Halaman

Kamis, 18 Januari 2018

S.O.L.O (Story Of Love)

Bab 17

Musim telah berganti, udara yang panas berubah menjadi sejuk. Hawa tenang menaungi keindahan langit sore, hingga terlihat keindahan akan keagungan Tuhan. Tak ada yang berubah setelah kejadian itu, Nita terlihat sudah seperti dulu kala, ceria dan bahagia. Kecantikan dan keindahan yang sempat memudar kini telah nampak dan bersinar kembali. Hingga senyuman manis di bibirnya menggambarkan begitu senang dan bahagia hatinya saat ini.


Kini kebencian dan kemarahan terhadap Reyhan sudah hilang, dan muncul kembali rasa cinta yang sempat hilang di telan kecemburuan yang tak beralasan. Namun sekali lagi dirinya dihadapkan pada dilema diantara takdir yang bergema pada kedua lelaki yang ada di hatinya, antara Reyhan atau Arifin.


Nita masih terduduk di tempat tidurnya, perasaan bahagia sedang menyelimuti dirinya. Namun ia juga merasa bersalah pada Arifin, ia tidak tahu yang mana akan dipilihnya. Cinta di masa lalu atau cinta yang sekarang.
Namun setelah kejadian itu, Nita sama sekali tak pernah melihat atau mendengar kabar dari Reyhan.
Rumah Reyhan yang terletak beberapa meter dari rumahnya juga sudah seminggu kosong, sepi dan seperti tidak berpenghuni. Nita berpikir dimana Reyhan sekarang, dan mengapa ia menghilang, semua pertanyaan itu terus berkutat di kepalanya. Hingga ia tak tersadar ada yang datang dan memasuki kamarnya.


"Hayo melamun apa?" Teriak Tara yang mengagetkan kakaknya.


"Apaan sih kamu dek! Gak lucu tahu." Balas Nita yang tidak tahu kapan adiknya sudah berada di kamarnya.


"Hahaha.... Itu kak, aku disuruh ibu untuk kakak segera ganti baju. Arifin dan orang tuanya datang kemari." Ucap Tara memberitahu kakaknya ini.


"Apa?...Arifin..? Dan orang tuanya. Untuk apa?" Tanya Nita yang lebih terkejut ketika mendengar perkataan adiknya ini.


"Entahlah... Mungkin melamar kakak." Jawab Tara sambil mengejek kakaknya.


Semua lamunan indah Nita langsung sirna seketika. Ia masih belum sempat memikirkan tentang Arifin, laki laki yang selalu mencintainya dan selalu ada ketika dirinya sedang terpuruk.
Tak berselang lama Nita keluar dan turun dari kamarnya, di anak tangga ia melihat kekasihnya duduk bersebelahan bersama kedua orangtuanya, dan orang tua Nita. Arifin menatap Nita dengan sangat dalam saat ini.
Sesaat kemudian setelah sampai di ruang tamu, Nita langsung menyalami kedua orang tua Arifin.


"Jadi semua sudah lengkap ya? Bagaimana kalau segera kita mulai saja." Ucap seorang laki laki yang sudah tua dan berambut rapi, yang merupakan ayah Arifin.


"Iya pak..." Jawab ayah Nita disertai senyuman dari ibunya.


"Jadi Dek Nita.... Apakah dek Nita mau menjadi Istri dari putra saya." Tanya ibu Arifin. Wanita yang sudah cukup tua tapi dengan tampilan glamour.


Saat ini Nita tidak bisa menjawab, ia tidak tahu mana yang harus dipilih olehnya. Ia tidak ingin merusak cinta dan harapan Arifin demi sebuah kisah di masa lalu. Namun ia juga belum bisa menjawab, namun secara reflek kepalanya bergerak seperti mengangguk sebagai tanda setuju.


"Alhamdulillah..." Ucap semuanya ketika melihat anggukan kepala Nita yang pelan. Tak terkecuali juga Arifin, ia sangat senang dan bahagia, sebab kekasihnya mau menerima lamaran darinya. Ia langsung memegang tangan halus kekasihnya ini.


"Jadi sekarang kita tinggal membicarakan tanggal pernikahan dan mas kawinnya..." Ucap ayah Arifin.


"Ya betul..." Jawab Ridwan, ayah Nita. Mereka yang ada dirumah ruangan ini langsung berbicara dan bercanda sambil mengatur jadwal pernikahan putra putri mereka, sesekali mereka minum dan memakan makanan yang sudah disediakan.


Namun hati gadis ini sedang gelisah, ia tidak tahu apa yang akan dilakukan sekarang dan yang akan terjadi berikutnya. Ia berpura pura bahagia dan memberi senyum palsu kepada semua orang saat ini.


*****


Di Tempat Lain.


Seseorang duduk termenung di halaman depan rumah seseorang, ia bertamu dan ingin membicarakan sesuatu yang penting saat ini. Sudah hampir lima menit ia menunggu, namun tuan rumah yang di tunggu olehnya tak muncul juga. Ia sempat berdiri dan akan pergi, hingga sebuah teriakan terdengar oleh telinganya..


"Reyhan..." Suara yang memanggilnya.


"Kau lama sekali...." Gerutu Reyhan dengan tersenyum.


"Maaf... Maaf.. Hehehe." Sambut Anna yang sekarang sudah ada di hadapannya.


"Boleh aku duduk kembali..." Ucap Reyhan.


"Oh iya maaf... Silahkan duduk." Seru Anna sambil mempersilahkan tamunya untuk kembali duduk.


"Anna.... Apa yang kau lakukan!" Ujar Reyhan. Namun matanya menatap tajam ke arah Anna dan nada bicaranya sudah berubah.


"Maksudmu?" Jawab Anna bingung sambil menggaruk kepala.


"Mengapa kau menceritakan semua hal itu kepada Nita..." Seru Reyhan.


Anna kemudian mengambil nafas dan memejamkan matanya, ia seperti sedang menyiapkan diri untuk berkonsentrasi penuh. Kemudian gadis berambut pendek ini membuka mata, dan membuka suara. "Karena aku sudah tidak sanggup lagi berbohong."


"Berbohong?"


"Iya... Bertingkah seolah tidak tahu apa apa. Dan bertingkah bahwa kau baik baik saja dan tidak terluka." Sahut Anna yang seketika matanya berkaca dan menangis.


"Kau memang sahabat yang baik Anna, aku beruntung bisa hidup dan bersahabat denganmu...Tapi maaf semua harus sudah selesai." Ucap Reyhan sambil menenangkan sahabatnya.


"Maksudmu?" Tanya Anna dengan bingung.


Reyhan lalu menceritakan sesuatu hal kepada sahabatnya ini, dan ketika mendengarkan penjelasan dari Reyhan. Membuat gadis tomboy berparas cantik ini bersedih. Ia lalu menatap sahabatnya dan memeluknya.
Sementara Reyhan hanya terdiam ketika di peluk oleh sahabatnya yang sedang menangis ini.

****


Dua Hari Kemudian.


Setelah Arifin dan keluarganya datang ke rumahnya. Nita merasa bersalah dan dilema, ia harus berpikir jernih dan bersikap tenang, ia pun menghubungi Reyhan dan ingin bertemu dengannya. Sebab Reyhan belakangan ini sudah jarang ada dirumah dan tidak pernah terlihat lagi olehnya, hal ini membuat gadis cantik yang selalu ceria ini menjadi penasaran. Entah apa yang ada di dalam pikiran dan hatinya saat ini, yang jelas dirinya ingin bertemu dan berbicara dengan Reyhan.


