Halaman

Rabu, 13 November 2013

simfoni hitam

- Simfoni Hitam -

karya : anasue

fb : ana sue

'Malam sunyi kuimpikanmu
Kulukiskan cita bersama
Namun s'lalu aku bertanya
Adakah aku di mimpimu
Di hatiku terukir namamu
Cinta rindu beradu satu
Namun s'lalu aku bertanya
Adakah aku di hatimu
T'lah kunyanyikan alunan-alunan
senduku
T'lah kubisikkan cerita-cerita gelapku
T'lah kuabaikan mimpi-mimpi dan
ambisiku
Tapi mengapa ku takkan bisa sentuh
hatimu
Bila saja kau di sisiku
Kan ku beri kau segalanya
Namun tak henti aku bertanya
Adakah aku di rindumu
T'lah kunyanyikan alunan-alunan
senduku
T'lah kubisikkan cerita-cerita gelapku
T'lah kuabaikan mimpi-mimpi dan
ambisiku
Tapi mengapa ku takkan bisa sentuh
hatimu
Tak bisakah kau sedikit saja dengar
aku
Dengar simfoniku
Simfoni hanya untukmu....
T'lah kunyanyikan alunan-alunan
senduku
T'lah kubisikkan cerita-cerita gelapku
T'lah kuabaikan mimpi-mimpi dan
ambisiku
Tapi mengapa ku takkan bisa sentuh
hatimu
T'lah kuabaikan mimpi-mimpi dan
ambisiku
Tapi mengapa ku takkan bisa sentuh
hatimu ...'

Aku telah menunggumu dalam penantian panjang yang tak berujung, kuberi kau segalanya, jiwa dan ragaku. Mengapa, kau menghilang bagai halimun pagi yang singgah hanya sesaat?

"Syifa ... " tepukan lembut dibahuku membuatku tersadar dari lamunanku. "Apa yang kamu lamunkan, nak?," tanya Ibuku.

"Tak ada. Aku berangkat sekarang"

"Hati-hati dijalan."

Ini sudah tahun kedua kekasihku berada di Jakarta. Rencana, dia akan pulang setelah tahun kedua tugasnya berakhir. Belum lagi, sudah enam bulan dia tak mengabariku. Batinku resah, jiwaku kalut. Apakah dia melupakan janjinya padaku?

Kulangkahkan kakiku dengan gontai, begitu sejuk udara pagi ini, tapi entah kenapa hatiku terasa panas.

"Syifa .... "

Kutolehkan kepalaku, kulihat Aloy sedang berlari kearahku. "Ada apa?" tanyaku.

"Mau kemana?"

"Mau pergi ke kampus. Kenapa loy?"

"Ada kabar, Ramdan akan kembali minggu depan," jawab Aloy.

'DEG ... '

Jantungku terasa terhantam oleh godam besar, Ramdan akan kembali? Dia tak mengabariku, dianggapnya apa aku ini ...

"Kau sudah tahu?"

"Ya, dia sudah memberitahuku," jawabku berusaha menyembunyikan perasaanku. Rasa galau dan kecewa bercampur menjadi satu, pikiranku tak bisa lagi berpikir jernih. Kenapa Ramdan tak memberitahuku?

***** 1 minggu kemudian *****

Ibu menghampiriku, "Syifa, Ramdan sudah kembali. Kau tak mau menemuinya?".

"Iya bu, aku akan menemuinya. Tunggu sampai dia menghubungiku atau datang kemari, maka aku akan menemuinya"

Untuk menjernihkan pikiranku, aku pergi keluar, kulangkahkan kakiku kearah pematang sawah dibelakang rumah. Kulihat segerombolan ibu-ibu kampung sedang bercakap-cakap. "Kasihan Syifa, dua tahun menunggu Ramdan. Ternyata setelah Ramdan kembali, dia sudah menikah dengan wanita lain."

Aliran darahku naik ke kepala, apakah aku tak salah dengar? Ramdan menikah dengan wanita lain? Inikah balasan akan kesetiaanku? Kesetiaan yang kuberikan? Dia melantunkan simfoni kematian bagiku jika dia memang benar mengkhianatiku. "Padahal Syifa terus menunggunya, kasihan Syifa." Terus kusimak pembicaraan ibu-ibu itu. Kutahan airmataku, meskipun dadaku terasa sakit dan sesak.

"Ehem ..."

"Eh, Syifa?"

"Betul apa yang saya dengar tadi?"

"A-apa yang kamu dengar?"

"Ramdan kembali dan sudah menikah"

"Se-sebaiknya kau datang saja kerumahnya, kami tak ingin kau mengira jika kami sedang menyebarkan fitnah"

"Ya. Saya akan kerumahnya, nanti malam," kupaksakan diriku untuk tersenyum.

Kutunggu kau, kuberi kesetiaan yang mengalir dalam setiap aliran darahku. Kujaga kesucianku untuk kelak kau rengkuh, kujaga cintaku hanya untuk kau hancurkan?. Ramdan ... kau membalasnya dengan cara seperti ini? Hatiku mati saat ini juga.

Malam sudah beranjak. Kulangkahkan kakiku kerumah Ramdan.

'TOK ... TOK ...'

Seorang wanita muda membuka pintu. "Cari siapa?," tanyanya. Wanita itu berpakaian sedikit seronok, siapa dia.

"Saya cari Ramdan"

"Oh ada. Silakan masuk. Kebetulan orang rumah sedang pergi hajatan, dan Mas Ramdan nggak ikut karena sakit," kata wanita itu, tak ada yang bertanya.

"Kau siapa?," tanyaku.

