanya adalah Reyhan. Dia adalah mahasiswa semester tiga, ia terkenal dan menjadi bahan pembicaraan anak anak kampus karena kepintaran dan kejeniusan otaknya, dan ditambah dengan parasnya yang tampan. Namun diantara semua itu juga terselip sesuatu hal yang menakutkan pada dirinya, yaitu tentang ucapan yang selalu kasar serta tidak pernah menghormati orang lain.


Setelah itu aku berlari kecil dan pergi meninggalkannya, dalam hatiku terdalam saat itu aku berdoa agar tidak bertemu lagi dengan laki laki seperti itu. Setelah berlari akhirnya sampai aku juga di kelasku, aku langsung duduk di bangku ku saat itu, aku yakin teman di kelasku menatap heran dengan tingkahku saat ini, semua itu terlihat dari sorot mata mereka semua.


"Ada apa denganmu?" Tegur temanku yang melihat tingkah aneh dariku.


"Tidak apa apa kok..." Jawabku dengan berusaha setenang mungkin.


"Dia itu habis ketemu bintang kampus kita..Hahaha" Teriak salah satu temanku, Andien. Teman yang cukup akrab dan baik menurutku.


"Maksud kamu apa sih?" Tanya Risti yang bingung dengan ucapan temannya itu.


"Biar aku jelaskan..." Ujar seorang pria yang tiba tiba datang. Pria yang tinggi dan lumayan pintar di kelas kami.


"Cepat... Jangan buat aku mati penasaran nih!!" Seru Risti. Risti adalah gadis yang baik dan cantik. Tapi ada beberapa saat ketika mulutnya menjadi sangat tajam seperti pisau dapur.


"Dia tuh habis bertegur sapa dengan Reyhan. Cowok tampan yang juga licik itu." Sahut Andien sesaat sebelum Arifin menjelaskan sesuatu.


Saat itu semua orang yang ada di kelas menatapku dengan heran, mereka memandangi ku dengan tatapan sedih. Sementara aku saat ini hanya mampu menahan air mataku agar tidak tumpah.
Namun sesaat kemudian Arifin menenangkan dan menyejukkan hatiku kembali. Dia benar benar pria yang bisa menghibur wanita.


****


Lelah rasanya berjam jam berdiri dan menunggu angkutan umum datang. Sudah hampir gelap dan aku masih berdiri di depan pintu keluar kampus. Hari ini adalah hari yang paling sial menurut ku, tadi pagi sepeda motor ku rusak, siang tadi ketemu kakak tingkat yang menakutkan dan sore ini telat untuk pulang.


"This bad day..." Gerutu ku kesal.


Namun nampaknya semua itu belum berakhir. Tiba tiba ada seseorang yang mengendarai motor berhenti di depanku. sebuah motor yang mewah dan mahal. Tapi siapa orang ini aku tidaklah tahu, wajahnya tertutup oleh helm yang dipakainya, serta pakaiannya serba warna hitam. Saat itu aku hampir lari, namun orang itu memanggil ku. Seperti suara yang pernah aku dengar sebelumnya.


"Apa yang kau lakukan disini gadis bodoh?" Kata kata darinya saat menyapa ku.


"Aku menunggu angkot kak.." Ucapku dengan suara halus dan berucap sesopan mungkin.


"Hahaha... Orang bodoh macam apa yang menunggu angkot di jam sekarang." Tawanya di sela ucapan mengejek ku.


Saat itu aku memang marah dan ingin pergi dari hadapannya. Akan tetapi semua yang di ucapkan olehnya memang benar. Tidak mungkin di jam seperti ini ada angkot yang lewat.


Dia pun memberikan tawaran untuk mengantar ku pulang, namun dengan halus aku menolak tawaran itu. Meskipun aku tahu siapa dia, namun aku tidak tahu tentang sifatnya, lagi pula saat ini dia lah yang menjadi lebih menakutkan bagiku daripada setan atau hal lain.
Tapi sekali lagi ia berbicara dan memberiku tumpangan. Namun aku masih menolak tawarannya itu, tapi dengan tatapan tajam matanya serta sentuhan tangan yang halus membuatku terpesona hingga aku menerima tawaran darinya.


"Seharusnya kau tidak boleh percaya padaku begitu saja gadis bodoh..." Ucapnya di tengah jalan.


"Apa maksudnya kak?" Tanyaku yang heran dengan ungkapan darinya itu.


"Hahaha.... Bagaimana kalau aku tidak mengantarmu pulang, aku menculik dan memperkosa mu, lalu ku buang dan ku potong potong tubuhmu secara terpisah." Jelasnya.