Seperti masa lalu, Nita duduk termenung di bangku taman mengunggu kedatangan Reyhan. Ini adalah tempat kesukaan dia dan Reyhan ketika mereka masih bersama, seperti yang terjadi di masa lalu, saat keduanya sering menghabiskan waktu bersama. Nita mengingat kembali dan memutar semua kenangan itu di otaknya, ia merasa sangat bahagia dan waktu itu, dan andai saja ia tidak terlalu bodoh, maka semua hal yang terjadi dalam beberapa tahun belakangan ini tak pernah terjadi.


"Hei... Ada apa?" Tegur Reyhan.


Nita hanya menatapnya tanpa bersuara, namun matanya memberi isyarat dan seperti ingin menangis. "Kak..."


"Ada apa?" Tanya Reyhan. Akan tetapi ia seperti tahu kondisi yang sedang dialami gadis ini.


"Kau kemana saja belakangan ini dan mengapa kau tidak pernah pulang ke rumahmu?" Tanya Nita.


"Aku ada urusan dan itu bukan urusanmu." Jawab Reyhan dingin. Sambil sesekali matanya menatap wajah Nita.


"Apa kau tidak pernah menghargai aku dan perasaanku? Apa kau tidak mengerti apa yang aku rasakan!" Ucap Nita dengan nada tinggi disertai beberapa tetesan air mata.


"Jika kau ingin bertemu denganku dan hanya ingin mengatakan hal bodoh, maka lebih baik aku akan pergi saja." Jelas Reyhan yang bersiap melangkah pergi.


"Mmm... Hiks...hiks.. Kemarin Arifin dan orang tuanya datang melamar ku kak..." Ucap Nita dengan sedikit menurunkan nada suaranya.


"Bagus...Bukankah itu adalah hal yang kau harapkan selama ini." Balas Reyhan yang kemudian pergi meninggalkan Nita sendiri. Ia pergi tanpa mendengar kata kata dan penjelasan dari gadis yang di sukainya.


Sementara Nita hanya terduduk dan terdiam di bangku. Ia menangis dan merenungi nasibnya. Seharusnya dirinya bahagia saat ini, karena Arifin telah melamarnya beberapa hari yang lalu. Namun Reyhan telah datang kembali ke kehidupannya dan mengacaukan takdir bersama Arifin.
Hingga ia merasa bahwa dirinya terjebak pada dua Takdir.


*****


Malam semakin larut, namun gadis ini masih belum bisa tertidur, meski ia telah berusaha untuk tertidur dan meski matanya telah terpejam, namun pikiran masih aktif memikirkan dua laki laki yang kini ada di hidupnya.
Ia merasa seperti telah melakukan kejahatan yang kejam dan hina, namun ia juga sadar bahwa dirinya di hadapkan pada dilema, dan harus memilih salah satu serta harus mematahkan salah satu hati laki laki lainnya.
Ia berpikir bahwa seandainya saja dirinya lebih percaya pada Reyhan di masa lalu, dan seandainya Reyhan tidak datang di masa depan semua hal sulit ini pasti tidak akan terjadi.


"Tok...Tok.." Nita mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya. Dan setelah itu masuklah wanita yang sangat di sayangi ke dalam kamarnya.


"Kau belum tidur sayang?" Ucap Ayu yang bertanya pada putrinya.


"Belum Mah...Belum ngantuk." Jawab Nita berbohong.


"Ada yang mengganggu pikiranmu?" Tanya Ibunya.


Nita terdiam. Ibunya ini seperti tahu apa yang sedang di alami dan dirasakan oleh putrinya. Dan Nita juga merasa bahwa ia lebih dekat kepada ibunya daripada ayahnya, entah karena itu faktor keduanya sama sama wanita, atau faktor lain.


"Ceritakan pada ibumu ini dan jangan kau tanggung sendirian." Ujar Ayu yang duduk di ranjang anaknya.


Nita langsung bangun dari posisi berbaring dan duduk tepat di sebelah ibunya. Ia lantas memeluk wanita yang sangat ia sayangi di dunia ini.
Baru kemudian ia bercerita tentang Arifin dan Cinta yang kembali ada dan hadir untuk Reyhan.
Saat itu ibu dua anak ini tahu, bahwa putrinya sedang di hadapan pada dilema yang besar. Naluri dan perasaan ibu terhadap anaknya memang kuat dan akurat. Ia langsung membelai rambut anaknya sembari tersenyum padanya.


"Sholat dan berdoa lah pada Tuhan. Sholat lah Tahajud dan Istiharah, serta mohonlah petunjuk pada NYA. Insyaallah pasti kau akan mendapatkan jawaban dan jalan keluar dari permasalahanmu." Ujar Ayu yang memberi nasehat kepada putrinya. Kemudian ia berjalan keluar dari kamar putrinya dan mengucapkan selamat tidur pada padanya.


*****


TBC...

S.O.L.O (Story Of Love)

Bab 18

Dua minggu sudah berlalu, dan Nita telah beberapa waktu dalam belakang ini menjalankan nasehat dari ibunya. Tanggal pernikahan dirinya dengan Arifin juga sudah ditentukan dan semakin dekat setiap harinya.


Akan tetapi hatinya belum bisa menentukan atau memastikan tentang siapa yang dipilih. Sebenarnya ia sudah memilih Arifin, namun ada suara lain di dalam hatinya yang mendukung Reyhan. Namun nampaknya gadis ini memilih Arifin, laki laki yang ada ketika dirinya sedang jatuh dan terpuruk, laki laki yang beberapa tahun ke belakang selalu ada di sisinya, dan menemani serta mendukung semua dan segala hal yang dilakukannya.


Dan tak berselang lama Bunga, dan Merlin datang ke rumah sahabatnya,  Keduanya merasa sudah lama mereka tidak berkumpul bersama atau berkunjung ke rumah sahabatnya. Kedua gadis ini turun dari mobil dan bertamu ke rumah Nita.


"Assalamualaikum...Nita." Salam Bunga dan juga memanggil sahabatnya.


"Nita..." Panggil Merlin.


"Iya sebentar..." Terdengar suara balasan dan kemudian di ikuti kemunculannya.


"Kau lagi libur kan?" Tanya Merlin.


"Iya tuh memang kenapa?" Tanya Nita sambil bingung.


"Tidak apa apa... " Balas Bunga.


"Lihat Bunga bahwa tebakan ku benar.." Seru Merlin sambil mengejek sahabat yang datang bersamanya.


"Iya iya kau menang... Puas?" Guman Bunga dengan kesal ke arah Merlin yang dari tadi meledek dirinya.


Sedangkan Nita hanya semakin bingung dengan tingkah dua sahabatnya ini. Tapi terkadang mereka juga sering bertingkah aneh dan lucu, senyum kecil tergambar dari wajah manisnya. Nita menyuruh kedua sahabatnya untuk duduk sedangkan dirinya masuk ke dalam rumah untuk membuatkan minuman kepada kedua sahabat baiknya itu.


Saat sedang menunggu Nita yang membuatkan minuman untuk dirinya dan Merlin. Bunga hanya melihat dan menatap rumah tetangga Nita.
Rumah yang dalam waktu beberapa bulan terakhir ini ditempati oleh Reyhan, namun tak seperti dulu, kali ini rumah itu terlihat kotor, sepi dan sunyi, seperti sudah lama tak pernah ditempati. Tentu saja hal ini menimbulkan sedikit pertanyaan di benak gadis kurus ini, dimana dan sedang apa Reyhan.
Hingga suara Nita yang datang membuyarkan lamunannya.