"Saya istrinya Ramdan," dia tersenyum padaku. Senyumannya seolah ejekan kematian bagi diriku.

"Jadi, Ramdan sudah menikah?," tanyaku datar, berusaha kusembunyikan kekecewaanku.

"Iya, kami baru menikah enam bulan lalu."

"Siapa Hanna?," kudengar suara laki-laki yang sangat kukenal dari dalam kamar.

"Ada tamu, mas"

Kudengar langkah kaki Ramdan yang semakin mendekat, tampaknya dia ingin melihat siapa tamu yang sedang bersama istrinya.

"Syi-syifa ....!" Ramdan terkejut menatapku.

Aku berdiri dan mengulurkan tanganku, "Selamat ya," kupaksakan diriku untuk tersenyum.

"Mas sudah saling kenal ya?," tanya wanita didepanku. Aku muak melihat keduanya. Rasa sakit dan benciku semakin memuncak.

"Iya. Aku kenal dia. Dia ... kawan lamaku"

Indahnya mendengar kalimat 'kawan lama', lupakah kau akan janjimu? Lupakah kau akan kesetiaanku?

"Hanna, tolong buatkan minum untuk Syifa."

"Mas, gulanya habis. Aku beli dulu diwarung," Hanna mengambil sweaternya untuk menutupi pakaian bagian atasnya yang sedikit kekurangan bahan.

Hanna pergi, kini hanya Aku dan Ramdan. "Kau ...." kataku.

"Maaf. Ini bukan kemauanku. Aku terjebak. Aku selalu menghargai perasaan dan kesetiaannmu." Ramdan berjalan mendekatiku. "Hatiku, masih milikmu," ujarnya.

Kulepas Jilbab yang kukenakan bertahun-tahun lamanya. "Apa bedanya Aku dengan Hanna, jika aku terlihat seperti ini?," Aku tahu jarak warung dan rumah Ramdan cukup jauh, jadi takkan ada yang bisa mengganggu apa yang akan kulakukan. "Cinta dan harga diriku telah kujaga. Tapi, kau membuangku begitu saja. Kulepas beasiswa yang kudapatkan untuk ke Jepang, supaya jika kau kembali, kau tak perlu menunggu lama."

"Syifa, kenakan jilbabmu."

"Tidak. Kau ingin perempuan yang seperti ini?," Kusobek lengan pakaianku, kucakari kedua lenganku dengan kuku-kuku panjangku. "Kau membuat seluruh jiwaku menjadi rapuh."

"Astagfirulah, Syifa .... sadar!"

Kulihat sebuah pisau buah tergeletak dimeja, kuambil pisau itu. "Boleh kuminta hatimu?."

Ramdan melangkah mundur, "Syifa, kenakan kembali jilbabmu dan sadarlah. Kau mau apa?!."

"Aku hanya ingin mengambil hati yang seharusnya menjadi milikku. Karena hanya itulah kenangan mikikku," kudekati Ramdan, Ramdan terus melangkah mundur, hingga akhirnya ia tersudut di pojok ruangan dan tak bisa lagi kemana-mana. Rambutku bergerak dengan bebas, sebebas keinginanku saat ini. "Peluk aku, maka aku akan buang pisau ini."

Ramdan menuruti keinginanku, ia memelukku, tanpa disadarinya, kuangkat tinggi-tinggi pisau itu dan kuarahkan tepat dipunggungnya. "Akkhh ... Syifa!," Ramdan melepasku, diraba punggungnya yang telah banyak mengucurkan darah. Aku berjalan kearah belakang, kucabut pisau yang masih menancap dipunggungnya, sehingga Ramdan kembali merasakan sakit. "Syifa, aku mencintaimu. Semua ini bukan keinginanku, aku dijebak oleh Hanna. Dia datang ke kesatuanku dan bilang jika aku menghamilinya. Terpaksa aku harus menikahinya, jika tidak karirku hancur!" Percuma Ramdan berteriak karena aku paham betul, letak rumahnya cukup jauh dari rumah tetangga. Tak akan ada yang mendengar.

"Semua sudah terlambat. Aku tak mau penjelasanmu," Kuarahkan pisau itu kearah kedua mata Ramdan.

"Aaaaaakkkhhh!!!," Ramdan menutupi mata kanannya, darah mengucur deras membasahi kedua tangannya. "Syi-syifa, sadarlah!."

Airmataku terjatuh, entah karena bahagia, ataukah rasa sakit?

Kembali kuhujamkan pisau itu tepat didada kiri Ramdan, pisau itu sangat tajam, "Aakkhh ... akkhh ...," suara Ramdan mulai terputus-putus. Kutarik pisau itu kearah bawah, menciptakan sebuah sayatan panjang, kulitnya telah robek, darah yang mengalir terlihat begitu indah, rintihan Ramdan seolah sebuah simfoni ditelingaku. "Maafkan aku ... Aku hanya ingin meminta kembali hatimu yang seharusnya menjadi milikku." Ramdan terkapar tak berdaya, kumuasukkan tanganku kedalam rongga dadanya, kurasakan sesuatu yang lembek dan berdenyut lemah, kugenggam dan .... kutarik keluar!

"Aaaakkkhhh!!!"

"Hanna? Aku hanya meminta ini," kutunjukkan jantung yang telah kutarik paksa keluar dari badan Ramdan. "Disinilah tersimpan kenanganku dan Ramdan, sekarang uruslah Ramdan baik-baik."

"Ti-tidak!," Hanna berlari menghampiri bangkai Ramdan. Kulangkahkan kakiku keluar, biarlah Hanna mendapatkan tubuhnya tapi aku sudah mendapatkan kenanganku kembali.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar