Halaman

Senin, 15 Januari 2018

S.O.L.O (Story Of Love)

Bab 11

Beberapa Minggu Kemudian.


Sebuah hari yang indah, dengan cuaca cerah dan di minggu pagi. Tapi ada beberapa hal yang justru terjadi di hari yang indah ini.


"Sayang... Cepat nanti kita terlambat?" Teriak Tama yang duduk ruang tamu menanti kekasihnya berganti pakaian dan berhias.


"Iya sebentar sayang..." Teriak Bunga yang masih sibuk dengan hiasan wajahnya.


"Maaf ya nak Tama, anak ibu memang lama kalau berdandan." Seru suara halus yang mendinginkan suasana panasnya.


"Iya tidak apa apa kok tante.." Jawab Tama dengan nada yang tak kalah halus.


Hari ini adalah hari salah satu sahabat Bunga. Annisa Putri Choirun atau Nisa dan Indra melangsungkan acara resepsi pernikahan mereka, yang bertempat di sebuah hotel. Setelah sebelumnya beberapa hari yang lalu mereka melaksanakan acara Ijab Qobul. Calon mertua dan menantu ini masih sibuk menunggu Bunga yang masih sibuk tersendiri. Sudah hampir setengah jam kedua orang lintas generasi ini menunggu, hingga tergambar jelas rasa bosan dan sebal pada wajah masing masing.


"Ayo kita berangkat..." Ucap Bunga yang baru keluar dari kamarnya. Kali ini ia berbeda dari biasanya, terlihat lebih cantik dan anggun. Bahkan Tama menatapnya tanpa berkedip.


"Ehem ehem..." Suara Ibu Bunga yang membuyarkan lamunan Tama. Sementara itu Bunga hanya mampu tertawa melihat ekspresi pacarnya itu.


Mereka bertiga keluar dari rumah dan menuju tempat Resepsi Pernikahan.


****


Di Tempat lain Yunita dan Arifin berangkat bersama. Mereka pergi menggunakan mobil Arifin. Sedangkan orang tua dan adiknya telah berangkat terlebih dahulu. Hari ini Nita mengenakan pakaian yang sepasang dengan kekasihnya. Sebuah pakaian yang indah serta di balutan dengan warna merah muda yang semakin menampilkan keindahan dan kecantikan dirinya. Ditambah dengan sepasang sepatu yang menghiasi dan menjadi pijakan keindahan kakinya.


Sementara Arifin mengenakan pakaian dengan warna merah dan celana hitam dengan sepatu berwarna hitam gelap. Kedua pasangan ini nampak serasi sekali, bahkan sudah seperti terlihat bagaikan suami istri.


****


Pesta Pernikahan ini berlangsung dengan meriah dan khidmat. Semua orang memandang kedua pasangan tersebut yang menjadi tokoh utama dari sebuah kisah pendek dan bagaikan menjadi raja dan ratu semalam.
Nisa malam ini terlihat sangat cantik dan sempurna, dengan pakaian sebuah gaun yang berwarna putih yang melambangkan sebuah kesucian.
Demikian juga dengan sang mempelai pria yang menggunakan jas berwarna putih, dan celana putih. Hingga nampaknya keduanya seperti pasangan dari kerajaan langit yang suci.


"Tak kusangka Nisa menjadi secantik itu..." Bisik Merlinda ke telinga Bunga.


"Heem that's  beautiful natural." Seru Bunga. Merlinda, Bunga dan kekasihnya duduk menjadi dalam satu deretan bangku. Dan disamping kirinya duduk Nita dengan kekasihnya. Sementara Merlin tidak datang dengan pacarnya yang baru putus beberapa minggu lalu.


Tapi tiba tiba semua mata hadirin di pesta tersebut melihat ke tempat lain. Kali ini semua mata menatap seorang laki laki yang baru datang dan masuk ke hotel tersebut.


"Kenapa dia ada disini?" Ujar lirih Bunga.


"Nisa juga mengundangnya..." Sahut Nita di sela ucapan sahabatnya.


Tapi memang benar, Reyhan datang seperti sebuah Bintang baru. Mengalahkan semua pandangan yang tadi menatap kagum ke arah pasangan suami istri tesebut. Namun sekarang semua tatapan kagum dan takjub itu beralih pada Reyhan.


Reyhan datang dengan penampilan baru. Rambut panjangnya sudah tak lagi ada, ia juga sudah memotong dan mengganti model gaya rambutnya menjadi belah samping. Terlihat sangat rapi dan elegan.


Ia datang ke acara ini dengan menggunakan pakaian berupa jas yang berwarna hitam dengan corak berwarna kuning emas. Ditambah dengan celana warna hitam serta sepatu hitam yang mengkilat. Hal ini membuat dirinya terlihat seperti Bangsawan dari sebuah kerajaan. Apalagi sikapnya saat berjalan terlihat elegan dan angkuh, justru semakin memperkuat pesona akan dirinya.


"Aku tahu dia memang tampan... Tapi malam  begitu terlihat tampan dan mempesona. Oh Tuhan kuatkan diri hamba ini.." Suara lirih Merlin saat melihat Reyhan datang dan berjalan serta kini tepat duduk di sebelahnya.

Sementara Tama mengetahui teman lamanya itu juga datang, ia langsung meninggalkan Bunga untuk berpindah tempat duduk di sebelah Reyhan.

Sementara Merlin dan Nita menatap heran dengan ekspresi aneh saat pacar sahabatnya itu akrab dengan Reyhan, lelaki aneh namun tampan.

"Suatu saat akan aku ceritakan.." Ucap Bunga yang melihat ekspresi aneh dari kedua sahabatnya.

"Maksudmu apa?" Gerutu Merlin yang makin penasaran.

"Sudahlah. Kita nikmati dulu saja pestanya." Jawabnya.

****


Tiga hari kemudian.


Udara malam yang dingin dengan awan mendung menyelimuti langit malam ini dan hembusan angin yang bertiup seperti mengatakan bahwa hujan tak lama lagi akan tiba. Untuk di Negara Indonesia seharusnya waktu ini adalah musim panas, namun nampaknya bumi ini sudah terlalu tua dan rapuh hingga terkadang kita bisa merasakan air hujan di musim panas, dan juga kita bisa kekeringan di musim hujan.


Tidak ada yang tahu kenapa hal ini bisa terjadi, bahkan para manusia yang ahli pun sulit untuk menjelaskan hal ini dengan detail dan logis. Mereka hanya memberi sebuah pernyataan dan jawaban yang ingin kita ketahui.


Sebenarnya malam ini belum terlalu larut. Akan tetapi mungkin karena sebentar lagi hujan akan segera turun, jadi jalanan yang biasanya terlihat ramai dan sedikit macet kini terlihat lenggang dan sedikit sepi. Namun masih banyak orang orang yang berlalu lalang di jalanan ini.


"Hei Robi... Apa kau benar orang ini akan lewat sini?" Tanya seseorang kepada temannya.


"Aku yakin sekali, bahkan sangat yakin." Jawabnya ke orang yang duduk di sebelahnya dan menyetir mobil.


"Tapi apa kau yakin akan melakukan ini Arifin?" Kata orang yang duduk di jok belakang.


"Iya... Kita harus memberinya pelajaran." Sahut salah satu yang ada di jok belakang juga.


"Aku mengandalkan kalian semua." Ujar Arifin.


Entah apa yang akan dilakukan keempat orang ini, namun mereka seperti membuat rencana untuk melakukan sesuatu hal yang buruk. Dan seketika sampai di suatu jalan, mobil yang mereka tumpangi menepi dan berhenti sambil mata mereka mengamati sesuatu.
Sudah berapa menit mereka menunggu disitu, terdiam duduk di dalam mobil dengan waspada, seperti seekor Harimau yang sedang mengincar mangsanya.


"Lihat itu..." teriak salah satu temannya yang menunjukkan seseorang yang melewati mobil mereka.


Arifin pun menyalakan mesin mobilnya dan memacu mengejar si pengendara sepeda motor yang baru saja lewat. Dan butuh waktu lama bagi Arifin mengejar dan mengikuti orang itu. Ia pun tepat berada di belakang jarak orang itu dan tetap menjaga jarak. Hingga kemudian mobilnya melewati si pengendara dan berhenti tepat di depannya, pada saat jalanan yang sepi.


Sedangkan si pengendara tadi langsung mengerem motornya hingga hampir terjatuh. Ia lalu berhenti dan menatap mobil yang berhenti seenaknya di depannya.
Saat itulah keempat orang ini turun dari mobil dan menatapnya dengan tajam.


Si pengendara ini hanya terdiam melihat empat orang berjalan ke arahnya, ia pun langsung membuka helmnya dan turun dari motornya.


"Aku hanya mengatakan ini sekali! Pergi dari Kota ini dan hidupmu akan tenang, tapi jika kau bersikeras maka jangan salahkan kami kalau kami harus membuatmu terluka." Teriak Arifin dengan nada keras, layaknya pria sejati.


"Benar Bung, lebih baik kau pergi atau menyesal." Tambah salah satu temannya yang bertubuh paling besar diantara keempat orang ini.


Sementara yang dua lainnya bertubuh kekar namun dengan tinggi yang sedang, akan tetapi ada salah satu diantara mereka berpenampilan layaknya seorang tentara. Dengan rambut khas dan badan yang identik mirip prajurit.


"Hahaha.... Kalian terlalu bodoh. Kenapa aku tidak terkejut dengan apa yang kalian rencanakan dan yang akan kalian lakukan." Ujar pria yang ada di hadapan ke empat orang ini. Dengan pakaian serba hitam, ia seperti mengadopsi kegelapan dalam dirinya.


"Diam kau Reyhan. Kau pikir kami tidak tahu siapa kau ini!" Teriak dan hardik Arifin.


"Tentu saja kau dan teman teman bodohmu itu tahu siapa aku yang sebenarnya. Justru ini adalah hal yang bagus bukan!" Ujar Reyhan.


"Benar Bung.. Pergilah dari kota ini. Maka kau akan selamat." Ucap salah satu orang yang ada disebelah kanan Arifin.


"Hahaha... Kau pikir kami akan takut dengan cerita legenda waktu kau masih kuliah dulu! Lebih baik pergi saja!" Sahut orang yang berpenampilan layaknya tentara ini.


"Lalu apa mau kalian? Orang bodoh!" Ujar Reyhan. Kali ini matanya memancarkan sebuah tatapan tajam dan menakutkan.


"Ayo kita beri pelajaran saja orang ini!" Teriak salah satu orang yang bertubuh tinggi. Arifin dan teman temannya pun berlari ke arah Reyhan untuk menghajarnya.