"Ini minum dulu." Tegur Nita sambil meletakkan minuman yang ia bawa di meja.


"Terimakasih sayang..." Jawab Merlin dan Bunga dengan kompak.


"Oh iya Nit kok rumah itu sepi?" Ujar Merlin. Mendengar pertanyaan dari Merlin, Bunga  menyenggol siku tangan Merlin sebagai kode.


"Tidak apa apa kok...Aku sudah lebih baik." Kata kata dari Nita yang tahu kelakuan kedua sahabatnya ini. Ia pun sempat tersenyum kepada keduanya.


"Iya seperti sudah lama tidak ditempati?" Tanya Bunga kemudian. Namun kali ini Merlin yang sedang meneguk minumannya langsung menatap tajam ke arah Bunga. Ia seperti memberi gadis itu kode balik.


"Entahlah aku juga tidak tahu... Sudah lebih dari dua minggu rumah itu kosong. Entah kemana dia dan sedang apa dia sekarang... Aku tidak tahu." Jawab Nita yang sempat terdiam sebelum melanjutkan kata katanya kembali.


"Lalu bagaimana persiapanmu sendiri?" Suara Merlin yang memecah nuansa sedih yang sempat terjadi.


"Persiapan?" Tanya Nita sambil mengangkat satu alisnya.


"Iya Persiapan pernikahan kamu dan Arifin, bukankah tinggal dua minggu lagi?" Tambah Bunga.


"Semua berjalan lancar dan terkendali... Hahaha" Jawab Nita dengan sedikit melucu. Ia sudah bercerita kepada kedua sahabatnya tentang Arifin yang melamar dan mengajaknya menikah. Mereka adalah orang pertama yang mendengar kabar bahagia itu.


Ketiga gadis ini juga bergosip dan bercerita banyak hal. Seperti yang dilakukan gadis gadis lain di usia mereka, mereka berbicara dan bercanda dengan segala lelucon yang ada. Hingga membuat ketiga gadis ini lupa waktu.


"Nampaknya sudah sore...Aku pamit dulu ya?" Ujar Merlin sambil melihat waktu di jam tangan yang ia kenakan.


"Iya aku juga..." Sahut Bunga yang juga berdiri dari tempat duduk.


"Kok gitu?" Seru Nita dengan sedikit cemberut.


"Tenanglah Tuan Putri besok atau kapan kapan kami datang lagi.." Ucap Merlin yang menghibur sahabatnya dengan sedikit mengejek.


"Iya deh.." Jawab Nita. Nita melihat kedua sahabatnya masuk ke dalam mobil dan kemudian pergi meninggalkan rumahnya. Bagi gadis ini mereka adalah sahabat terbaik yang pernah ada. Dan ia bersyukur di dunia ini memiliki sahabat seperti mereka, dan juga Nisa. Yang sekarang lebih sibuk dan banyak membuang waktu untuk keluarganya, tapi meski begitu Nisa juga tetap bagian dari mereka berempat.


*****


Setelah berkunjung ke rumah Nita dan melihat kondisi sahabatnya, Bunga merasa sedikit lega. Ia terlalu khawatir akan kondisi sahabatnya yang sempat sedih dan hampir saja depresi.
Namun ia yang sekarang sedang duduk termenung diruang tamu, merasa ada sesuatu atau sedikit hal yang mengganggunya. Apalagi dan bukan tentang mantan pacar sahabatnya di masa lalu, Reyhan.
Ia merasa bingung, apa yang terjadi dengan laki laki itu ia datang dan pergi sesuka dan semaunya sendiri, juga terkadang sering menghilang seperti hantu. Meskipun sempat berbicara dan bertemu dengan Reyhan beberapa kali, gadis yang memiliki kemampuan analisis akurat ini sulit mendekripsi diri Reyhan.


Laki laki itu terlalu misterius dan sulit di tebak. Banyak teka teki dan misteri di dalam dirinya. Bunga yang sekarang sedang sibuk dan memfokuskan pikirannya kemana mana malah tidak peduli dengan acara televisi kesukaannya yang selalu di tonton olehnya. Sebab saat ini pikirannya sedang pergi dan mengumpulkan semua data yang di peroleh dirinya. Hingga bunyi ponselnya menghancurkan konsentrasinya seketika.


"Siapa sih yang menganggu malam malam begini." Gerutu Bunga yang mengambil ponsel dan membukanya. Ternyata berisi sebuah pesan masuk yang membuat bibir mungil gadis ini tersenyum..


"Ternyata panjang umur juga.." Batinnya.


17.00 WIB.


Keesokan harinya atau lebih tepat bila dikatakan satu hari sesudahnya. Bunga masih berhias diri dan berdandan di depan kaca. Setelah selesai ia langsung keluar dari kamarnya dan pergi entah kemana mengendarai sepeda motornya.


Sedangkan di tempat lain Reyhan duduk sambil menikmati minuman yang di pesannya. Sudah hampir satu jam ia duduk disana sendiri dan menikmati suasana ini, tidak ada teman atau kawan yang duduk bersamanya atau di ajak berbagi atau bercerita. Ia yang dalam beberapa waktu ini lebih suka berada di kafe dan tidur di hotel. Entah hal apa yang bisa membuat lelaki cerdas ini begitu murung dan bersedih.


"Maaf kau sedikit terlambat..." Sapa seorang gadis yang menghampiri dan tersenyum padanya.


"Hmmm kau memang selalu terlambat..." Jawab Reyhan dengan ogah ogahan dan mempersilahkan tamunya itu duduk.


"Ada apa Reyhan? Kenapa kau tiba tiba ingin bertemu denganku?" Tanya Bunga yang bingung dengan sikap temannya itu.


"Tidak ada apa apa. Aku hanya ingin bertemu dan berbincang sedikit dengan temanku." Jawab Reyhan simple.


Bunga yang mendapati kondisi dan sikap aneh dari Reyhan sedikit curiga. Tidak seperti biasanya laki laki ini bertingkah wajar atau seperti manusia pada umumnya jika tidak ada hal yang direncanakan olehnya.
Sebab Bunga tahu bahwa Reyhan adalah orang yang penuh misteri dan kejutan, namun kali ini ia melihat wajah lelaki ini sedikit murung dan sedih. Tidak seperti ketika ia bertemu dengannya bebarapa waktu yang lalu, ia terlihat tersenyum dan menakutkan. Akan tetapi sekarang ia terlihat sedang sedih, seperti ada sebuah awan mendung yang menggantung di atas kepalanya.


"Apa Tama memberi kabar denganmu?" Tanya Reyhan mulai berbicara.


"Iya...Setiap hari dia selalu menelfonku." Jawab Bunga sambil menatap aneh ke arah Lawan bicaranya ini.


"Berhentilah menatapku seperti itu dan menganalisa diriku saat ini." Ucap Reyhan yang membuat gadis ini terkejut.


"Darimana kau tahu?" Tanya Bunga bingung. Ia dari tadi menatap Reyhan dan menganalisa kondisi laki laki ini. Namun ia tak pernah menyangka bahwa Reyhan sadar bahwa dia sedang dianalisa.


"Tanpa harus melihat dirimu aku juga sudah tahu. Semua yang kau lakukan sudah tercium olehku sedari tadi." Ucap Reyhan dengan sedikit tersenyum.


