Halaman

Jumat, 08 November 2013

bertapa berakhir kematian

- Tapa Berakhir Derita -

karya : Fauzy Rahmat & Ana Sue
 


fb : Fauzy Rahmat
fb :  Ana Sue

"Tinggal beberapa hari lagi, aku akan lepas dari ini semua. Aku pasti bisa! Aku lelah seperti ini terus." Guman Nanjar terduduk di teras rumah Anjungnya. Tak ada siapapun di rumah itu selain dirinya, orang tuanya telah lama meninggal, sedangkan adik kecilnya di asuh oleh orang kaya.

Kesehariannya mengurus ladang pada tanah sepetak yang ditinggalkan orang tuanya, penghasilan yang tak seberapa ditambah kebiasaannya yang bermain judi, membuatnya terlilit hutang di mana-mana.

Belum lagi di usia yang sudah cukup matang dan seharusnya memiliki seseorang yang mengurusnya, justru ia belum menemukan tambatan hatinya. Keseluruhan masalah yang ada membuatnya seolah dikejar masalah yang tak berkesudahan.

Nanjar berharap ia bisa lebih tenang menghadapi semuanya.

Bisa sedikit menikmati ketenangan batin. Malam Satu Suro adalah waktu yang tepat, malam yang diyakini para tetua di desanya itu sebagai malam Ketenangan. Juga malam kramat.
Sehari menjelang malam itu, Nanjar sempat bertanya pada Mbah Sugiran, orang tua yang tinggal tak jauh dari gubuknya.

Mbah Sugiran merupakan sesepuh yang cukup memiliki nama dikampungnya. Ia tak hanya pintar dalam hal-hal mistis namun ia pun pandai dalam hal medis, banyak warga kampung yang meminta bantuan padanya, termasuk Nanjar.

Malam itu sebelum Satu Suro Nanjar bertandang kerumah Mbah Sugiran.

'Tok ... Tok ...' suara pintu terketuk dari luar.

"Assalammu'alaikum," ujar Nanjar pelan. Seketika pintu terbuka dan terlihat sosok lelaki renta tengah berdiri dibantu sebuah tongkat berukir. Beliau mempersilahkan Nanjar masuk. Wajahnya nan tirus keriput, membuat orang yang belum kenal beliau bergidik ngeri, walau sesungguhnya beliau orang yang ramah.

"Ngapunten, Mbah, nak kulo ganggu, (maaf, Mbah, kalau saya mengganggu,)" ujar Nanjar.

"Ra po-po, Njar. Enek masalah opo meneh?" Sahut Mbah Sugiran seakan mengerti maksud hati Nanjar.

"Kulo jaluk tulung, Mbah. Malem Suro kie kulo ajeng topo, apik e nyang pundi, Mbah? (Saya minta tolong, Mbah. Malam Suro ini aku mau tapa, bagusnya di mana, Mbah?)"

"Nang kulon deso ki enek bukit, tho? Mburine bukit kae enek goa sing kebuka e gur malem Suro, (Di barat desa ada bukit, kan? Belakang bukit itu ada goa yang terbuka hanya pada malam Suro,)" jelas Mbah Sungiran.

"Syarat e pripun, Mbah? (Syaratnya bagaimana, Mbah?)"
"Lingsir wengi iki koe kudu mandi kembang, resik i awakmu lan hatimu, eling lan waspodo. Tekan kono, enek watu pipih koe topo nang kono. Ra oleh gerak tekan esuk, enek gangguan ra sah mbok gagas, (Tengah malam ini kamu harus mandi kembang, bersihkan badan dan hatimu, ingat dan waspada. Sampai di sana ada batu pipih, kamu tapa di sana. Tidak boleh gerak sampai pagi, ada gangguan jangan kamu hiraukan,)" jelas Mbah Sugiran.

"Gangguan e nopo mawon, Mbah? (Gangguannya apa saja, Mbah?)" Nanjar penasaran.
"Neng lawang goa kui enek sing jogo buto ijo. Ngko nak ditakon, ngomong o arep tirakat. Gangguan e akeh, ngko koe mesti ngerti dewe. (Di pintu gua itu ada Buto Ijo yang jaga. Jika ditanya, bilang saja ingin tirakat. Gangguannya banyak, nanti kamu pasti tahu sendiri.)"

***

Keesokan paginya, Nanjar pun mulai menyiapkan seluruh peralatan yang akan dibawanya untuk menjalankan tapa. Dia menyiapkan kembang tujuh rupa, kemenyan, dan mempersiapkan diri agar siap menjalankan puasa selagi dalam pertapaan.

Nanjar pun berangkat dengan persiapan matang. Hatinya begitu riang, sepanjang perjalanan dia bersiul. "Aku pasti kuat menjalankannya. Seorang Nanjar tak mungkin kalah."
Tiga jam perjalanan ditempuhnya. Tak dihiraukannya guyuran air hujan yang membasahi tubuh. Tak lama kemudian, Nanjar pun sampai ditempat. Jalan menuju goa yang dikatakan Mbah Sugiran begitu suram dan gelap, meski hari masih pagi namun suasana di tempat membuat bulu roma siapapun yang mendatanginya.