Saat itu aku tahu bahwa mungkin semua itu benar dan terjadi. Aku pun bergerak gerak dan memintanya untuk berhenti serta menurunkan ku disini saja.
Sesaat kemudian ia menepikan motornya dan aku langsung turun dan hendak lari. Namun usahaku gagal saat itu, tangannya telah terlebih dahulu memegang pergelangan tanganku.
Saat itu aku memohon agar dia melepaskan diriku. Namun aku hanya mendengar suara tawa yang keluar dari mulutnya.


"Tenanglah Gadis bodoh... Aku takkan berbuat hal itu padamu. Aku tadi hanya mengingatkan dirimu saja." Ucapnya yang seperti tahu dan melihat ketakutan dari wajahku.


Lantas ia menyuruhku untuk naik motornya lagi, sebenarnya aku sudah tidak mau. Namun karena jarak rumahku masih jauh terpaksa aku menuruti kata katanya.
Di sisa perjalanan kami tidak banyak bicara, sebab tidak ada hal yang bisa menjadi topik pembicaraan kami. Aku saat itu hanya berdoa agar sampai selamat sampai dirumah.
Hingga tibalah kami di halaman rumahku, sebenarnya saat itu aku ingin mengucapkan terimakasih, akan tetapi ia langsung berbalik arah dan pergi tanpa menerima ucapan terimakasih dariku.


****


Setelah itu kami sering bertemu atau berpapasan lebih tepatnya, namun tidak ada yang terjadi. Ia tidak pernah memandangku dan aku juga terlalu takut untuk mengucapkan salam terimakasih yang tertunda.
Namun untuk beberapa saat pembicangan kami terjadi lagi, saat itu ketika aku menerima telpon dari pacarku yang memutuskan hubungan kami secara sepihak. Ketika itu aku hanya mampu menangis dan bersedih di sebuah bangku taman kampus kami. Aku ingin meluapkan kesedihanku dengan tangisan saat itu, beberapa tisu yang aku beli sudah habis. Hingga aku mendengar suara yang memanggil ku dengan kasar.


"Apa yang kau lakukan Gadis bodoh! Apa kau tidak tahu atau lupa bahwa ini tempatku." Ujarnya saat itu. Entah mengapa kata kata kasarnya tak membuat hatiku terluka saat itu, mungkin itu karena aku sedang mengalami rasa sakit yang lain.


Mendengar ucapan darinya aku berdiri dan hendak pergi, namun ia mencegahku untuk pergi dan meminjamkan tempat ini padaku saat ini. Saat itulah aku bersyukur, dan ia pun berpaling pergi dariku. Akan tetapi baru beberapa langkah ia berjalan ia berbalik menghadapku dan melemparkan sapu tangannya ke arahku.


"Kembalikan lagi padaku setelah kau cuci bersih." Ucapnya sambil melemparkan sapu tangan itu dan berlalu pergi.


Aku langsung mengambil sapu tangan itu dan menghapus air mataku seketika. Bau harum dan wangi yang keluar dari sapu tangan ini langsung menenangkan perasaan hatiku yang luluh lantah saat ini.


Mungkin dari sinilah aku mulai akrab dan mengenal diri Reyhan secara dekat. Setelah mengembalikan sapu tangan itu kepadanya, hubungan kami mulai akrab, beberapa kali ia pergi mampir ke kelasku untuk mengajakku pergi ke kantin atau sekedar bersantai dan ngobrol di taman.
Sebenarnya Reyhan bukanlah laki laki yang buruk atau jahat, semakin lama kau mengenalnya, semakin kau tahu bahwa dia sebetulnya laki laki yang baik. Semua kejelekannya itu hanya di dapat dari pengamatan saja.


Tentu saja, dengan penampilan yang selalu berpakaian serba hitam, layaknya seorang penyihir yang mengadopsi kegelapan, serta gaya dan tingkah laku yang sesukanya sendiri pasti membuat semua orang berpikir hal buruk padanya. Padahal semua itu tidaklah benar, semakin lama dekat dengannya, semakin nyaman pula aku berada di sampingnya. Aneh memang, jika kau merasa nyaman saat dekat dengan seseorang yang menakutkan seperti Reyhan.


TBC...