Bunga yang melihat bahwa Reyhan sedikit tersenyum telah merasa lega. Baginya laki laki tampan dan menyeramkan seperti Reyhan akan aneh bila bersikap dan bertingkah wajar. Tidak ada gertakan atau anacaman yang biasa ia katakan dan lakukan, tentu saja membuat orang yang mengenal diri Reyhan merasa aneh dan tambah takut.
Namun sepertinya gadis ini sudah sedikit bisa memahami karakteristik dari Reyhan, meskipun belum dengan detail namun ia sudah merasa puas dengan data yang baru saja didapatkan olehnya.


"Lalu untuk apa kau mengajak dan mengundangku kesini?" Tanya Bunga.


"Sudah aku jelaskan bahwa aku hanya ingin berbincang sedikit hal denganmu." Jawab Reyhan singkat.


"Apa kau yakin?" Ucap Bunga yang semakin penasaran.


"Tidak...Hahaha." Jawab Reyhan.


Sementara Bunga hanya bergumam kesal dan menggerutu lawan bicaranya. "Reyhan.. aku serius."


"Kau lihat wajahmu sangat lucu ketika kau penasaran. Hahaha.... Oh iya kalau Tama pulang sampaikan salahku padanya." Seru Reyhan.


"Kenapa tidak kau sendiri yang menemuinya ketika ia pulang." Ujar Bunga yang masih kesal.


"Seandainya aku bisa... Aku akan berpamitan padanya sendiri." Balasnya.


"Maksudnya?" Ucap Bunga yang semakin bingung dengan kata kata Reyhan.


"Mungkin dalam dua minggu kedepan ini aku sudah harus pergi, jadi anggap saja pertemuan ini sekaligus salam perpisahan dariku." Jelas Reyhan kepada gadis ini.


"Pergi...? Kemana? Apa kau tidak akan kembali lagi kesini." Pertanyaan beruntun dari bunga.


"Ke Sydney, Australian. Mungkin tidak akan dalam waktu yang singkat aku bisa kembali lagi. Dan sampaikan juga salamku pada Nita." Jawab Reyhan.


Mendengar perkataan dari Reyhan membuat gadis berambut panjang dan bertubuh kurus ini sedikit merasa sedih, meskipun dia baru mengenal Reyhan beberapa bulan, dan walaupun dia bukan teman akrab. Namun Bunga tetap merasa bahwa Reyhan sebenarnya teman yang baik, walaupun dengan sifat dan sikap aneh yang dimilikinya.


"Ya sudah pesan saja semua makanan sesukamu...Hari ini aku yang traktir." Seru Reyhan sambil mengangkat tangan kanannya sebagai simbol memanggil pelayan kafe.


*****


TBC...

S.O.L.O (Story Of Love)

Bab 16

"Apa aku boleh sedikit bercerita lagi.." Ucap Anna sambil menenangkan Nita.


"Iya... Hiks hiks..." Jawab Nita yang masih menangis tersedu sedu. Ia tidak pernah menyangka bahwa kebenaran akan sesakit ini.


Anna memejamkan matanya, beberapa kali ia mengambil nafas. Lalu ia membuka matanya dan menoleh ke arah Nita, hingga ia memalingkan wajahnya dari Nita.


"Aku mengenal Reyhan sudah sangat lama. Awal aku mengenalnya sebenarnya ketika kami masih duduk di bangku Sekolah Dasar, bukan ketika aku berkuliah dan kembali ke kota ini. Saat itu kami masih kecil, aku dan Reyhan tergabung dalam satu kelas. Reyhan semasa kecil, bukanlah seperti sekarang, ia berbeda dan sangatlah jauh berbeda.
Saat itu kami menjadi teman satu kelas, ia hanyalah bocah yang sangat pintar  semasa usianya, namun ada juga kisah menyedihkan darinya. Reyhan adalah anak panti asuhan, ia tidak pernah tahu siapa orang tuanya, selama waktu itu ia hanya bocah biasa. Yang suka sedih dan menangis bila ada yang mengejek tentang darimana asal usulnya. Tapi asal kau tahu, bahwa sejak itulah Reyhan menjadi laki laki yang kuat. Ia berubah dari bocah cengeng menjadi bocah yang ditakuti oleh orang orang, dan beberapa temannya.
Ia terus berlatih dan menggunakan kemampuan otaknya yang hebat untuk menakuti orang orang, ia juga mengubah gaya bicara dan tingkah lakunya.
Tapi bagiku Reyhan hanyalah sebuah bocah yang mencoba menghapus kesedihannya. Namun hatinya tetap hangat dan selalu baik, walau ia sering berkata kasar dan suka mengancam orang. Pertemanan kami berjalan singkat, ketika selesai dari Pendidikan Sekolah Dasar, aku harus ikut pindah bersama orang tuaku ke luar kota, karena ayahku mendapatkan pekerjaan dan harus menetap di kota lain. Dan saat itu aku sudah tidak bertemu lagi dengan Reyhan.
Hingga aku kembali ke kota ini dan berkuliah di Universitas sama sepertimu. Saat itulah aku bertemu lagi dengannya, aku kira dia sudah tidak mengenal atau melupakan diriku. Namun aku terkejut bahwa dia masih mengingat semua detail tentang diriku, dia memang mempunyai otak yang hebat.
Dan asal kau tahu Nita, aku dan Reyhan hanya sahabat, tak berlebih ataupun berkurang. Dan ketika aku tahu Reyhan dekat denganmu, aku sangat senang. Kelakuan dan tingkahnya yang buruk mulai berkurang itu karenamu."


Penjelasan dan cerita dari Anna tentang sahabatnya. Air matanya menetes saat  menceritakan masa lalu tentang Reyhan. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan terdiam beberapa saat.


Sementara Nita hanya terpaku diam, semua hal ini sangat tidak masuk akal, namun semua fakta dan bukti menunjukkan semuanya. Reyhan laki laki yang pernah menggores luka di hatinya, ternyata laki laki yang sangat baik, sebagai mantan teman terdekat seharusnya ia tahu akan hal itu. Ia yang merasa bahwa sudah tahu segala hal tentang Reyhan, ternyata tidak tahu apa apa. Dan semua pertanyaan tentang orang tua Reyhan sudah terjawab.
Tubuhnya terlalu lemah untuk berdiri, ia tak memiliki tenaga untuk bangkit, kesedihan dan rasa bersalah telah menguras semua kekuatan yang dimilikinya.


****


Tiga hari telah berlalu setelah kejadian itu. Pagi ini sinar mentari lebih cerah dan hangat, juga udara pagi ini juga terlampau sangat segar dan sejuk. Alam seperti memberi isyarat pada manusia bahwa hari ini adalah saat terbaik untuk memulai sesuatu hal yang baru dan positif.


Namun hal itu nampaknya tak terjadi pada Nita. Gadis yang selalu ceria, enerjik, serta bersemangat ini hanya terbaring dan berkutat dengan tempat tidurnya. Tidak ada kegiatan yang ia lakukan selama tiga hari ini, hanya makan dan minum sambil sesekali menangis.
Sejak bertemu dengan Anna dan mengetahui kebenaran akan semuanya, membuat dirinya berada dalam dilema hidup. Dia merasa seperti dihantam oleh ombak yang sangat besar dan kuat. Yang kemudian membuka tabir kebenaran serta masuk dengan paksa ke dalam otaknya. Tak ada yang bisa ia lakukan sekarang, selain bersedih dan menangis.


****


"Ada apa dengan putrimu?" Tanya Ridwan yang sudah selesai menyantap sarapan paginya.