Sesaat sebelum Nanjar memasuki goa itu, tiba-tiba dia dihadang oleh makhluk gaib. Tubuhnya besar dan tinggi dengan tubuh yang berwarna hijau. "Mau apa kau kemari, Manusia? Apa urusanmu?" Suaranya menggelegar hingga membuat Nanjar menutup telinganya.
"Saya ingin Tirakat, izinkan saya masuk," ujar Nanjar sopan.

"Ingat! Pintu ini hanya terbuka hingga lusa. Jangan berbuat tak senonoh, atau kau akan menerima akibatnya!"
"Baik" Nanjar menunduk hormat. Sekejap pintu goa pun terbuka dengan lebarnya. Gelap, pengap, dan lembab itulah keadaan goa yang dimasuki Nanjar.

Nanjar meraba-raba dalam gelap hingga dia menemukan sebuah batu pipih yang tak jauh dari pintu goa, ia pun menempatkan tubuhnya diatas batu tersebut. Kedua matanya mulai tertutup rapat.

Waktu terus berjalan, hari mulai beranjak sore menuju malam, kicau burung gagak menambah kelam suasana di sekitar goa.

Malam pun tiba, sudah berada diatas kepala, Nanjar masih diam dalam khusyuk menjalankan tapa. Tiba-tiba seekor ular besar dengan panjang 10 meter dan memiliki tubuh sebesar paha orang dewasa mendekatinya dan mulai menjalar melilit tubuh Nanjar. Nanjar tetap diam, dia tahu jika itu adalah godaan yang dimaksud Mbah Sugiran. Lima belas menit lamanya ular itu melilit tubuh Nanjar, kemudian menghilang.

Tap ...! Tap ...! Tap ...!

Nanjar menajamkan pendengaran. Tampaknya godaan berikut telah datang, suara langkah kaki yang berderap pelan kembali mengusik Nanjar. Wangi kembang kenanga tercium menyengat penciuman Nanjar. "Mas ...," lembut suara seorang wanita memanggilnya.

Nanjar berusaha tak menghiraukannya. Wanita itu mendekati Nanjar dan duduk tepat di sampingnya. "Mas, aku temani ya." Wanita itu mendekatkan wajahnya kearah Nanjar, hembusan nafasnya begitu terasa di leher Nanjar. Wangi yang keluar dari tubuh wanita itu membuat naluri kejantanannya terusik. Dia pun membuka kedua matanya, suasana yang gelap berubah menjadi terang benderang dan dia seperti berada dalam sebuah kamar megah seperti kamar seorang putri Raja. Dilihatnya seorang wanita cantik bak bidadari sedang berada di sebelahnya. Wanita itu berdiri, tanpa banyak bicara, dia melucuti satu persatu pakaian yang dikenakannya. Nanjar hanya menelan ludah melihat kemolekan tubuh wanita misterius tersebut. Wanita itu mulai merayu Nanjar, diberinya kecupan-kecupan erotis pada Nanjar.

Nanjar pun lupa diri, dia tak kuasa menahan godaan dari wanita cantik itu untuk bersetubuh. Desah dan lenguhan tertahan terdengar mengalun dari mulut keduanya. Setengah jam bergumul, pertarungan pun selesai. Tanpa diduga dan disangka, perlahan sosok indah dihadapannya mulai berubah. Sosok itu tak lagi cantik, melainkan menyeramkan. Nanjar terkejut bukan main. Dari tubuh wanita itu tercium bau busuk dan anyir darah yang sangat menyengat. "Hihihi ... anak muda, kau tak bisa menolak godaan! Kau bersetubuh denganku, berarti kau menghantarkan nyawamu sendiri!"

"A-apa maksudmu wanita iblis!"

"Nyawamu kini menjadi milikku, kau akan mati, anak muda!"

"Aku tak mau mati!," -Nanjar mulai berkeringat ketakutan-, "Aku tak mau, kau menipuku, Iblis!"

"Hahahaha! Nikmatin saja kematianmu yang akan segera menjemput!" Dalam sekejap, wanita itu menghilang.

Nanjar merasakan sesuatu ditubuhnya, alat vitalnya mulai terasa gatal yang teramat sangat. Nanjar menggaruknya sekuat tenaga, "Akhhh! Gatal dan panas!" Nanjar benar-benar tak kuat menahan rasa gatal dan panas yang menyerang senjata pamungkas miliknya. Senjata pamungkas kebanggaannya mulai mengeluarkan cairan berbau busuk, dan dia pun melihat jika benda miliknya mulai membusuk, "Aakkkhhhh!!!" Nanah, darah, dan belatung-belatung menjijikkan keluar dari alat vital miliknya. Nanjar merasakan seluruh tubuhnya kini seolah tertusuk-tusuk sembilu, dia mengejang, menggelepar, hingga akhirnya terkapar tak berdaya Pantangan dari godaan yang seharusnya dihindari telah membuatnya kehilangan sesuatu yang lebih berharga dari hanya sebuah ketenangan batin yang diinginkannya melainkan juga kehilangan nyawa satu-satunya. Malam Satu Suro tak berhasil dilalui Nanjar.

-Tamat -


Tidak ada komentar:

Posting Komentar