S.O.L.O (Story Of Love)

Bab 9

Reyhan Alfiansyah Utama #3

Setelah itu kedekatan dan hubungan antara Reyhan dengan si gadis makin akrab. Entah apa yang mendasari kedua orang yang berbeda sifat ini bisa menjadi satu. Namun disaat itulah Reyhan menyadari bahwa dirinya mulai jatuh cinta dengan gadis ini.
Gadis yang bodoh dan cerewet serta bawel, entah kapan Reyhan menyadari hal ini. Namun semuanya terkadang datang dengan cara tersendiri.


"Apa kau masih bersedih?" Ucapnya yang bertanya pada Si Gadis yang masih bersedih. Keduanya telah selesai menonton film di bioskop mall tersebut.

"Sudah mendingan kok... Tapi aku kecewa berat dengan film tersebut." Jawab Gadis ini dengan lugu.

"Maksudnya?" Tanyanya dengan heran.

"Iya.... Kenapa harus mati?! Kenapa si tokoh utama harus mati.." Seru Gadis ini dengan nada kesal dan sebal. Matanya terlihat masih berkaca kaca layaknya orang menangis. Tapi disaat itulah keindahan muncul dari kedua bola matanya.

"Hahaha... Kau benar benar bodoh dan aneh.." Suara tawanya yang mengejek gadis ini. Namun untuk beberapa saat ia diam dan menatap wajahnya dengan dalam dan penuh makna.

Namun kemudian ia memalingkan wajahnya ke arah lain setelah Gadis ini menyadari bahwa Reyhan menatapnya tanpa berkedip. Ia pun hanya tersenyum manis melihat sifat Reyhan.
Keduanya memustuskan untuk makan di mall itu sebelum pulang. Setelah itu kedua orang ini pulang dan berpisah di pelataran parkir mall.

"Ya udah aku pulang dulu?" Ucap Gadis ini.

"Iya hati hati di jalan.." Kata Reyhan dengan melihat Gadisnya.

Tak berselang lama Gadis ini memacu motornya dan pergi meninggalkan Reyhan yang masih ada di pelataran parkir mall itu. Reyhan dan Gadis ini sering bertemu, namun dirinya tidak pernah mengantarkan Si Gadis pulang. Ia selalu beralasan bahwa dirinya ada urusan atau hal lain yang harus dikerjakan.
Meski awalnya Gadis ini tidak apa apa dengan hal itu, namun secara naluri ia tahu bahwa teman laki lakinya itu menyembunyikan sesuatu kepadanya.


****


Hingga tibalah  Reyhan di semester akhir kuliahnya. Ini adalah tahun terakhir dia kuliah di kampus ini. Dan setelah ini dia berencana akan mengembangkan kemampuannya dalam bidang seni.
Reyhan memang seorang mahasiswa jurusan seni. Ia mengambil fakultas seni bukan tanpa alasan. Sebab dirinya menyukai hal hal yang berbau lukisan. Meski terkadang ia adalah orang yang mudah berganti obyek, namun menurutnya seni itu adalah sebuah panggilan jiwa, seperti orang yang mengabdikan diri kepada Tuhannya.


Namun di tahun inilah hubungannya dengan si Gadis renggang. Ia terlalu sibuk dengan semua kegiatan kuliah hingga ia hanya punya sedikit waktu dengan Si Gadis.
Awalnya ini hanya sebuah hal yang sepele. Namun bagaikan dedaunan yang selalu di tumpuk secara terus menerus, hal ini menjadi hal merepotkan.


Gadis yang sudah sangat dekat dengan Reyhan ini dan tidak tahu kejelasan hubungannya dengan Reyhan. Pada awalnya ia tidak mempersalahkan hal itu, namun semakin lama khususnya beberapa bulan terakhir ini Reyhan tidak pernah mengajaknya pergi atau hanya sekedar memberinya kabar atau bertanya kabar tentang dirinya.
Ia merasa begitu kesal dan bodoh, ia juga sempat berpikir apakah Reyhan sudah bosan terhadap dirinya. Namun dengan cepat ia menghapus pikiran tersebut.


Ia sebenarnya tahu bahwa ini tahun terakhir Reyhan berkuliah, dan tentu sebagai mahasiswi ia juga tahu betapa sibuk serta tugas yang menumpuk anak kuliah di tahun terakhir. Namun apakah dirinya tidak berarti hingga ia tak ada waktu untuk memberi kabar.


****

Mei.

Bulan kelima dalam dua belas bulan. Dan seperti bulan bulan sebelumnya, bulan ini terasa seperti bulan biasa. Sebenarnya di bulan inilah hujan sudah jarang untuk turun dan suasana panas di siang hari mulai bertambah panas.
Namun bulan Mei tidak hanya membawa suasana dan hawa panas saja, namun juga ada udara serta angin yang berhembus dengan lembut dan sejuk.