"Entahlah aku juga tidak tahu... Tapi sudah tiga hari ini ia bersikap seperti itu.." Jawab Istrinya yang menemaninya sarapan.


"Hmm... Apa mungkin ia bertengkar dengan Arifin?" Sahut Ridwan yang khawatir dengan kondisi putrinya. Ia tidak pernah ingat tingkah laku anak gadisnya seperti ini.


"Aku tidak tahu... Tapi mungkin aku akan bertanya kembali padanya." Ucap Ayu yang mencoba menenangkan hati suaminya. Ia tahu bahwa suaminya ini sangat sayang kepada putri mereka, namun jangan sampai rasa sayangnya menimbulkan kekhawatiran yang akan mengganggu pekerjaannya.


Setelah itu Ridwan berpamitan pada istrinya untuk berangkat kerja. Dan sang istri mengantarnya sampai pintu rumah, juga tak lupa mencium tangan suaminya.
Selesai itu ia membereskan meja makan dan membersihkan rumahnya, baru kemudian ia akan menemui putrinya dan berbicara padanya sebagai sesama wanita. Cukup lama baginya untuk bersih bersih rumah, butuh waktu hampir dua jam lebih untuk melakukannya, mulai dari mencuci piring dan gelas, menyapu dan mengepel rumahnya.


Hingga semaunya sudah selesai, wanita ini mandi dan berganti pakaian. Selepas itu ia mendatangi anaknya yang masih berselimut kalbu di lantai atas. "Tok..Tok" Beberapa kali ibu ini mengetuk pintu kamar anaknya, namun tidak ada sahutan atau terdengar sesuatu. Ia pun mencoba membuka pintunya, dan ternyata tidak di kunci.
Ia masuk ke dalam kamar putrinya yang sedikit gelap dan remang remang. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan putrinya ini, namun semua itu terlihat dari kondisi kamarnya. Kamar yang terbiasa terang, bersih, wangi dan indah ini terlihat sangat gelap, kotor dan sedikit menakutkan. Dan sepertinya itu adalah gambaran perasaan dari Nita saat ini.


"Apa aku baik baik saja sayang?" Ujar ibunya yang menghampiri dan duduk di pinggir tempat tidur.


Nita langsung bangun mengetahui ibunya ada di kamar dan tepat berada di sampingnya. Rambut Nita yang biasanya terlihat indah dan halus, menjadi berantakan, matanya merah dan pupil matanya membengkak sebagai tanda ia terus menangis dan bersedih beberapa waktu ini. Wajah ceria dan cantiknya berubah menjadi kusut dan tanpa terlihat semangat hidup.
Saat inilah Nita hanya menatap ibunya dan kemudian memeluknya.


"Apa yang terjadi denganmu sayang?" Tanya Ibunya sekali lagi. Sementara Nita hanya memeluk erat ibunya.


"Ceritakan pada ibumu ini, dan kita akan cari solusi dan jalan keluarnya?" Ujar Ayu yang tahu bahwa putrinya sedang mendapatkan masalah yang berat dan membuat putrinya menjadi sedikit depresi.


Mendengar suara ibunya berbicara kepadanya membuat gadis ini merasa sedikit tenang. Baginya ibunya adalah bidadari yang tahu segala hal tentangnya, juga tentang isi hatinya.
Nita lalu menceritakan semua hal tentang Reyhan kepada ibunya, juga tentang kebenaran dan kenyataan yang baru beberapa hari yang lalu ia terima. Dan ketika selesai bercerita tentang masalah yang dialaminya kepada ibunya, air mata gadis ini kembali tumpah dan kesedihan seperti sedang menaungi dan bertempat tinggal dalam dirinya.

"Seharusnya kau bersyukur sayang...Tuhan masih memperlihatkan kebenaran padamu." Ujar Ayu yang membelai rambut anaknya dengan lembut dan perlahan.

Nita tidak tahu dan bingung dengan perkataan ibunya barusan. Ia sama sekali tidak mengerti maksud ucapan dari ibunya. "Maksud Mama apa?"

"Berarti Tuhan masih sayang padamu. Dan tidak membiarkan terus terjerembab dalam lembah kebencian." Ujar Ayu yang memberi nasehat pada putrinya.

"Iya Ma.." Jawab Nita yang mulai mencerna nasehat dari ibunya secara perlahan.

"Sekarang mandi dan bersihkan dirimu. Terus siapkan mental dan minta maaflah pada dia... Dan untuk selanjutnya biar Tuhan yang menunjukkan jalannya padamu." Tambah Ayu yang masih membelai lembut rambut putrinya.

Nita kemudian memeluk ibunya dan beranjak dari tempat tidur. Ia menuruti nasehat dari ibunya. Sebab ibunya selalu tahu hal yang terbaik untuk putrinya ini.

****


Pukul 10.00.


Nita yang pagi ini merasa lebih baik setelah kemarin telah bercerita dan curhat kepada ibunya. Ia pun langsung melaksanakan nasehat dari ibunya. Dan ia berharap setelah melakukan hal ini tidak ada kesedihan ataupun rasa bersalah di kemudian hari.
Ia duduk di bangku taman dan menunggu seseorang, lebih dari lima belas menit ia menunggu. Namun seseorang yang ditunggu olehnya tak kunjung datang. Hingga sudut matanya melihat seseorang yang berjalan dan menghampirinya.


"Ada apa lagi? Apa kau ingin mengatakan hal bodoh yang sama lagi." Sapa Reyhan yang sudah berdiri di depan Nita.


Nita melihat wajahnya dan kemudian ia mengatakan sesuatu pada Reyhan. "Aku sudah tahu semuanya...Kak."


"Apa maksudmu?" Ucap Reyhan dengan sedikit bingung. Namun dari nada suaranya gadis ini sudah melunak, ia pun mulai berpikir apa maksud dari Nita.


"Aku sudah tahu semuanya, tentang semua hal dirimu..." Jawab Nita yang kemudian menundukkan wajahnya. Ia mencoba mengontrol emosinya agar tidak meledak.


"Hmm pasti Anna sialan yang memberi tahu hal ini padamu." Seru Reyhan dengan memandang lawan bicaranya.


"Iya kak..." Jawab Nita dengan mengangguk pelan dan tetap menundukkan wajahnya.


"Ya sudah..." Balas Reyhan. Ia pun langsung berbalik arah dan akan melangkah pergi.


"Kenapa kak...Kenapa waktu itu aku tidak menjawab atau memberikan aku alasan!" Ucap Nita dengan menaikkan nada suaranya. Ia tahu bahwa Reyhan akan pergi. Kali ini ia mengangkat wajahnya dan memandang lawan bicaranya.


Namun Reyhan yang berbalik arah tetap melangkah ke arah lain. Ia sama sekali tidak peduli ataupun menggubris perkataan dari Nita. Ia hanya melangkah pergi menjauhinya. "Saat itu aku bisa memberimu seribu alasan, namun apakah hatimu bisa percaya padaku ketika itu."


"Maaf kak...Maafkan aku waktu itu yang terlalu egois dan mudah percaya... Hiks Hiks.." Ucap Nita yang kemudian menangis. Kesedihan kembali datang dan membuat air matanya kembali menetes. Serta rasa bersalahnya memperburuk situasi hatinya saat ini.


"Itu Bukan salahmu... Dan aku juga memaafkan salahmu. Aku memahami kondisimu saat itu." Ucap Reyhan yang kini kembali ada di depan Nita dan menatap wajah gadis ini.