Sementara Reyhan menatap orang orang yang berlari sambil menyeringai. "Tidak ada perkelahian malam ini, hanya ada sebuah pembantaian."


****


Nita duduk di kursi depan rumahnya, hari ini atau lebih tepatnya malam ini mendadak ia merasakan sesuatu yang tidak enak di dalam hatinya. Ia seperti merasakan sebuah rasa takut dan khawatir, apalagi udara malam yang dingin semakin memperburuk suasana hatinya.
Beberapa kali ia mengirim pesan dan menelpon kekasihnya, namun tidak ada balasan satu pun. Ia lalu masuk ke dalam rumah karena air hujan sudah datang malam ini. Dia juga berdoa agar tidak terjadi sesuatu pada kekasihnya, Arifin.


Gerimis kecil malam ini membasahi beberapa orang pemuda yang tergeletak dan terbaring lemah, sisa nafasnya masih ada. Namun tenaga mereka sudah tidak ada lagi, dengan luka memar, dan wajah yang lebam. Nampaknya keempat orang ini babak belur dan terluka parah, hingga tak ada satupun dari mereka yang mampu untuk berdiri.


"Bukankah aku tadi mengatakan, bahwa ini bukan perkelahian. Tapi pembantaian." Ucap Reyhan yang masih berdiri kokoh. Meski ia juga mengalami luka memar di bagian tubuhnya namun ia bisa berdiri tegak. Mengalahkan orang orang yang berbadan lebih besar darinya.


Sementara Arifin bersama teman temannya yang tergeletak lemah itu hanya menatap tajam ke arahnya. Ia dan teman temannya tidak percaya bisa dikalahkan oleh orang yang berbadan lebih kecil darinya saat ini, apalagi ini pertarungan empat lawan satu, justru pihaknya yang unggul dan harus menang, bukan sebaliknya.


"Jika kalian pernah mendengar cerita tentangku di masa lalu, seharusnya kalian takkan mengganggu ku dengan hal bodoh dan tidak berguna ini. Kalian para sampah yang menyedihkan." Ujar Reyhan dengan tatapan tajam dan menakutkan. Ia berbicara dengan gayanya yang meremehkan empat orang yang terbaring lemah ini.


"Tapi kami tidak tahu bahwa cerita itu benar..." Ucap salah satu dari mereka di sela erangan rasa sakitnya.


"Tentu, aku tak menyalahkan kalian akan hal itu. Namun yang harus kalian ketahui adalah bahwa terkadang dongeng atau legenda berasal dari sesuatu yang nyata dan benar." Jelasnya.


"Lalu apa yang akan kau lakukan pada kami sekarang..." Suara Arifin Serak.


"Kali ini aku akan membiarkan kalian. Namun jika lain kali kalian mengangguku, maka akan benar benar terjadi pembantaian!!! Kalian pikir kalian adalah Pemangsa, tapi sebenarnya kalian adalah Mangsa. Kekekeke...." Serunya dengan tawa yang menakutkan.


Reyhan masih menatap orang orang ini dengan tatapan yang menakutkan, ia melihat dan menatapnya satu per satu. Mulut besar dan suara lantang yang tadi di dengarnya dan berteriak kepada dirinya sudah tidak lagi di dengar olehnya. Sekarang hanya nampak sebuah tatapan putus asa dari keempat orang ini.


Akan tetapi Reyhan tak puas akan hal ini, ia sudah tahu identitas dan keburukan semua lawannya. Kemudian dirinya mengatakan satu per satu kebusukan, dan tingkah laku orang orang ini. Dan tentu saja ke empat orang ini terkejut setengah mati, seperti ada petir yang menyambar tubuh mereka saat ini.
Tak terkecuali dengan Arifin, ia mendengar Reyhan berbicara tentang kelakuan buruk, serta kebusukannya dan semua hal buruk dirinya dan orang tuanya.


"Asal kau tahu Arifin bodoh! Jika kau mengganggu ku lagi, akan aku pastikan kau dan semua keluargamu akan kehilangan segalanya dan terusir serta tersisih dari dunia ini." Ancam Reyhan. Ia kemudian pergi meninggalkan ke empat orang ini.


Keesokan harinya.


Nita yang berada di ruang tamu kekasihnya ini sedang menunggu kekasihnya keluar dari kamar. Ia tahu dari temannya bahwa Arifin masuk rumah sakit karena sebuah insiden perkelahian. Hari ini ia langsung mengunjungi rumahnya serta membawa beberapa buah buahan.


"Maaf kau menunggu lama ya sayang.." Tegur Arifin yang berjalan ke arahnya. Luka memar dan lebam nampak di sekujur tubuhnya.


Nita yang melihat hal itu bersedih dan langsung meneteskan air mata. Ia sebenarnya ingin bertanya pada kekasihnya itu tentang siapa yang melukainya seperti ini. Namun Arifin tidak ingin mengatakan atau membicarakan hal ini. Matanya seperti menyembunyikan sesuatu hal kepadanya.


Dan sebagai wanita secara naluri ia tahu betul apa yang membuat kekasihnya ini babak belur. Ia tidak tahu secara detail dan logis, namun perasaan dan hatinya mengatakan hal itu.


*****


Reyhan baru bangun tidur dari malam yang panjang, ia lalu berjalan ke pintu depan rumahnya untuk membersihkan rumah serta halamannya. Namun baru saja membuka pintu ia melihat sebuah amplop surat yang berada dan tergeletak di depan pintunya. Kemudian diambilnya amplop itu dan dibukanya. Ia sedikit tersenyum saat membaca isi dari amplop tersebut.


Dua jam telah berlalu, dan ia sudah pergi ke suatu tempat setelah menerima amplop tersebut. Hingga ia berada di tempat itu, langkah kakinya seperti tahu dimana orang yang berada mengirimnya surat sekarang.
Dari jauh ia bisa melihat orang itu dengan jelas, ia berjalan ke arahnya langka demi langkah hingga sampai tiba di hadapannya.


"Aku harap kau ingin bertemu denganku bukan untuk mengatakan atau membicarakan hal bodoh dan tak berguna." Sapa Reyhan.


Namun seorang gadis berdiri dan menatapnya dengan sinis. Dari tatapan matanya saja sudah terlihat sebuah amarah yang maha dahsyat. Ia hanya mengatakan sedikit hal. "Apa yang kau lakukan pada Arifin dan untuk apa kau kembali lagi kesini!"


"Nampaknya setelah lama kita tidak bertemu dan berbicara. Kau telah mengalami kemajuan mental yang hebat." Ujar Reyhan.


"Terserah apa katamu! Yang jelas jangan kau ganggu aku, dan sahabatku juga kekasihku." Ucap Gadis ini setengah membentak.


"Kekeke... Nampaknya kau salah paham. Coba bersihkan matamu dan lihat baik baik." Ujarnya.


"Apa kau pikir dengan menghajar dan memukul, serta mengancam pacarku akan membuat diriku kembali padamu kak! Kau salah kalau begitu." Suara Gadis ini dengan penuh amarah.


"Kekeke.... Kurasa kau masih tetap menjadi Gadis Bodoh, walau sekarang kau jauh lebih pintar. Asal kau tahu... Bahwa kekasih bodohmu itu yang ingin menghajarku, namun seperti dia salah perhitungan." Jawabnya.


"Aku tidak peduli siapa yang salah! Yang aku inginkan kau jangan lagi mengganggu ku dan hadir di hidupku."


Reyhan berjalan mendekatinya dan hanya berjarak dua langkah. Ia menatap matanya kemudian tersenyum sambil mengatakan sesuatu dengan sangat jelas. "Kau salah Nit... Aku kembali lagi kesini bukan untukmu, aku hanya mengambil sisa kenangan yang tersisa dariku di Kota ini."


Nita ingin sekali marah saat ini, tapi ia harus berpikir jernih, ia tidak mau rasa amarah mengendalikan tubuhnya. Beberapa kali ia mengambil nafas untuk menenangkan dirinya.


Tapi saat itulah Reyhan berbalik arah melangkah pergi meninggalkan dirinya. Ia hanya mendengar sedikit kata darinya. "Bagiku kau tetaplah Gadis bodoh yang tidak tahu apapun."


Setelah itu ia melihat Reyhan berjalan semakin jauh, dan jauh hingga tidak terlihat lagi oleh kedua bola matanya. Sama seperti masa lalu saat dimana ia melihatnya berjalan pergi untuk terakhir kalinya waktu itu.


TBC....

S.O.L.O (Story Of Love)

Bab 12

Aku terbangun...
Kulihat sinar mentari menyinari bumi
Menampakkan keindahan yang sejati
Sebagai bukti nyata dari sang Pencipta


Ku kira diri ini berhalusinasi
Atau mungkin sedang bermimpi
Karena ku lihat gadis berparas cantik
Cantik dan indah bagaikan bidadari


Entah apapun ini
Atau apa yang telah terjadi saat ini
Ku nikmati saja waktu yang berharga
Dengan memandangi kecantikan bidadari


Andai ini memang benar terjadi?
Dan ini bukanlah sebuah mimpi
Aku yang sedang berada di nirwana
Dan mengagumi keindahan bidadari surga


Maka sungguh bahagia aku
Hidup kekal abadi bersama bidadari
Melewati waktu yang indah setiap hari
Dengan selalu bersama Yunita Novianti


*****


Yunita Novianti


Tugas kuliah memang tidak akan pernah ada habisnya, sampai kita lulus dan menjadi sarjana. Dan setiap hari tugas tugas itu selalu bertambah, tanpa kita tahu betapa banyak waktu yang di buang untuk menyelesaikan tugas ini. Seperti hari hari biasanya aku menghabiskan waktu ku dengan pergi ke taman kampus, namun saat itu aku tahu beberapa bangku di taman telah penuh terisi oleh mahasiswa fakultas lain.


Dan bagi mahasiswi semester baru seperti ku, harus siap mencari tempat duduk yang lain di taman ini. Hingga seketika itu aku bisa melihat ada sebuah bangku taman yang kosong dan sepi, tepat berada di bawah pohon yang besar. Tentu saja hal ini sangat menyenangkan.
Aku pun berlari kecil kesana kemudian langsung duduk dan menjernihkan kepala ku dari beberapa tugas kuliah yang menumpuk. Tak cukup waktu aku menikmati udara yang sejuk dengan suasana yang tenang dan nyaman hingga tiba tiba aku mendengar seseorang orang yang berkata kasar kepadaku.


Saat itu dia menatapku tajam, benar benar sesuatu yang sangat menakutkan. Meski saat itu aku dalam sekejap sempat terpesona oleh ketampanan wajahnya, akan tetapi hal itu tak berlangsung lama. Ia kembali berkata kasar padaku dengan nada yang sedikit tinggi.


"Apa kau tidak mendengar kata kataku!" Ucapnya saat itu.


Saat itulah aku hanya dapat menundukkan kepala dan meminta maaf padanya, aku tahu siapa orang yang berdiri dan berkata kasar di hadapan ku ini. Meskipun aku masih mahasiswi baru, namun aku tahu siapa dia. Namanya sering disebut oleh teman temanku dan beberapa Dosen yang mengajar di kelasku.


Namanya adalah Reyhan. Dia adalah mahasiswa semester tiga, ia terkenal dan menjadi bahan pembicaraan anak anak kampus karena kepintaran dan kejeniusan otaknya, dan ditambah dengan parasnya yang tampan. Namun diantara semua itu juga terselip sesuatu hal yang menakutkan pada dirinya, yaitu tentang ucapan yang selalu kasar serta tidak pernah menghormati orang lain.


Setelah itu aku berlari kecil dan pergi meninggalkannya, dalam hatiku terdalam saat itu aku berdoa agar tidak bertemu lagi dengan laki laki seperti itu. Setelah berlari akhirnya sampai aku juga di kelasku, aku langsung duduk di bangku ku saat itu, aku yakin teman di kelasku menatap heran dengan tingkahku saat ini, semua itu terlihat dari sorot mata mereka semua.


"Ada apa denganmu?" Tegur temanku yang melihat tingkah aneh dariku.


"Tidak apa apa kok..." Jawabku dengan berusaha setenang mungkin.


"Dia itu habis ketemu bintang kampus kita..Hahaha" Teriak salah satu temanku, Andien. Teman yang cukup akrab dan baik menurutku.


"Maksud kamu apa sih?" Tanya Risti yang bingung dengan ucapan temannya itu.


"Biar aku jelaskan..." Ujar seorang pria yang tiba tiba datang. Pria yang tinggi dan lumayan pintar di kelas kami.


"Cepat... Jangan buat aku mati penasaran nih!!" Seru Risti. Risti adalah gadis yang baik dan cantik. Tapi ada beberapa saat ketika mulutnya menjadi sangat tajam seperti pisau dapur.


"Dia tuh habis bertegur sapa dengan Reyhan. Cowok tampan yang juga licik itu." Sahut Andien sesaat sebelum Arifin menjelaskan sesuatu.


Saat itu semua orang yang ada di kelas menatapku dengan heran, mereka memandangi ku dengan tatapan sedih. Sementara aku saat ini hanya mampu menahan air mataku agar tidak tumpah.
Namun sesaat kemudian Arifin menenangkan dan menyejukkan hatiku kembali. Dia benar benar pria yang bisa menghibur wanita.


****


Lelah rasanya berjam jam berdiri dan menunggu angkutan umum datang. Sudah hampir gelap dan aku masih berdiri di depan pintu keluar kampus. Hari ini adalah hari yang paling sial menurut ku, tadi pagi sepeda motor ku rusak, siang tadi ketemu kakak tingkat yang menakutkan dan sore ini telat untuk pulang.


"This bad day..." Gerutu ku kesal.


Namun nampaknya semua itu belum berakhir. Tiba tiba ada seseorang yang mengendarai motor berhenti di depanku. sebuah motor yang mewah dan mahal. Tapi siapa orang ini aku tidaklah tahu, wajahnya tertutup oleh helm yang dipakainya, serta pakaiannya serba warna hitam. Saat itu aku hampir lari, namun orang itu memanggil ku. Seperti suara yang pernah aku dengar sebelumnya.


"Apa yang kau lakukan disini gadis bodoh?" Kata kata darinya saat menyapa ku.


"Aku menunggu angkot kak.." Ucapku dengan suara halus dan berucap sesopan mungkin.


"Hahaha... Orang bodoh macam apa yang menunggu angkot di jam sekarang." Tawanya di sela ucapan mengejek ku.


Saat itu aku memang marah dan ingin pergi dari hadapannya. Akan tetapi semua yang di ucapkan olehnya memang benar. Tidak mungkin di jam seperti ini ada angkot yang lewat.


Dia pun memberikan tawaran untuk mengantar ku pulang, namun dengan halus aku menolak tawaran itu. Meskipun aku tahu siapa dia, namun aku tidak tahu tentang sifatnya, lagi pula saat ini dia lah yang menjadi lebih menakutkan bagiku daripada setan atau hal lain.
Tapi sekali lagi ia berbicara dan memberiku tumpangan. Namun aku masih menolak tawarannya itu, tapi dengan tatapan tajam matanya serta sentuhan tangan yang halus membuatku terpesona hingga aku menerima tawaran darinya.


"Seharusnya kau tidak boleh percaya padaku begitu saja gadis bodoh..." Ucapnya di tengah jalan.


"Apa maksudnya kak?" Tanyaku yang heran dengan ungkapan darinya itu.


"Hahaha.... Bagaimana kalau aku tidak mengantarmu pulang, aku menculik dan memperkosa mu, lalu ku buang dan ku potong potong tubuhmu secara terpisah." Jelasnya.


Saat itu aku tahu bahwa mungkin semua itu benar dan terjadi. Aku pun bergerak gerak dan memintanya untuk berhenti serta menurunkan ku disini saja.
Sesaat kemudian ia menepikan motornya dan aku langsung turun dan hendak lari. Namun usahaku gagal saat itu, tangannya telah terlebih dahulu memegang pergelangan tanganku.
Saat itu aku memohon agar dia melepaskan diriku. Namun aku hanya mendengar suara tawa yang keluar dari mulutnya.


"Tenanglah Gadis bodoh... Aku takkan berbuat hal itu padamu. Aku tadi hanya mengingatkan dirimu saja." Ucapnya yang seperti tahu dan melihat ketakutan dari wajahku.


Lantas ia menyuruhku untuk naik motornya lagi, sebenarnya aku sudah tidak mau. Namun karena jarak rumahku masih jauh terpaksa aku menuruti kata katanya.
Di sisa perjalanan kami tidak banyak bicara, sebab tidak ada hal yang bisa menjadi topik pembicaraan kami. Aku saat itu hanya berdoa agar sampai selamat sampai dirumah.
Hingga tibalah kami di halaman rumahku, sebenarnya saat itu aku ingin mengucapkan terimakasih, akan tetapi ia langsung berbalik arah dan pergi tanpa menerima ucapan terimakasih dariku.


****


Setelah itu kami sering bertemu atau berpapasan lebih tepatnya, namun tidak ada yang terjadi. Ia tidak pernah memandangku dan aku juga terlalu takut untuk mengucapkan salam terimakasih yang tertunda.
Namun untuk beberapa saat pembicangan kami terjadi lagi, saat itu ketika aku menerima telpon dari pacarku yang memutuskan hubungan kami secara sepihak. Ketika itu aku hanya mampu menangis dan bersedih di sebuah bangku taman kampus kami. Aku ingin meluapkan kesedihanku dengan tangisan saat itu, beberapa tisu yang aku beli sudah habis. Hingga aku mendengar suara yang memanggil ku dengan kasar.


"Apa yang kau lakukan Gadis bodoh! Apa kau tidak tahu atau lupa bahwa ini tempatku." Ujarnya saat itu. Entah mengapa kata kata kasarnya tak membuat hatiku terluka saat itu, mungkin itu karena aku sedang mengalami rasa sakit yang lain.


Mendengar ucapan darinya aku berdiri dan hendak pergi, namun ia mencegahku untuk pergi dan meminjamkan tempat ini padaku saat ini. Saat itulah aku bersyukur, dan ia pun berpaling pergi dariku. Akan tetapi baru beberapa langkah ia berjalan ia berbalik menghadapku dan melemparkan sapu tangannya ke arahku.


"Kembalikan lagi padaku setelah kau cuci bersih." Ucapnya sambil melemparkan sapu tangan itu dan berlalu pergi.


Aku langsung mengambil sapu tangan itu dan menghapus air mataku seketika. Bau harum dan wangi yang keluar dari sapu tangan ini langsung menenangkan perasaan hatiku yang luluh lantah saat ini.


Mungkin dari sinilah aku mulai akrab dan mengenal diri Reyhan secara dekat. Setelah mengembalikan sapu tangan itu kepadanya, hubungan kami mulai akrab, beberapa kali ia pergi mampir ke kelasku untuk mengajakku pergi ke kantin atau sekedar bersantai dan ngobrol di taman.
Sebenarnya Reyhan bukanlah laki laki yang buruk atau jahat, semakin lama kau mengenalnya, semakin kau tahu bahwa dia sebetulnya laki laki yang baik. Semua kejelekannya itu hanya di dapat dari pengamatan saja.


Tentu saja, dengan penampilan yang selalu berpakaian serba hitam, layaknya seorang penyihir yang mengadopsi kegelapan, serta gaya dan tingkah laku yang sesukanya sendiri pasti membuat semua orang berpikir hal buruk padanya. Padahal semua itu tidaklah benar, semakin lama dekat dengannya, semakin nyaman pula aku berada di sampingnya. Aneh memang, jika kau merasa nyaman saat dekat dengan seseorang yang menakutkan seperti Reyhan.


TBC...

S.O.L.O (Story Of Love)

Bab 9

Reyhan Alfiansyah Utama #3

Setelah itu kedekatan dan hubungan antara Reyhan dengan si gadis makin akrab. Entah apa yang mendasari kedua orang yang berbeda sifat ini bisa menjadi satu. Namun disaat itulah Reyhan menyadari bahwa dirinya mulai jatuh cinta dengan gadis ini.
Gadis yang bodoh dan cerewet serta bawel, entah kapan Reyhan menyadari hal ini. Namun semuanya terkadang datang dengan cara tersendiri.


"Apa kau masih bersedih?" Ucapnya yang bertanya pada Si Gadis yang masih bersedih. Keduanya telah selesai menonton film di bioskop mall tersebut.

"Sudah mendingan kok... Tapi aku kecewa berat dengan film tersebut." Jawab Gadis ini dengan lugu.

"Maksudnya?" Tanyanya dengan heran.

"Iya.... Kenapa harus mati?! Kenapa si tokoh utama harus mati.." Seru Gadis ini dengan nada kesal dan sebal. Matanya terlihat masih berkaca kaca layaknya orang menangis. Tapi disaat itulah keindahan muncul dari kedua bola matanya.

"Hahaha... Kau benar benar bodoh dan aneh.." Suara tawanya yang mengejek gadis ini. Namun untuk beberapa saat ia diam dan menatap wajahnya dengan dalam dan penuh makna.

Namun kemudian ia memalingkan wajahnya ke arah lain setelah Gadis ini menyadari bahwa Reyhan menatapnya tanpa berkedip. Ia pun hanya tersenyum manis melihat sifat Reyhan.
Keduanya memustuskan untuk makan di mall itu sebelum pulang. Setelah itu kedua orang ini pulang dan berpisah di pelataran parkir mall.

"Ya udah aku pulang dulu?" Ucap Gadis ini.

"Iya hati hati di jalan.." Kata Reyhan dengan melihat Gadisnya.

Tak berselang lama Gadis ini memacu motornya dan pergi meninggalkan Reyhan yang masih ada di pelataran parkir mall itu. Reyhan dan Gadis ini sering bertemu, namun dirinya tidak pernah mengantarkan Si Gadis pulang. Ia selalu beralasan bahwa dirinya ada urusan atau hal lain yang harus dikerjakan.
Meski awalnya Gadis ini tidak apa apa dengan hal itu, namun secara naluri ia tahu bahwa teman laki lakinya itu menyembunyikan sesuatu kepadanya.


****


Hingga tibalah  Reyhan di semester akhir kuliahnya. Ini adalah tahun terakhir dia kuliah di kampus ini. Dan setelah ini dia berencana akan mengembangkan kemampuannya dalam bidang seni.
Reyhan memang seorang mahasiswa jurusan seni. Ia mengambil fakultas seni bukan tanpa alasan. Sebab dirinya menyukai hal hal yang berbau lukisan. Meski terkadang ia adalah orang yang mudah berganti obyek, namun menurutnya seni itu adalah sebuah panggilan jiwa, seperti orang yang mengabdikan diri kepada Tuhannya.


Namun di tahun inilah hubungannya dengan si Gadis renggang. Ia terlalu sibuk dengan semua kegiatan kuliah hingga ia hanya punya sedikit waktu dengan Si Gadis.
Awalnya ini hanya sebuah hal yang sepele. Namun bagaikan dedaunan yang selalu di tumpuk secara terus menerus, hal ini menjadi hal merepotkan.


Gadis yang sudah sangat dekat dengan Reyhan ini dan tidak tahu kejelasan hubungannya dengan Reyhan. Pada awalnya ia tidak mempersalahkan hal itu, namun semakin lama khususnya beberapa bulan terakhir ini Reyhan tidak pernah mengajaknya pergi atau hanya sekedar memberinya kabar atau bertanya kabar tentang dirinya.
Ia merasa begitu kesal dan bodoh, ia juga sempat berpikir apakah Reyhan sudah bosan terhadap dirinya. Namun dengan cepat ia menghapus pikiran tersebut.


Ia sebenarnya tahu bahwa ini tahun terakhir Reyhan berkuliah, dan tentu sebagai mahasiswi ia juga tahu betapa sibuk serta tugas yang menumpuk anak kuliah di tahun terakhir. Namun apakah dirinya tidak berarti hingga ia tak ada waktu untuk memberi kabar.


****

Mei.

Bulan kelima dalam dua belas bulan. Dan seperti bulan bulan sebelumnya, bulan ini terasa seperti bulan biasa. Sebenarnya di bulan inilah hujan sudah jarang untuk turun dan suasana panas di siang hari mulai bertambah panas.
Namun bulan Mei tidak hanya membawa suasana dan hawa panas saja, namun juga ada udara serta angin yang berhembus dengan lembut dan sejuk.

Dan saat ini Reyhan sedang menikmati panas dan teriknya siang hari ini, serta menikmati sejuknya udara taman ini. Namun sepertinya  dirinya sedang menunggu sesuatu atau seseorang. Hingga tiba tiba sebuah senyuman tercetak dari bibirnya.


"Lama sekali sih?" Ucap Reyhan yang berdiri dari tempat duduknya. Ia menyambut seorang Gadis dengan kata kasar. Sebab Reyhan bukanlah tipe orang yang betah dalam hal menunggu.


Gadis ini hanya diam dan menatap tajam ke arahnya, berbeda dengan tatapan selalu yang ia tunjukkan sebelumnya. Saat ini terlihat dengan jelas bahwa ia sedang marah.


"Apa yang terjadi?" Tanya Reyhan.


"Tidak apa apa. Aku yang seharusnya bertanya." Ujar sang Gadis.


Reyhan tahu bahwa ada situasi yang buruk saat ini, ia dapat merasakan hal ini, namun dirinya tidak dapat mencegah hal ini terjadi. Ia tahu bahwa suasana hati Gadis ini dalam keadaan yang sedang tidak baik.


"Lalu kenapa kau mengajak ku bertemu?" Suara tanya dari Reyhan.


"Aku ingin bertanya padamu kak?" Ucap lirih Gadis ini. Namun terdengar dari suaranya bahwa ia sedang bersedih atau kecewa.

"Silahkan saja... Selama yang kau tanyakan bukan hal bodoh atau tak berguna." Kata Reyhan dengan tenang.

"Kemarin temanku melihat kau pergi dengan seorang gadis, temanku melihat kau dan dia berbelanja dan sangat dekat.... Apa itu benar? Kak!" Suara halus namun terdengar sangat menyedihkan. Seperti sebuah awan mendung yang membawa air hujan.

"Iya kenapa?" Seru Reyhan dengan ekspresi yang tenang. Seperti tidak terjadi apapun.

"Sebenarnya ada hubungan apa kau dengan dia! Dan sebenarnya kau menganggap aku apa? Apa aku tak berarti untukmu?" Suara parau dan serak dari Gadis ini. Kedua matanya berkaca kaca, hingga kemudian ia tidak bisa membendung lagi air matanya dan pecahlah tangisnya.

Reyhan menatap Gadis ini dan berjalan mendekatinya, ia tepat berada di hadapan Gadis ini dan hanya dengan jarak setengah langkah, ia pun meletakkan tangan kanannya di kepala sang Gadis dan menggerakkan dengan lembut sembari mengelusnya.


"Itu semua bukan urusanmu... Dan bagiku kau sangat berarti." Suara Reyhan. Ia lalu berjalan melewati si Gadis dan akan pergi meninggalkannya.


"Kau tahu kak... Aku berharap ini tidak pernah terjadi. Dan aku berharap bahwa aku tidak pernah bertemu atau mengenalmu..." Ucap Gadis ini masih dalam tangisannya.


Reyhan yang sudah beberapa langkah berjalan pergi kemudian berhenti sesaat, entah kenapa tiba tiba langkahnya terhenti. Namun tanpa berbalik arah menghadap si Gadis, ia mengatakan sedikit hal kepadanya. "Maaf.. Dan semoga Tuhan segera mengabulkan doa mu itu."


Kemudian Reyhan melanjutkan langkah kakinya dan berjalan meninggalkan gadis yang tengah bersedih dan menangis itu di taman. Ia tidak ingin mengatakan apapun saat ini, sebab ia tahu bahwa hati Gadis ini akan menolak semua alasan yang ada. Ia pun lebih memilih diam.


Sejak saat itu, Reyhan tidak lagi terlihat oleh Gadis ini, ia tidak pernah melihat Reyhan setelah pertengkaran dengannya. Tempat duduk di bangku taman yang biasa ditempati juga kosong.
Namun dari beberapa berita yang tersebar bahwa Reyhan telah pergi dan memutuskan berhenti dari kampus. Dan sejak itulah Reyhan hilang di telan bumi, tidak ada siapapun yang tahu akan keberadaannya, meski itu teman sekelas atau sahabatnya juga.


Dan untuk si Gadis ini, ia berjanji untuk melupakan dan menghapus nama Reyhan dari hidupnya. Ia tidak akan mau lagi mendengar nama orang itu dan tidak peduli lagi padanya.


TBC....

S.O.L.O (Story Of Love)

Bab 10


Tak seperti biasanya, cuaca siang hari ini sedikit mendung, bahkan awan hitam sudah nampak sedari tadi, tapi entah mengapa hujan belum datang juga. Siang hari yang biasanya terasa sangat panas pun berubah menjadi sedikit sejuk dan dingin. Beberapa orang yang ada di Kota ini bersyukur akan hal ini dan tak sedikit pula yang menggerutu.


Namun hal itu seperti biasa dan tak ada artinya bagi gadis ini. Gadis berambut panjang, dengan tubuh langsing. Kecantikan masih bisa terlihat dari rasa lelah yang tengah di dihadapinya, namun kebutuhan memaksa tubuhnya untuk terus bekerja. Dan bahkan tak jarang ia telat makan dan mengalami sakit maag beberapa kali.
Namun siang ini cuaca sedang tidak bagus dan begitu pula dengan suasana hatinya. Disaat seperti inilah ia merindukan kekasihnya, yang jelas hari ini ia sangat butuh dukungan moral dari kekasihnya tersebut.


Ia membuka ponselnya, dan melihat beberapa foto lama ia dan Tama yang tersimpan di ponsel. Wajah lesunya mendadak bersinar setelah mendapat sedikit kekuatan baru, namun seketika itu juga kekuatan itu sirna dalam sekejap.
Ia menerima pesan masuk di ponselnya dan membaca isinya. "Aku tunggu di kafe coffee time jam 7 malam." Pesan dari sebuah nomor tanpa nama, dan sepertinya ia tahu siapa yang mengirim pesan kepadanya.


"Haduhh lelah..." ia berguman lirih sambil meletakkan kepalanya diatas meja kerja. Beberapa kali ia menengok waktu, namun masih tersisa dua jam lagi baginya untuk pulang dan beristirahat.


Akan tetapi ada si pengacau yang membuatnya tidak bisa beristirahat lebih awal hari ini, tubuhnya yang lelah membuat dirinya sempat tertidur beberapa saat hingga ponselnya kembali berbunyi, ia membuka mata dengan sisa sisa tenaganya saat ini dan melihat isi pesan ini. "Ku harap kau datang. Dan jangan terlambat, atau kau akan menyesal!"


Bunga sedikit marah akan hal ini, ia mengangkat kembali kepalanya dan menyelesaikan beberapa pekerjaan yang belum terselesaikan.


****


Siang hari ini Merlin sedang jalan jalan di sebuah Mall. Namun sepertinya ia tidak sendiri, ia seperti merasakan ada beberapa pasang mata yang mengawasinya serta mengikutinya, namun saat dia berbalik ia tak mendapati siapapun ada di belakangnya. Ia menatap sekeliling untuk memastikan, akan tetapi yang dilihat olehnya adalah orang orang yang sibuk sendiri. Ia berpikir bahwa itu hanya sebuah imajinasi gilanya saja, hingga ia memustuskan untuk kembali  berjalan di Mall tersebut.


"Aahhhh...." Teriaknya saat tahu ada seseorang yang berdiri di hadapannya. Beberapa orang yang berada di Mall langsung menatap aneh ke arahnya.


"Ada apa Gadis gemuk? Apa kau gila. Kenapa berteriak di sebuah Mall?"


"Kau yang gila dengan berdiri dan mengagetkan ku seperti ini!" Ujar Merlin dengan sedikit marah dan kesal terhadap lelaki ini.


"Hahaha... Bukankah hal ini justru bagus untuk kesehatan jantungmu yang lemah akibat kau tak pernah berolahraga. Kekekeke...." Seru laki laki ini.


Merlin mencoba mengatur kembali nafasnya dan menenangkan dirinya, beberapa kali ia menghela nafas agar untuk melakukannya. Kemudian ia bertanya padanya. "Apa kau mengikuti aku?"


"Kekeke... Nampaknya kau harus memeriksakan otakmu itu." Jelasnya di sela tawa yang mengejek.


"Lalu kenapa kau ada disini Reyhan?" Tanya Merlin dengan kesal.


"Kurasa itu bukan urusanmu, dan bukankah ini tempat umum, jadi aku berhak berada disini, Gadis Gendut!" Ujarnya kepada Merlin.


Namun sebelum Reyhan berjalan melewati dirinya dan pergi, ia melihatnya bahwa laki laki ini membawa sebuah tas kantong belanjaan. Merlin pun hanya sedikit bingung dengan apa yang di beli laki laki tampan ini.


*****


Hari ini Nita tidak bekerja, ia memutuskan untuk ijin libur karena harus menemani sahabatnya belanja untuk persiapan sebuah pernikahan. Dan setelah seharian berkeliaran di Kota ini sampai ke semua penjuru arah untuk mencari perlengkapan pernikahan hingga akhirnya keduanya pulang ke rumah Nisa.
Dari keempat orang sahabat, Annisa Putri Choirun atau Nisa yang terlebih dahulu menikah. Sebab gadis ini terlalu alim dan tidak ingin melakukan hubungan pacaran.


Ketika saat itu ia mengenal Indra, yang sekarang menjadi calon suaminya ini, ia tahu Indra tertarik padanya dan begitu juga sebaliknya. Akan tetapi ketika Indra mengatakan perasaannya itu, ia tidak bisa membalas cinta darinya. Tapi Indra bukanlah pria yang mudah menyerah, dia adalah tipe pejuang cinta sejati.
Hingga dirinya diajak Taaruf oleh laki laki itu dan ia setuju. Keduanya pun melaksanakan Taaruf dan kemudian bertunangan lalu sebentar lagi akan menikah. Seperti kisah cinta yang indah di sebuah negeri dongeng.


"Tinggal tiga minggu lagi ya..." Ucap Nita yang langsung merebahkan diri di sofa ruang tamu rumah sahabatnya.


"Iya...." Jawab Nisa yang meletakkan beberapa barang belanjaan di dekat sahabatnya itu dan pergi ke dapur. Beberapa menit kemudian ia datang dari dapur dan membawa beberapa makanan kecil dan minuman. "Ini diminum dulu."


"Okay... Kamu memang sahabat yang baik sekali. Tahu apa yang di butuhkan sahabatmu ini." Sahut Nita sambil tersenyum ke arahnya yang menaruh minuman dan makanan di meja depannya.


"Tentu. Aku kan sahabat paling baik..." Seru Nisa sembari sedikit memuji dirinya sendiri.


Keduanya pun duduk bersebelahan dan meminum minumannya. Kedua terlihat sangat lelah dan capek sekali hari ini, meski di dukung oleh langit mendung, namun tetap saja hawa dan udara panas masih terasa oleh keduanya.


"Ternyata menikah itu ribet ya? Harus pergi kesana, kesitu dan belanja ini itu." Sela Nita.


"Iya juga ya... ku kira menikah itu enak dan gampang." Sahutnya.


"Yang gampang menikmati proses malamnya... Hahaha." Ujar Nita yang kemudian tertawa dan diikuti suara tawa Nisa.


"Lalu kapan kau menyusulku?"


"Doakan saja ya.." Seru Nita.


"Boleh aku tanya dan kau harus menjawab dengan jujur." Ujarnya yang menatap mata sahabatnya.


"Tentu... Silahkan saja Nyonya Indra." Jawab Nita dengan menyebut nama suami sahabatnya dengan nada yang mengejek.


Tapi hal itu tak membuat Nisa marah, Gadis ini malah tertawa oleh ucapan konyol sahabatnya. Ia pun bertanya pada Nita. "Apa kau yakin dengan Arifin?"


"Maksudnya?" Tanya balik dari Nita.


"Maksudku apa kau yakin dan serius dengan Arifin?" Jelasnya kepada sahabatnya ini. Kadang dalam saat keadaan lelah, sahabatnya itu akan menjadi gadis yang sedikit lemah dalam berpikir. Berbeda dari biasanya yang selalu nampak pintar dan elegan.


"Oh itu... ia menatap ke depan tapi pikirannya langsung melayang pergi. Arifin adalah pria yang baik dan dia juga adalah pria yang sempurna di mataku. Jadi aku tak punya hal lain atau alasan untuk tidak menerima cintanya dan sebaliknya." Seru Nita.


"Syukurlah kalau begitu..." Ujarnya.


Keduanya pun bercerita tentang segala hal hingga lupa waktu, dan terasa kegelapan telah datang dan malam sudah menyapa Kota ini. Nita pun memutuskan untuk pulang dan berpamitan kepada sahabatnya. Ia takut kedua orang tuanya akan mencari dan sibuk menelponnya sebentar lagi.


*****


Malam yang indah, walau suasana dingin menyelimuti malam ini dan langit mendung masih tetap ada di atas kota ini, sesekali tetesan air langit juga terjatuh untuk memberi tahu pada mahluk bumi untuk bersiap dengan apa yang akan segera datang.


Bunga memacu motornya dengan cepat, ia tidak ingin kehujanan sebelum mencapai kafe tersebut. Sebenarnya tubuhnya sangat lelah, namun demi sebuah hal ia harus bertemu dengan seseorang di sebuah kafe. Tak butuh waktu lama sampai di kafe tersebut dari rumahnya. Seketika itu ia berlari kecil dan langsung masuk ke dalam kafe setelah air hujan langsung menyambut kedatangan dirinya.
Dan dari kejauhan ia sudah tahu ada yang menunggunya dan melemparkan senyum ke arahnya.


"Syukurlah kau tidak kehujanan... Kekeke padahal aku berdoa agar kau kehujanan dan basah kuyup." Ucapnya yang membuat telinga Bunga panas saat menghampirinya.


"Apa yang kau inginkan?" Tanya Bunga. Ia tahu bahwa Reyhan tak akan bertemu dengannya tanpa suatu alasan.


"Hahaha... Tenanglah dan tak usah terburu buru. Lebih baik kau pesan minuman terlebih dahulu untuk menghangatkan tubuh kurusmu itu." Ucap Reyhan sambil mengarahkan jari telunjuknya ke Bunga.


Bunga pun langsung memanggil pelayan kafe untuk memesan minuman. Namun minuman yang di pesannya tak kunjung datang hingga ia langsung dikejutkan oleh seorang laki laki yang berdiri disampingnya.


"Ahhhh Tama?" Teriak Bunga seperti tak percaya. Ia mengucek kedua matanya untuk memastikan bahwa orang yang  di depannya itu memang Tama, kekasihnya.


Sementara Tama hanya berdiri dan tersenyum ke arahnya, ia tidak tahu bahwa Bunga bisa sampai terkejut seperti ini. Ia lalu meraih tangannya dan memeluk kekasihnya itu.
Sementara bagi Bunga, ia hanya bisa menangis dan meneteskan air mata saat kekasihnya memeluknya dan kejadian ini memang nyata dan bukan sebuah mimpi.


"Kapan kau tiba disini?" Tanyanya.


"Tadi Siang sekitar pukul dua siang." Ujarnya.


Namun tiba tiba terdengar suara tepuk tangan dari arah Reyhan duduk. Dan saat itu memang Reyhan bertepuk tangan saat menyaksikan drama kecil di hadapannya. Ia juga memancarkan cahaya dari kedua bola matanya yang seperti menonton sebuah film drama.


"Lalu kau apa hubungannya dengan ini?" Ujar Bunga sembari menatapnya.


"Kurasa kita akan menjadi teman atau mungkin sahabat." Ucapnya.


"Hah...??? Maksudmu?" Tanya Bunga bingung dengan ekspresi khas wajahnya.


"Nanti aku yang akan menjelaskan.." Sahut Tama.


Tapi kemudian Reyhan bangkit dari tempat duduknya dan menepuk bahu Tama sambil mengucapkan beberapa kata kepadanya. Lantas ia pun pergi meninggalkan kedua pasangan itu malam ini.


Bunga pun kembali duduk dan juga Tama yang duduk di sebelahnya. Namun Bunga masih bingung dengan hal ini, bagaimana kekasihnya bisa berkenalan dengan mahluk aneh seperti Reyhan.
Ia pun lantas bertanya kepada kekasihnya ini. "Apa hubunganmu dengan Reyhan?"


"Kami teman lama.." Ucapnya.


"Teman lama?" Tanya Bunga yang semakin bingung.


"Akan aku jelaskan. Aku dan Reyhan berteman ketika kami masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama atau SMP. Saat itulah aku berkenalan dan bersahabat dengannya. Namun pertemanan kami hanya berlangsung singkat. Setelah lulus dari sekolah waktu itu aku tidak pernah lagi tahu kabar tentang dirinya, Hingga kemudian kami bertemu di Malang ketika aku mendapat proyek pekerjaan disana." Penjelasan panjang lebar dari Tama.


Sebenarnya Bunga ingin bertanya lebih banyak lagi, akan tetapi Tama memberi isyarat dan mengatakan bahwa saat ini ia ingin menikmati waktu berdua bersamanya tanpa membicarakan orang lain. Hal itu membuat Bunga bahagia sekaligus tersipu malu.


*****


TBC...

S.O.L.O (Story Of Love)

Bab 8

Reyhan Alfiansyah Utama #2

Setelah hari itu beberapa kali keduanya bertemu dan berpapasan secara tidak sengaja. Tapi tidak ada hal yang terjadi selanjutnya, bahkan tidak ada pembicaraan hanya untuk sekedar basa basi atau sekedar untuk menyapa juga tak terjadi. Keduanya seperti tidak pernah bertemu atau saling berbicara sebelumnya, hingga takdir mendekatkan mereka kembali dengan cara yang tak terduga dan tak bisa dipahami.


"Hiks hiks hiks..." Seorang gadis yang duduk di sebuah bangku di taman kampus sedang bersedih dan menangis. Air matanya terus saja mengalir meski ia ingin berhenti untuk menangis, apalagi hatinya sangat perih dan sakit sekali. Entah apa yang membuat gadis ini menangis dan begitu bersedih hari ini.


"Heh apa yang kau lakukan di tempat ku!" Gertak Reyhan mengetahui ada yang duduk di tempat kesukaannya.


Sementara gadis tersebut masih menangis dan mencoba menghapus air matanya dengan tangan, sebab tisu yang dia bawa telah habis sejak tadi. "Maaf kak..."


Sebenarnya Reyhan ingin marah saat itu, namun ketika ia melihat gadis itu menatapnya dan menangis, membuat dirinya mengurungkan niatnya. Lantas ia pun bertanya pada gadis tersebut. "Apa yang membuatmu menangis dan bersedih... Putus dari pacarmu?"


"Heem kak... Hiks hiks hiks.." Jawab Gadis ini yang akan bangkit dari tempat duduk. Tapi dengan tangisan yang belum berhenti.


Tapi Reyhan menyuruh gadis itu agar duduk disana sambil menikmati kesedihannya saat ini, ia mengatakan bahwa. "Untuk hari ini ku pinjamkan tempat ini untukmu."
Sebenarnya Reyhan merasa aneh, gadis yang selalu riang dan ceria menangis di hadapannya hanya untuk lelaki. Ia merasa aneh dengan hal itu.


Ia pun berbalik arah dan pergi meninggalkan gadis yang masih menangis ini. Namun ia kemudian berbalik arah kembali ke gadis ini dan melempar sesuatu padanya.


"Kembalikan padaku lagi setelah kau cuci dengan bersih..." Ujarnya sambil melempar sapu tangan ke arah si gadis.


Sementara gadis ini hanya menatapnya dengan tatapan sedih sebab ia masih sibuk dengan tangisan sendiri. Ia mengambil sapu tangan yang dilemparkan kepadanya dan kemudian menghapus air matanya.


Dua hari kemudian.


Reyhan yang seperti biasa duduk bersantai di bangku taman favoritnya. Ia sedang melamun dan memikirkan sesuatu, hingga entah kemana pikirannya itu pergi, yang jelas tubuh dan pikirannya sedang terpisah saat ini.
Hingga ada seorang gadis yang menghampirinya dan memberikan sesuatu padanya.


"Kau lagi...? Apa lagi mau kamu? Apa kau ingin menangis lagi! Lebih baik kau cari tempat lain saja." Ucapnya melihat gadis itu menghampiri dirinya.


"Tidak kak.... Kali ini aku cuma ingin mengembalikan sapu tangan kakak." Seru sang gadis sambil mengulurkan tangan dan menyerahkan sapu tangan.


Reyhan hanya menatap gadis ini dan meraih sapu tangan miliknya. Ia lantas pergi dari tempat itu meninggalkan sang gadis yang masih berdiri di hadapannya. Ia tersenyum manis ke arah gadis dan berlalu pergi.


Dan entah apa yang terjadi selanjutnya. Keduanya mulai sering bertemu dan menjadi akrab. Bahkan keakraban mereka membuat heran beberapa anak kampus dan Dosen. Sebab semua orang tahu bahwa sifat dua sosok lawan jenis ini sangat berbeda jauh.
Sang Gadis yang sifat lemah lembut, baik hati dan pemurah. Akan tetapi berbanding terbalik dengan sifat Reyhan.
Dan beberapa orang pun menyangka bahwa mereka berdua sudah menjadi sepasang kekasih. Padahal pada kenyataannya, Reyhan tidak pernah menyatakan perasaan dirinya terhadap si gadis.


Dan semenjak saat itu sikap Reyhan sedikit demi sedikit berubah, ia sudah jarang berkata kasar dan tajam. Ia juga sudah jarang untuk mengancam orang lain, entah siapapun itu.


****


"Apa kau dan Reyhan sudah berpacaran?" Tanya salah satu seorang temannya.


"Belum kok... Reyhan tidak pernah menyatakan apapun mengenai perasaannya." Jawabnya.


"Lalu kok kalian bisa akrab sih?" Tanya salah satu temannya yang lain.


"Entahlah..." Jawab Sang Gadis sambil mengangkat kedua bahunya.


Perbincangan dengan teman temannya itu hanya terjadi sebentar, setelah itu Reyhan datang ke kelasnya dan berdiri di depan pintu masuk. Ia menggelengkan kepala ke arah gadis ini untuk keluar dan pergi bersamanya.
Sang Gadis pun bangkit dari bangkunya dan berjalan pergi ke arah Reyhan. Semua yang ada di kelas itu bingung dengan hal yang terjadi diantara mereka berdua.
Semuanya tahu bahwa perbedaan mereka bagaikan langit dan bumi dan jelas tak mungkin bisa bersatu.


"Mau kemana kita?" Tanyanya.


"Sudah ikuti aku... Oh iya, kita pergi naik motorku dan biar motormu tinggal saja disini. Kita hanya pergi sebentar kok." Jawab Reyhan.


****


Taman Kota.


"Kenapa kita disini? Tanya si gadis.


"Karena aku ingin mengistirahatkan otak ku ini. Di taman kampus kita terlalu ramai dan berisik dan hal itu mengganggu otak ku yang cerdas ini." Jawab Reyhan sambil menyuruh gadis ini duduk di sebuah bangku dan Reyhan duduk tepat di sebelahnya.


Reyhan pun menutup matanya dan mendongakkan kepalanya ke atas, sambil sesekali menikmati udara segar di taman ini.
Sementara sang Gadis hanya mengamati laki laki yang dalam beberapa bulan terakhir ini dekat dengannya.


"Reyhan.... Bolehkah aku bertanya sesuatu?" Ucap sang Gadis yang kini menundukkan kepalanya.


Reyhan lalu membuka matanya dan melihat ke arah si gadis. Ia kemudian menjawab pertanyaan darinya. "Apa?"


"Apa sih arti hubungan kita ini menurut kamu?" Tanyanya dengan malu. Ia yakin saat ini pasti wajahnya memerah karena menahan malu.


"Emmm... Apa ya... Aku tidak tahu. Entah apa ini yang kurasakan saja, atau semua ini hanya sebuah keinginan ku saja. Yang jelas aku mempunyai sebuah rasa yang kuat terhadapmu. Entah rasa apa itu aku tidak tahu..." Jawab Reyhan.


Sementara Gadis ini tambah bingung dengan jawaban dari Reyhan. Ia ingin menuntut kejelasan hubungan mereka saat ini, tapi dirinya terlalu pengecut untuk bertanya akan hal itu.
Gadis ini pun menatap Reyhan yang sedang melihatnya, ia ingin menunjukkan bahwa ia tidak puas dengan jawaban yang keluar dari mulutnya.


Tapi kemudian tangan halus Reyhan berada di kepalanya dan mengelus rambutnya dengan lembut, tentu saja hal ini membuat dirinya semakin tak mengerti.


"Bagaimana kalau kita menikah?" Ujarnya sambil mendekatkan wajahnya ke arah wajah si gadis. Bahkan jarak antara wajah keduanya hanya beberapa inci.


Sementara si Gadis hanya terdiam dan tertunduk malu, ia tidak bisa berkata kata lagi.
Sebelum kemudian Reyhan bangkit dan menariknya dan tanpa mengatakan apapun mengajaknya pergi meninggalkan tempat itu.


Tak berselang lama keduanya kini tiba di sebuah hotel yang cukup mewah. Sementara si gadis bingung dengan maksud tujuan Reyhan mengajaknya kemari. Ia berpikiran negatif tentang apa yang akan dilakukan terhadapnya selanjutnya.


"Ayo masuk..." Ujar Reyhan sambil menggandeng tangan si gadis.


"Untuk apa kita pergi kesini?" Tanyanya.


Sementara Reyhan tahu bahwa Gadis ini sedang berpikiran negatif padanya. Ia pun hanya tersenyum kecil sambil berkata sesuatu. "Tenanglah aku tidak akan melakukan apapun terhadap dirimu, jadi buang saja pikiran kotormu saat ini.


Ia merasa lega setelah mendengar ucapan dari Reyhan tersebut, keduanya pun pergi memasuki lobi hotel untuk menuju sebuah kamar.
Akan tetapi disinilah kembali timbul berbagai macam tentang Reyhan. Dan sesampainya di sebuah kamar mereka masuk dan segera memesan layanan makan.


"Reyhan apa aku boleh bertanya lagi?" Ucap sang Gadis.


"Tentu, seharian ini kau aneh. Kau menjadi lebih aktif untuk bertanya." Jawab Reyhan.


"Apa kau tinggal disini?" Tanyanya.


"Iya...Aku bertempat tinggal."


  "Apa  orang tua mu pemilik hotel ini?" Tanyanya kembali.




"Bukan..." Jawabnya.


"Lalu?" Ucap gadis ini yang semakin penasaran.


Akan aku jelaskan. "Sebenarnya aku tinggal di hotel ini secara gratis dan cuma cuma. Sebab aku tahu rahasia besar hotel ini dan aku memiliki buktinya."


"Apa maksudmu?" Tanyanya yang semakin bingung.


"Apa kau tahu.... hotel ini cacat. Sebenarnya wilayah dan luas hotel ini berbeda dari sertifikat tanah mereka, dan secara tidak langsung mereka memakai dan memakan tanah milik negara atau orang lain. Dan ketika aku mengetahui hal itu, kemudian mereka mengijinkan aku untuk tinggal disini kapanpun dan semau ku serta selamanya." Penjelasan dari Reyhan yang membuat Gadis ini terkejut, bahkan sangat terkejut.


Ia tak menyangka bahwa dirinya sedang dekat dengan seseorang yang sangat menakutkan, ia tidak tahu apa orang ini benar waras atau tidak. Apa ia tidak takut jika pemilik hotel ingin berbuat sesuatu yang buruk kepadanya.


Tak berselang lama pintu kamar mereka di ketuk, dan Reyhan pun membuka pintu tersebut dan menyuruh pelayan hotel masuk sambil meletakkan makanan yang di bawanya.
Setelah itu ia dan Reyhan menikmati santap siang mereka di hotel itu dan tak terjadi apa apa diantara keduanya. Sebab setelah itu ia mengantar Gadisnya ini ke kampus karena ada kuliah sore.


TBC...

S.O.L.O (Story Of Love)

Bab 7

Reyhan Alfiansyah Utama

Reyhan, Seorang mahasiswa di salah satu Universitas Negeri di Kota Solo. Dia adalah remaja yang pintar dan cerdas, sebab dirinya tak mengeluarkan sepersen biaya kuliah. Semua ini didapatkan olehnya dari beasiswa.
Untuk itulah dia menjadi mahasiswa paling pintar di kampusnya. Dan semua orang pun pasti mengenal dan mengetahui namanya. Bukan karena kejeniusan yang dimilikinya, akan tetapi oleh sifat buruknya.


Seperti manusia lainnya, Reyhan juga tak sempurna. Ia bukan tipe orang yang suka bergaul atau berkumpul dengan orang lain. Meski memiliki banyak teman, tapi ia jarang berkumpul dengan mereka, entah itu untuk sekedar nongkrong atau mengobrol tak jelas.
Dan tak hanya itu saja, ia juga memiliki hal hal buruk lainnya, seperti suka berbicara dan bertindak sesuka hatinya, serta kebiasaan suka mengancam orang lain. Dan semua hal atau informasi yang di dapatkan dari orang tersebut, maka hal itu juga yang akan digunakan untuk mengancam orang lain. Dan tentu saja ini membuat takut semua mahasiswa atau mahasiswi yang kuliah di tempat ini.


Tak hanya itu saja, beberapa Dosen serta Rektor kampus merasa takut akan diri Reyhan. Mahasiswa jenius sekaligus licik. Tapi sesuatu hal baik juga terdapat dari dirinya, yaitu kesetiaan terhadap sahabatnya. Ia bukanlah tipe orang yang akan meninggalkan sahabatnya.
Bagi dirinya kesetiaan adalah kunci dari persahabatan, dan siapapun yang ingin bersahabat dengannya harus setia, sebab dirinya bukan tipe orang yang akan memaafkan penghianatan.


*****


Hari ini seperti biasanya, Setelah jam kuliah selesai ia pergi ke taman yang ada di kampusnya. Ia ingin menyendiri sambil menenangkan pikiran dan jiwanya sebelum mata kuliah lagi. Berbeda dengan orang lain yang langsung menyerbu kantin dan baru mencari tempat untuk nongkrong.
Ia masih berjalan melangkah menuju ke salah satu tempat favoritnya. Akan tetapi ia melihat dari jangkauan matanya, ada seseorang yang sedang berada di bangku taman kesukaannya, ia lantas berjalan ke arah tersebut.


"Apa kau tidak tahu itu tempat kesukaan ku." Ucap Reyhan yang berdiri di depan seorang gadis.


Sementara si gadis hanya diam. Ia merasa sangat takut, ia tidak tahu bahwa dirinya memilih tempat yang salah untuk beristirahat. Meskipun dia mahasiswi semester baru, akan tetapi ia sudah tahu nama Reyhan yang menjadi gosip dan obrolan para mahasiswa dan mahasiswi baru.
Ia pun sempat menatap wajahnya sekejap. Dan seperti gadis lainnya, ia terpesona akan ketampanan wajah yang dimilikinya. Namun hal itu hanya terjadi sebentar saja, sebelum suara Reyhan kembali menyadarkannya.


"Apa kau tidak dengar! Bangku itu sudah ada yang punya." Ucap Reyhan kembali dengan nada sedikit tinggi.


"Maaf kak... Aku tidak tahu ini bangku kesukaan kakak..." Jawab gadis ini dengan ketakutan dan terbata bata.


"Okay kali ini aku maafkan..." Serunya dengan isyarat tangan menyuruh gadis itu untuk segera pergi. Dan tak harus menunggu lama gadis itu berlari pergi dari tempat tersebut.


"Siapa dia Reyhan?" Tanya seorang gadis yang datang dari arah berlawanan. Ia juga membawa beberapa makanan dan minuman untuk dirinya dan Reyhan.


"Entahlah aku tidak tahu. Lagipula itu bukan hal penting." Sahutnya.


"Terserah deh apa katamu.." Ujar gadis ini seraya memberikan makanan dan minuman yang ia bawa. Keduanya duduk di bangku itu dan memakan makanan mereka.


"Kau memang teman yang baik..." Ucapnya memuji temannya tersebut.


"Tentu, hanya aku satu satunya temanmu bukan.." Jawab gadis berambut coklat ini.


"Hahaha.... Kau benar sekali Anna." Ucap Reyhan sambil mengunyah makanannya.


Anna Febrianty.


Gadis berambut Coklat sebahu dengan tinggi 165 cm dan tubuh yang langsing. Mata berwarna hitam kecoklatan adalah ciri khas gadis ini. Tetapi mata ini semakin memperindah wajah cantiknya yang putih bersinar.


Gadis ini adalah teman Reyhan, atau bisa dibilang dia itu sahabat karibnya. Ia merupakan gadis yang cerdas dan hebat. Dan ia juga merupakan teman satu fakultas dan satu kelas Reyhan.
Awal persahabatan dirinya dengan Reyhan adalah ketika ia mengetahui ada orang yang lebih pintar darinya, akan tetapi orang itu juga mempunyai sifat aneh, nyentrik dan eksentrik. Dan hal inilah yang membuat dirinya penasaran dengan Reyhan dan kemudian bersahabat dengannya.


Walau saat itu sangat sulit untuk bisa memahami jalan pemikiran Reyhan, dan sudut pandang orang ini. Namun lambat laun akhirnya dia bisa mengikuti dan mengerti cara berpikir Reyhan.
Dan bersahabat dengan Reyhan bukan hal yang mudah, sebab Reyhan bukan tipe orang yang menggunakan perasaan. Tapi ia lebih percaya dan condong pada sebuah fakta dan angka.


Bagi Reyhan perasaan itu adalah sesuatu yang tidak logis dan bisa berubah ubah secara tak menentu, itu seperti menggantungkan hidup kita pada sekeping koin.
Anna juga mengingat dan selalu teringat akan kata kata Reyhan waktu awal awal pertemanan mereka. "Aku tidak bisa dipahami dengan sebuah pemikiran ataupun kata kata. Karena aku hanya bisa dipahami dengan cara pendekatan."


Dan sejak saat itulah persahabatan mereka terus terjaga hingga sekarang.


*****


Hari hari sepertinya berlalu dengan cepat dan terkadang waktu lah yang berjalan terlampau cepat sehingga ketika kita menoleh ke belakang tidak ada apapun yang tersisa.
Dan seperti biasanya hari ini sedang berada di tempat parkir sepeda motor. Ia ingin segera pulang dan beristirahat, apalagi mata kuliah hari ini sangat berat dan menguras tenaga fisik dan pikirannya. Sebenarnya mata kuliah terakhirnya sudah berakhir pukul lima sore, akan tetapi ia terlalu capek dan memutuskan istirahat di kelas ketika semua temannya sudah pergi.


Reyhan yang sedang mengendarai motornya pergi dari tempat parkir dan memacu sepeda motornya ke pintu masuk dan keluar kampus. Tapi disanalah dia melihat sesuatu yang aneh.
Ia lalu bergegas bergegas dan menghampiri seseorang itu.


"Apa yang kau lakukan disini, gadis bodoh?" Sapa Reyhan dengan kata kata kasar.


Sementara gadis ini hanya terdiam, ia tidak tahu siapa orang yang ada di atas sepeda motor tersebut. Ia bahkan tadi takut ada seseorang dengan sepeda motor bagus dan mewah dengan warna hitam dan sang pengemudi juga memakai jaket warna hitam.


"Apa kau benar benar bodoh. Kenapa hanya diam dan melamun! Bukannya menjawab pertanyaan dariku." Kata Reyhan kembali yang kini melepas helmnya.


"Saya menunggu angkutan umum kak.." Ucap gadis ini dengan rasa takut. Meski ia sekarang tahu siapa laki laki yang menghampiri dirinya. Hal ini malah semakin membuat rasa takut dan was was nya bertambah.


"Ayo naik... Akan aku antar pulang." Ujar Reyhan sambil memberi isyarat agar gadis ini segera naik membonceng dirinya.


Tapi bukannya naik, tapi gadis ini menolak tawaran Reyhan dengan halus, ia takut bahwa Reyhan akan tersinggung. Apalagi Baginya Reyhan adalah sosok yang menakutkan. "Tidak usah kak... Terima kasih."


"Ku rasa kau benar benar bodoh... Orang idiot macam apa yang menunggu angkutan kecil di hampir jam tujuh malam. Hahaha.." Ujarnya dengan nada mengejek gadis ini.


Gadis ini sangat kesal mendengar ucapan Reyhan. Telinganya merasa sangat panas akibat kata kata kasar yang keluar dari mulut laki laki itu. Tapi apa yang dikatakannya memang benar, bahwa mungkin tidak ada angkutan umum yang melewati rumahnya di jam segini. Ia pun menggerutu sendiri akan nasibnya ini, semua ini disebabkan karena sepeda motor maticnya rusak tadi pagi.
Hingga ia tiba tiba merasakan ada sentuhan halus yang menyentuh dan menggenggam pergelangan tangannya. Ia pun memandangi Reyhan tanpa berkedip dan perlawanan ketika Reyhan menyuruh dirinya naik motor Reyhan. Dirinya bagai tersihir akan wajah tampan dan sentuhan halus dari Reyhan.
Ia pun akhirnya mau membonceng Reyhan dan diantarkan pulang olehnya.


Hingga di tengah perjalanan Reyhan bertanya tentang alamat gadis itu. Dan si gadis pun memberitahu alamat rumahnya. Sekejap dari belakang ia memandangi Reyhan, ia begitu terpesona hingga ia melupakan semua hal ini.


"Seharusnya kau tidak boleh percaya padaku." Ujar Reyhan kepada gadis yang di boncengnya ini.


"Apa maksud kamu kak?" Tanyanya.


"Bagaimana mana kalau sebenarnya aku tidak ingin mengantarmu pulang, kalau sebenarnya aku malah ingin menculik, memperkosa, lalu membunuh dirimu dan kemudian ku potong potong tubuhmu dan lalu ku buang secara terpisah.... Hahaha." Jelas Reyhan dengan tawa yang menakutkan.


Gadis ini tersentak mendengar kata kata dari Reyhan, dan yang dikatakannya memang benar. Bagaimana kalau dia ingin berbuat jahat padaku.
Gadis ini langsung bergerak gerak dan dan menyuruh Reyhan untuk menepi ke jalan dan menurunkan dirinya.


"Apa mau kamu? Kenapa kau terus bergerak tadi! Apa kau ingin kita jatuh apa!" Ucap Reyhan dengan emosi.


"Maaf kak tapi lebih baik aku turun disini saja." Jawabnya dengan suara ketakutan. Ia juga sudah turun dari sepeda motor Reyhan.


"Ayo kuantar pulang... Tidak usah takut. Aku tadi hanya bercanda." Sahutnya yang mengetahui alasan kenapa gadis ini begitu ketakutan.


Gadis ini bingung, ia tidak tahu yang mana harus ia pilih, pulang jalan kaki dengan jarak yang masih cukup jauh, atau diantar Reyhan dengan ketakutan. Tapi ia tak punya pilihan, Reyhan kembali memegang tangannya dan menariknya ke atas sepeda motor. Ia pun dengan terpaksa dan berat hati mau diantar pulang olehnya. Dalam perjalanan ia selalu berdoa dalam hatinya agar selalu di beri keselamatan sampai di rumah.


"Jangan takut.... Kata kataku tadi cuma sebagai peringatan untukmu. Agar lebih waspada terhadap orang yang tak dikenal." Ucap Reyhan memberi nasehat kepada gadis yang di boncengnya ini.


Tak berselang lama mereka tiba di halaman depan rumah si gadis. Reyhan pun berhenti dan membiarkan si gadis turun dengan perlahan dan hati hati. Sesudah itu ia langsung berbalik arah dan memacu motornya pergi meninggalkan si gadis yang sudah ada di depan rumahnya.
Tanpa memberinya kesempatan untuk berterimakasih telah mengantarkan pulang.


TBC....

S.O.L.O (Story Of Love)

Bab 6

Beberapa hari setelah dirinya meminta bantuan kepada teman lamanya. Bunga belum juga mendapatkan kabar atau informasi apapun. Bahkan ada beberapa waktu itu temannya sulit untuk di hubungi.
Ia merasa tak seperti biasanya temannya itu sulit untuk mencari tahu suatu hal.
Sebab Bunga sendiri tahu biasanya temannya itu selalu bisa diandalkan.

Tapi siang tadi nampaknya dirinya seperti mendapat secercah harapan. Ia menerima sebuah pesan di ponsel untuk mengajaknya bertemu. Memang ia tidak mengenal siapa yang mengirim pesan tersebut, karena hanya terdapat nomor saja. Tapi ia tahu bahwa itu Revan yang menggunakan nomor lain.
Bunga menjalani waktu bekerja hari ini dengan gelisah. Hatinya gusar dan namun juga penasaran, ia ingin segera tahu informasi apa yang dibawa oleh temannya itu. Hingga membuat dirinya tidak fokus dalam bekerja dan beberapa kali melihat waktu dari jam tangan yang dipakainya.

*****

Coffee Time.

Di sebuah kafe Bunga duduk dan sambil menunggu seseorang. Setelah lelah bekerja seharian akhirnya sesuatu yang diharapkannya ada, yaitu informasi tentang Reyhan. Namun ia sudah menunggu cukup lama. Bahkan minuman yang dipesannya hampir habis, namun Revan masih belum juga datang.
Beberapa kali dirinya melihat kanan kiri serta pintu masuk keluar kafe tersebut, berharap Revan segera datang. Ia pun memutuskan untuk mencoba menghubunginya namun mendadak ia merasakan ada yang menepuk bahunya dari arah belakang.

"Kau....?!" Ujar Bunga saat menoleh ke belakang. Matanya melotot tajam, ia sangat terkejut saat ini.

"Haha... Tak usah terkejut begitu..." Suara orang yang mendapati keterkejutan Bunga. Ia lalu duduk di bangku depannya.

"Kenapa kau ada disini?" Tanyanya.

"Apa kau bodoh atau pura pura lupa." Jawab lelaki ini.

"Hah!!! Apa Maksudmu!" Tegas Bunga agar Reyhan menjelaskan sesuatu padanya.

"Jika kau mempunyai otak dan menggunakannya untuk berpikir... Kau pasti akan tahu untuk apa aku disini." Seru Reyhan dengan kata kata yang tajam.

Bunga terdiam sesaat untuk mencermati dan mencerna kata kata lelaki ini, sejenak dia bingung dengan apa yang dipikirkan olehnya. Namun sekarang dia tersadar bahwa bukan Revan yang mengirim pesan terhadapnya melainkan Reyhan.

"Hahaha..... Akhirnya kau sadar. Setidaknya aku tahu otakmu masih berfungsi dengan baik walau jarang digunakan." Suara Reyhan menghina lawan bicaranya.

"Lalu bagaimana kau bisa mendapatkan nomor handphone ku?" Tanya Bunga lagi.

"Itu bukanlah suatu hal yang sulit bagiku.." Jawabnya.

"Lalu untuk apa kau menemuiku?!!" Ucap Bunga dengan kesal. Ia merasa sangat marah sekali, ia saat ini ingin memukul wajahnya yang sombong itu.

"Lebih baik kau tahan amarah itu. Aku tahu semua hal yang kau lakukan... Dan juga tentang kau menyuruh temanmu untuk mencari tahu tentang diriku."

Keterkejutan Bunga bertambah kali ini. Ia merasakan pusing yang luar biasa, seperti ada palu besar yang menghantam kepalanya. Ia sudah muak dengan pertemuan ini. Ia akan pergi dari kafe sekarang juga.

"Lebih baik kau tak pergi..." Ujarnya sambil memberikan isyarat pada Bunga sesaat setelah ia melihat lawan bicaranya itu akan berdiri.

Bunga yang hampir sempat berdiri kembali pada sikap duduknya tadi. Ia kemudian lantas bertanya. "Apa yang kau tahu tentangku dan apa yang kau inginkan dariku."

"Semuanya dan tidak ada..." Jelasnya.

Bunga tahu bahwa orang yang duduk di depannya saat ini adalah orang yang pintar dan licik. Ia harus berhati hati dalam setiap bertindak saat ini. Ia juga merasa bahwa orang ini begitu menakutkan, bahkan ia tahu ia lebih licik daripada Ular, ataupun Serigala.
Ia pun mencoba kembali untuk tenang, meredakan rasa amarah dan mengatur nafasnya kembali. Ia juga tidak boleh menunjukkan ekspresi apapun terhadap Reyhan.

"Nampaknya kau sudah sedikit lebih tenang...Jadi aku akan segera bertanya padamu." Kata Reyhan.

"Apa maksudmu?" Tanya Bunga.

"Karena pertemuan terakhir kita bernuansa yang buruk bagaimana kalau kita sedikit bermain?" Jelasnya.

"Bermain?" Ucap Bunga yang semakin bingung akan hal ini. Ia merasa bahwa laki laki ini tidak waras.

"Ya... Kita akan bermain. Kita akan saling bertanya satu sama lain. Dan kita wajib menjawab pertanyaan yang diajukan pada kita. Hahaha.. Bukankah ini menjadi menyenangkan.." Jawabnya disertai tawa dan sebuah senyum.

"Baiklah..." Jawab Bunga.

"Okay kau akan ku beri kesempatan bertanya terlebih dahulu." Ujarnya.

"Darimana kau tahu tentang diriku.." Tanya Bunga.

Lelaki ini hanya tersenyum mendengar pertanyaan darinya, ia tak menjawab pertanyaan itu melainkan mengambil sesuatu dari tas yang ia bawa, dan kemudian menunjukkannya ke arah Bunga.

"Buku...?" Sahut Bunga dengan heran.

"Sekarang giliran ku yang bertanya. Apa kau paham!" Jelasnya.

Sementara Bunga hanya terdiam saat ini. Ia menunggu pertanyaan apa yang terlontar dari mulut laki laki ini. Ia pun mencoba untuk bersikap tenang.

"Apa yang membuatmu tertarik mencari tahu tentang diriku?" Tanyanya.

"Entahlah... Menurutku kau memiliki keanehan.." Kata Bunga menjawab pertanyaan dari Reyhan.

"Buku apa itu?" Tanya Bunga balik.

"Ini hanya sebuah buku yang berisi tentang data semua orang yang ada di wilayah hidupku. Atau lebih tepatnya orang yang berhubungan dengan diriku." Jelasnya.

Bunga tambah heran dengan Reyhan. Untuk apa orang ini mengumpulkan data semua orang, saat ini ia berpikir bahwa laki laki yang duduk di hadapannya ini memang tidak waras.

"Lalu bagaimana kondisi temanmu yang kau suruh untuk mencari tahu tentang diriku." Ucap Reyhan.

Mendadak ia teringat akan kondisi Revan. Ia merasa bahwa temannya itu dalam situasi yang berbahaya, ia tidak tahu apa yang orang ini lakukan pada Revan.

"Apa yang kau lakukan pada Revan!" Suara keras terlontar dari mulut Bunga.

Lelaki ini hanya tersenyum, ia kemudian  seperti mengingat ingat suatu hal yang terlupa atau terlewatkan oleh dirinya, hingga ia berkata sesuatu." Aku lupa menjelaskan aturan permainan ini...Hahaha.."

Bunga yang saat ini semakin marah dan sebentar lagi akan meledak, ia sudah benar benar marah akan sikap lawan bicaranya ini. Ia pun bersiap akan berdiri dan menambpar wajahnya itu.

Namun Reyhan lebih dulu berdiri dan melangkah ke arah Bunga. Ia pun sedikit membungkuk saat sudah ada disampingnya, ia juga berbisik ke arah telinganya. "Aturan dari permainan ini adalah, peserta boleh pergi dan bebas tanpa harus menjawab satu pertanyaan yang diajukan kepada dirinya.. Hahaha.... Dan juga sebaiknya kau telepon temanmu itu sekarang, aku takut ia berada pada situasi yang sulit dan tidak di inginkan."

Setelah itu ia berjalan pergi meninggalkan Bunga dan kafe tersebut, sementara Bunga hanya bisa meneteskan air mata saat ini. Ia mencoba menghubungi temannya dan mengirimnya pesan, namun dirinya tidak mendapatkan balasan dari pesannya.
Dan ditambah Revan yang tidak mengangkat telepon darinya, hal itu semakin memperburuk suasana hatinya saat ini.

Ia pun bergegas keluar dan pergi dari kafe tersebut. Ia akan meminta bantuan sahabatnya untuk mencari tahu kondisi Revan saat ini.
Akan tetapi ketika dirinya sudah sampai di tempat parkir, ia mendapati ponselnya berdering panggilan masuk. Ia melihat siapa yang saat ini menelponnya.

"Halo... Revan kau baik baik saja kan?" Tanya Bunga panik.

"Iya aku baik baik saja... Maaf tadi ponselku aku matiin dan aku charger." Jawab suara dari ujung telepon.

Mendengar jawaban dari temannya membuat suasana hatinya sedikit lega, perasaan kacau dan gelisah kini sedikit berkurang. Ia pun sedikit berbicara dengan Revan melalui telepon sebelum memutuskan untuk pulang ke rumah.

TBC....