Dan saat ini Reyhan sedang menikmati panas dan teriknya siang hari ini, serta menikmati sejuknya udara taman ini. Namun sepertinya  dirinya sedang menunggu sesuatu atau seseorang. Hingga tiba tiba sebuah senyuman tercetak dari bibirnya.


"Lama sekali sih?" Ucap Reyhan yang berdiri dari tempat duduknya. Ia menyambut seorang Gadis dengan kata kasar. Sebab Reyhan bukanlah tipe orang yang betah dalam hal menunggu.


Gadis ini hanya diam dan menatap tajam ke arahnya, berbeda dengan tatapan selalu yang ia tunjukkan sebelumnya. Saat ini terlihat dengan jelas bahwa ia sedang marah.


"Apa yang terjadi?" Tanya Reyhan.


"Tidak apa apa. Aku yang seharusnya bertanya." Ujar sang Gadis.


Reyhan tahu bahwa ada situasi yang buruk saat ini, ia dapat merasakan hal ini, namun dirinya tidak dapat mencegah hal ini terjadi. Ia tahu bahwa suasana hati Gadis ini dalam keadaan yang sedang tidak baik.


"Lalu kenapa kau mengajak ku bertemu?" Suara tanya dari Reyhan.


"Aku ingin bertanya padamu kak?" Ucap lirih Gadis ini. Namun terdengar dari suaranya bahwa ia sedang bersedih atau kecewa.

"Silahkan saja... Selama yang kau tanyakan bukan hal bodoh atau tak berguna." Kata Reyhan dengan tenang.

"Kemarin temanku melihat kau pergi dengan seorang gadis, temanku melihat kau dan dia berbelanja dan sangat dekat.... Apa itu benar? Kak!" Suara halus namun terdengar sangat menyedihkan. Seperti sebuah awan mendung yang membawa air hujan.

"Iya kenapa?" Seru Reyhan dengan ekspresi yang tenang. Seperti tidak terjadi apapun.

"Sebenarnya ada hubungan apa kau dengan dia! Dan sebenarnya kau menganggap aku apa? Apa aku tak berarti untukmu?" Suara parau dan serak dari Gadis ini. Kedua matanya berkaca kaca, hingga kemudian ia tidak bisa membendung lagi air matanya dan pecahlah tangisnya.

Reyhan menatap Gadis ini dan berjalan mendekatinya, ia tepat berada di hadapan Gadis ini dan hanya dengan jarak setengah langkah, ia pun meletakkan tangan kanannya di kepala sang Gadis dan menggerakkan dengan lembut sembari mengelusnya.


"Itu semua bukan urusanmu... Dan bagiku kau sangat berarti." Suara Reyhan. Ia lalu berjalan melewati si Gadis dan akan pergi meninggalkannya.


"Kau tahu kak... Aku berharap ini tidak pernah terjadi. Dan aku berharap bahwa aku tidak pernah bertemu atau mengenalmu..." Ucap Gadis ini masih dalam tangisannya.


Reyhan yang sudah beberapa langkah berjalan pergi kemudian berhenti sesaat, entah kenapa tiba tiba langkahnya terhenti. Namun tanpa berbalik arah menghadap si Gadis, ia mengatakan sedikit hal kepadanya. "Maaf.. Dan semoga Tuhan segera mengabulkan doa mu itu."


Kemudian Reyhan melanjutkan langkah kakinya dan berjalan meninggalkan gadis yang tengah bersedih dan menangis itu di taman. Ia tidak ingin mengatakan apapun saat ini, sebab ia tahu bahwa hati Gadis ini akan menolak semua alasan yang ada. Ia pun lebih memilih diam.


Sejak saat itu, Reyhan tidak lagi terlihat oleh Gadis ini, ia tidak pernah melihat Reyhan setelah pertengkaran dengannya. Tempat duduk di bangku taman yang biasa ditempati juga kosong.
Namun dari beberapa berita yang tersebar bahwa Reyhan telah pergi dan memutuskan berhenti dari kampus. Dan sejak itulah Reyhan hilang di telan bumi, tidak ada siapapun yang tahu akan keberadaannya, meski itu teman sekelas atau sahabatnya juga.


Dan untuk si Gadis ini, ia berjanji untuk melupakan dan menghapus nama Reyhan dari hidupnya. Ia tidak akan mau lagi mendengar nama orang itu dan tidak peduli lagi padanya.


TBC....