Saat gadis ini ingin berucap dan meminta maaf kembali. Namun tiba tiba saja Reyhan memeluknya dan mencium keningnya. Hal yang tak pernah ia alami ketika keduanya bersama di masa lalu.
Semua perasaan Nita kini campur aduk menjadi satu. Perasaan atas rasa bersalah dan rasa sedihnya langsung hancur dan menghilang begitu mudah. Kegelisahan dan gelombang yang ada di dalam hatinya juga sudah sirna.


Nita tidak tahu kenapa Reyhan selalu bisa membuatnya tenang dan nyaman. Berada disisinya dan di peluk seperti sekarang membuat gadis ini merasa hangat dan sejuk. Air matanya berhenti menetes,  hatinya yang hancur dan berantakan kembali damai.


Waktu seperti berhenti untuk sesaat, agar kedua manusia ini bisa menikmati waktu mereka sedikit lebih lama. Namun waktu juga yang harus menghentikan dan memisahkan mereka.


Reyhan melepas pelukannya pada Nita dan menatap dalam pada kedua mata gadis ini sambil mengatakan sesuatu. "Bagiku kau lebih dari sekedar cinta, kau adalah cahaya dan aku adalah kegelapan. Kau datang dan menerangi diriku juga hidupku, dan sebagai gantinya aku akan melindungi dan mencintaimu walau harus dalam kegelapan. Sebenarnya aku ingin kau kembali padaku, berada di sisiku. Namun dirimu bukan lagi milikku dan aku akan bahagia meski kau tak bisa bersamaku."


Setelah itu Reyhan berjalan pergi dan meninggalkan Nita dengan sejuta perasaan. Namun senyuman manis dan indah sudah tergambar dari wajah gadis ini, keceriaan telah hadir lagi dalam dirinya dan wajah cantiknya kembali memancarkan keindahan.


******


TBC...

S.O.L.O (Story Of Love)

Bab 15

Nita yang seharian ini pergi ke Mall untuk berbelanja, dan sekalian menghapus nuansa buruk dalam hatinya. Namun nampaknya apa yang di harapkan olehnya ini tak akan terwujud. Sebab saat dirinya menikmati makanan di Mall ini, ada seseorang yang menghampiri dan menyebut namanya. "Kau... Yunita Novianti kan?"


Nita hanya terdiam memandangi orang ini, dia tidak tahu siapa gadis yang menyapa dirinya. Gadis berambut pendek model jepang, dengan wajah yang cantik dan hiasan kaca mata. Ia terdiam dan mencoba mengingat siapa orang ini, namun nampaknya penyimpanan otaknya sedang error sekarang.


"Maaf anda siapa yah?" Ujar Nita sambil masih berusaha mengingat.


"Boleh saya duduk..." Jawab Gadis ini.


"Oh iya maaf... Tentu silahkan." Ucap Nita yang juga lupa mempersilahkan duduk.


Gadis ini kemudian duduk di seberang meja di hadapan Nita. Ia kembali bertanya padanya. "Apa kau tidak ingat aku?"


Nita hanya terdiam seraya masih sambil mengingat ingat sesuatu. Meskipun dia masih belum tahu atau ingat siapa gadis ini, namun wajahnya sangat familiar bagi dirinya. "Maaf saya tidak ingat dan mengenal anda."


"Hehehe... Tentu saja kau tidak mengenal tentang aku. Namun aku cukup baik mengenal dirimu..." Ucapan Gadis ini dengan senyuman yang sangat indah.


"Mengenal saya...? Sebenarnya anda ini siapa?" Ujar Nita yang seolah tak mengerti ucapan lawan bicaranya ini.


"Baiklah aku akan memperkenalkan diri. Namaku Anna Febrianti, teman dan sahabat mantan pacarmu, Reyhan." Jawab Gadis ini sambil mengulurkan tangannya.


Saat ini Nita langsung tersadar siapa sebenarnya orang ini, dia adalah gadis yang pernah ia lihat semasa waktu berkuliah dulu. Ia gadis yang pergi bersama Reyhan yang sempat dilihat dan direkam oleh Risti. Mengingat hal itu membuat Nita tidak ingin menjabat tangan lawan bicaranya, ia bangkit dari tempat duduk dan ingin pergi. Namun langkahnya kalah cepat dengan tangan gadis ini.
Tangan Nita sudah dipegang oleh Anna. Kemudian Nita menoleh ke gadis yang masih duduk dan memegang tangannya. Dari sorot mata Nita terlihat sebuah amarah dan kebencian yang sangat dalam.

Tentu saja hal itu dipicu dari semua kejadian di masa lalu. Ia menjadi penyebab dan penghancur hubungannya dengan Reyhan. Ia adalah orang yang jahat dan sama berdosanya dengan Reyhan.
Nita lalu menggerakkan tangannya dan melepaskan tangan yang sedang memegangi dirinya.

"Apa kau masih marah akan kejadian masa lalu?" Ujar Anna yang sudah bangkit dari tempat duduknya.

Namun Nita tidak ingin menoleh atau melihat. Ia ingin melangkah pergi, dan tidak mau mendengar atau menggubris ucapan gadis ini.

"Jika kau punya sedikit waktu... Ada hal yang ingin aku tunjukkan kepadamu." Suara Anna.

Saat ini Nita malah berbalik dan melihat gadis ini. Sebenarnya ia tidak ingin mendengar apapun lagi, namun hati dan otaknya sedang tidak sedang dalam satu irama. Otak kecilnya menyuruh untuk pergi dan meninggalkan tempat ini, namun hati dan naluri wanitanya membuatnya tetap berada disini dan ingin sedikit mendengarkan sedikit hal.

"Ikutlah denganku..." Ujar Anna. Anna kemudian pergi dan di ekori oleh Nita. Sampai akhirnya Nita yang pergi naik motor harus mengikuti mobil Anna.

****


Sebenarnya di tengah jalan Nita sempat ingin mengubah keinginannya. Namun sekali lagi nurani sebagai seorang wanita yang memaksanya untuk terus mengikutinya. Selang beberapa menit sampailah mereka pada sebuah halaman dan rumah yang besar.
Anna langsung keluar dari mobil dan diikuti oleh Nita yang turun dari sepeda motornya. Anna pun melihat dan menggerakkan kepala sebagai tanda agar Nita tetap mengikutinya.

Dan dengan langkah yang ragu ragu Nita berjalan tepat di belakangnya. Sebenarnya gadis ini ragu dengan apa yang akan di sampaikan pada dirinya. Namun mata Nita hanya melihat sekeliling dan mengagumi betapa luas dan indahnya rumah ini.

"Silahkan duduk... Ucap Anna yang mempersilahkan tamunya. Sementara Nita hanya mengangguk pelan. 
Anna pun masuk ke dalam rumah dan membiarkan tamunya itu sedikit menunggu di teras rumahnya. Tak kurang dari lima menit ia sudah kembali menemui tamunya dengan membawa minuman dan kado.


"Untuk apa ini?" Tanya Nita yang menerima dua buah kado dari Anna.


Sementara Anna lalu meletakkan dua gelas minuman di meja dan menyuruh Nita untuk membuka kedua kado tersebut. "Buka saja kadonya."


Kado yang pertama berukuran lumayan besar dengan bentuk persegi empat. Dan kado yang kedua berupa kotak kecil. Lantas Nita pun membuka kado yang diterimanya itu, ia membuka kado yang pertama, ternyata itu adalah sebuah gambar lukisan dirinya. Sebuah sketsa gambar wajahnya yang sangatlah indah, sketsa gambar ini sangat mirip sekali dengan wajah aslinya, pasti ini di buat dengan sangat sabar dan hati hati.


Dan sedangkan untuk kado kedua, yang berupa kotak kecil. Ia membukanya dan langsung di kejutkan oleh sebuah liontin. Sebuah kalung liontin sangat indah dan mahal. Namun Nita masih heran apa maksud dari semua ini.


"Apa maksudnya ini?" Ujar Nita yang melihat lukisan dan liontin ini. Ia mengernyitkan dahinya sebagai tanda bahwa dirinya tidak memahami.


"Semua itu dari Reyhan." Balas Anna.


"Reyhan...???" Ucap Nita yang semakin bingung.


"Kedua kado itu sudah sangat lama tersimpan di rumahku. Dan sampai hari ini akhirnya aku bisa bertemu dengan dirimu. Dan aku bisa langsung memberikan kado ini padamu, lalu aku bisa tidur dengan nyenyak malam ini." Jelas Anna diikuti dengan gurauan.


Nita melihat temannya ini dan sungguh tidak mengerti maksud dan tujuan dari Anna. Kado, dan Reyhan, apa sebenarnya yang ada di balik kedua hal ini. "Apa maksudmu? Jujur! Sama sekali aku tidak mengerti dan paham tujuanmu ini." Ujar Nita dengan sedikit menaikkan nada suaranya. Namun saat ini kegusaran sedang melanda hatinya.


"Maaf... Akan aku jelaskan..." Jawab Anna dengan tersenyum. Namun ia mempersilakan Nita untuk meminum minumannya terlebih dahulu sebelum mendengar cerita darinya.

"Semua hadiah ini dari Reyhan... Kau pasti tahu sesaat sebelum hubunganmu dan Reyhan memburuk. Kau akan berulang tahun, dan saat itu beberapa hari sebelumnya Reyhan memintaku untuk menemani dirinya pergi berbelanja kado hadiah di hari ulang tahunmu." Jawab Anna sambil menjelaskan secara perlahan kepada Nita.

Nita kembali memutar ingatan otaknya, dan ia langsung seperti mengingat sedikit hal tentang itu. Memang benar sebelum pertengkaran dan pertemuan terakhir dengan Reyhan itu berada pada bulan yang sama dengan kelahirannya. Namun ia kembali menghela nafas dan kembali memastikan hal itu dengan mengingat semua kejadian di masa lalu. "Apa semua ini benar?"

"Iya..." Jawab Anna dengan mengangguk pelan.

"Lalu kenapa Reyhan menghilang dan tidak pernah mengatakan apapun padaku saat itu, atau sekarang?" Tanya Nita dengan perasaan campur aduk. Matanya berkaca kaca, namun otaknya menolak semua hal ini, akan tetapi semua bukti dan suara hatinya mengatakan bahwa apa yang baru saja di dengar olehnya adalah kebenaran.

"Aku tidak tahu... Dan ketika aku mendengar hal itu. Aku sempat ingin menjelaskan padamu... Namun Reyhan saat itu menyuruhku untuk tidak perlu memberi tahu kebenaran ini padamu." Balas Anna yang mencoba menenangkan hati temannya ini.

"Lalu kenapa Reyhan menghilang dan pergi entah kemana?" Tanya Nita lagi. Kali ini tangisannya sudah pecah, air matanya mengalir dan menghiasi wajah cantiknya. Ia seperti tidak percaya tentang semua ini.

"Sebelum lulus dari kuliah, Reyhan sudah mendapatkan tawaran pekerjaan dari perusahaan terkenal dan terkemuka. Ia pernah mengirim surat lamaran kerja dan hasilnya, ia di terima. Namun saat itu ia ditempatkan di kantor cabang di Kota Malang. Sebenarnya ia tidak ingin menceritakan hal ini padamu, karena ia tidak ingin berpisah denganmu. Namun pertengkaran kalian dan kemarahanmu menjadikan semuanya terjadi. Dan asal kau tahu, kedua hadiah itu dibuat dan di beli Reyhan dengan Hasil keringatnya sendiri." Jelas Anna dengan detail.

"Apa Maksudnya? Hiks... Hiks..." Ucap Nita di sela tangisannya.

"Aku tahu kau tidak akan pernah tahu, dan Reyhan tidak akan menceritakan hal ini padamu. Sebenarnya selama kuliah....Mungkin dari SMA Reyhan telah bekerja paruh waktu. Mesti kadang ia mengancam seseorang untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan olehnya, akan tetapi selama ini ia bekerja sebagai pelayan restoran. Dan semua hasilnya itu di tabung dan disimpan di bank, hingga suatu hari ia mengambil beberapa uang di bank dan membeli liontin itu. Sedangkan untuk lukisan itu, ia membuat sketsa wajahmu dan membuatnya dengan sangat sabar, hingga kau bisa lihat hasilnya sekarang." Penjelasan dari Anna yang menghancurkan gunung es kebencian Nita. Kali ini dirinya benar benar hancur, kesedihan menyapa dirinya dan berdiam diri di dalam hatinya.

"Lalu apa maksud semua ini?" Tanya Nita dengan suara kacau.

"Kurasa kamu tahu..." Jawab Anna singkat.

"Kau salah aku tidak tahu. Apa kau pikir dengan memberi tahu semua hal ini, aku akan memaafkan dan kembali pada Reyhan!" Ujar Nita yang semakin kacau. Ia tidak bisa mengontrol emosi, kesedihan dan rasa bersalahnya.

"Aku tidak meminta hal itu... Namun dengan tahu sedikit kebenaran. Kamu bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi dan kenyataan tentang semua ini." Balas Anna yang kemudian memeluk dan menenangkan temannya ini.


*****


TBC...

Rabu, 17 Januari 2018

S.O.L.O (Story Of Love)


Bab 13

Dan semakin lama hubungan dua mahluk ini semakin dekat. Hubungan keduanya membuat semua anak anak kampus, dan Dosen menjadi bingung dan heran. Tidak mungkin seseorang yang begitu cantik dan baik hati seperti seorang bidadari, bersanding dan bersama manusia yang lebih pantas menjadi seorang iblis. Namun semua perkataan itu tidak membuat kedua orang ini marah, keduanya tidak pernah mempedulikan hal itu.


Begitu juga dengan Nita, ia tak harus dan tidak perlu mendengarkan suara suara yang selalu bergema di belakang telinganya. Menurutnya semua orang disini tidaklah tahu siapa Reyhan dan sifatnya yang sebenarnya. Karena menurut dirinya dan juga Reyhan, semua orang ini tidak penting. Seperti yang pernah Reyhan katakan kepadanya. "Baik dan buruk  seseorang bukan dari apa yang dilakukan, atau dikerjakan. Melainkan dari sudut mana mata kalian memandang."


Namun masih ada beberapa hal yang masih membuat risau hatinya. Yaitu tentang perasaan Reyhan kepadanya. Selama ini hubungan mereka memang sangat dekat. Akan tetapi ia tidak tahu bagaimana perasaan lelaki itu terhadap dirinya, sebab Reyhan tidak pernah mengatakan apapun mengenai perasaannya.


"Hei Nit melamun aja..." Tegur Andien yang saat itu melihat temannya bengong di kantin. Bahkan makanan yang di pesannya tidak disentuh sama sekali.


"Ahh kau.. aku kira siapa." Jawabku yang tersadar dari lamunan.


"Uhh... Apa yang membuat putri kecantikan ini menjadi pemikir berat." Ujar Risti yang datang menghampiri kita berdua. Ia lalu duduk di sebelahku, sedangkan Andien duduk di bangku depanku.


"Bukan apa apa kok.... Tidak penting." Sahutku seketika.


"Yakin?" Tanya Risti sambil mengedipkan mata padaku. Ia seperti tahu isi hatiku dan apa yang ku pikirkan saat ini.


"Iya.." Jawabku singkat.


"Lalu bagaimana hubunganmu dengan Reyhan... Si pangeran kegelapan itu?" Sela Andien kemudian.


"Ya begini begini aja. Kami baik baik saja."


"Apa jangan jangan kalian.." Ucap Risti dengan tersenyum seperti mengetahui sesuatu.


"Sudah.! Kita bisa ganti topik lain." Ujarku dengan tegas kepada kedua teman kelasku ini. Memang benar mereka adalah teman yang baik, akan tetapi terkadang mulut mereka tidak begitu baik.


Saat itulah kedua temanku ini menatapku dengan takut. Aku bisa dengan jelas melihat ketakutan dari kedua wajah temanku saat ini. Setelah itu suasana hening terjadi pada kami bertiga, tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari masing masing mulut kami. Kami terdiam seperti tidak mengenal sebelumnya, namun saat itu aku sadar dan sudah salah terhadap kedua temanku ini. Aku harus segera minta maaf kepada kedua temanku.


"Maafkan aku tadi.." Kataku meminta maaf kepada keduanya.


"Kami juga minta maaf ya.." Jawab Andien sambil memelukku.


"Iya aku juga minta maaf.." Suara Risti kepadaku.


Aku menghela nafas dan kemudian aku berpamitan kepada kedua temanku ini untuk pergi ke kelas. Temanku pun membayar makanannya dan langsung mengikuti ke kelas.


*****


Sudah lama aku dan Reyhan berhubungan. Kami sering pergi bersama entah kemanapun itu, atau hanya sekedar menonton film, bersantai atau mengobrol. Pernah suatu hari ia mengajakku untuk pergi ke rumahnya, namun ternyata saat itu aku bukan diajak ke rumah, malah berada di hotel.
Sempat seketika itu aku berpikiran buruk kepadanya ketika membawaku ke hotel ini, namun seperti tahu jalan pikiranku saat ini. Ia mengatakan bahwa ia tinggal disini dalam beberapa waktu terakhir.


Saat itu aku benar benar heran. Namun sesampainya di kamar hotel, ia tidak bercerita dan mengatakan apapun kepadaku. Dan hal ini tentu membuatku semakin penasaran. Hingga aku memberanikan diri untuk mencoba bertanya.


"Reyhan? Bolehkah aku bertanya padamu?" Ucapku.


"Kau aneh sekali hari ini... Hari ini kau lebih banyak dan aktif dalam bertanya." Ujar Reyhan kepadaku.


"Bagaimana apa aku boleh bertanya?" Ucapku kembali.


"Tentu.. Apa yang ingin kau tanyakan." Katanya.


"Apa Orang Tuamu pemilik hotel ini?" Tanyaku.


"Bukan.."


"Lalu Orang Tuamu atau kamu yang kerja di hotel?" Tanyaku lagi.


"Salah semua." Jawabnya singkat.


"Lalu?" Ujarku yang semakin penasaran akan hal ini.


"Aku tinggal di hotel ini secara gratis dan cuma cuma. Sebab bangunan hotel ini berbeda dengan sertifikat bangunan dan tanah mereka. Jadi secara tidak langsung bangunan ini memakan sedikit wilayah orang lain dan pemerintah. Dan saat pemilik hotel ini tahu bahwa aku mengetahui hal ini, mereka langsung menawariku untuk tinggal disini secara gratis." Ucapnya yang menjelaskan padaku.


Ketika mendengarkan semua penjelasan darinya aku langsung sadar, bahwa seseorang yang sedang dekat denganku beberapa waktu ini adalah laki laki yang menakutkan.
Aku pernah berpikir apa ia tidak takut apa yang akan dilakukan oleh pemilik atau petugas hotel ini kepadanya, bisa saja terjadi hal yang buruk kepadanya nanti.
Namun sekali lagi ia hanya tertawa dengan suara yang khas kepadaku.


Bukan hanya itu saja, Reyhan tidak pernah mengatakan darimana ia berasal dan siapa orang tuanya, pernah sesekali aku bertanya padanya. Namun bukan jawaban yang aku dapat, melainkan sifat diamnya. Sejak itu pun aku memutuskan untuk tidak bertanya tentang asal usulnya.


*****


Hingga suatu pagi aku mendengar sebuah kabar dari teman kelasku. Ia menghampiri diriku yang sedang duduk diam di dalam kelas. Memang saat ini kami semua sedang menunggu dosen kami yang terlambat datang, hal ini tak pernah terjadi sebelumnya.
Risti yang saat itu bertempat duduk beberapa bangku di depanku, langsung berdiri dan berjalan ke arahku. Ia menarik bangku yang kosong dan langsung duduk tepat di sebelahku.


"Nit... Ada yang ingin aku katakan dan sampaikan padamu." Ujarnya dengan suara pelan.


"Apa?" Jawabku cuek. Orang ini adalah ratu penggosip di kelas kami, dan jelas dengan pasti ia ingin menggosipkan sesuatu padaku.


"Tapi janji kau jangan marah.." Ujarnya kembali seperti meminta ijin.


"Iya iya..." Jawabku yang memang saat ini sedang malas untuk berbicara. Namun dari sorot kedua matanya aku melihat keseriusan.


Risti berkata padaku bahwa kemarin sore ia melihat Reyhan dengan seorang gadis berada di mall. Namun ia tidak tahu atau kenal siapa gadis yang bersama Reyhan, namun ia sempat mengambil beberapa gambar keduanya dengan kamera ponselnya. Ia pun menunjukkan hal itu padaku.


"Maaf Nit... Tapi aku ingin kau tahu." Ucapnya saat menunjukkan foto itu padaku.


Aku yang pertama kali tidak percaya dengan ucapan temanku ini langsung ingin marah, akan tetapi ia mempunyai bukti sebagai semua perkataan darinya tadi. Dan saat melihat foto tersebut hatiku perih dan hancur.
Di foto itu aku melihat Reyhan makan dengan seorang gadis yang cantik, dan keduanya tampak mesra dan bahagia. Aku merasa seperti hancur, semua pertanyaanku telah terjawab kali ini, tentang Reyhan tidak pernah mengatakan perasaannya padaku dan tentang kejelasan hubungan kami. Dan sekarang aku tahu alasannya ia tidak pernah melakukan hal itu.


Mataku berkaca kaca, air mataku kutahan semampu mungkin, namun hatiku tetap saja perih dan sakit. Aku seperti tertusuk oleh pisau beracun, meski tidak membunuhmu seketika, tapi membunuh dirimu secara perlahan dengan rasa sakit yang mengerikan.
Namun aku harus bersikap kuat, aku ingin langsung mendatanginya saat ini juga, namun tujuanku terhalang oleh Dosen kami yang baru saja masuk ke kelas. Aku langsung mengirim pesan singkat ke nomor handphone nya untuk bertemu siang nanti.
Selama jam mata kuliah ini berlangsung, aku tidak fokus sama sekali. Tubuhku memang berada disini, tapi pikiranku telah melayang pergi, dan hatiku kesakitan setengah mati.


*****


Akhirnya mata kuliah ini selesai juga. Setelah Dosen kami keluar, aku langsung berlari menuju pintu kelas dan menuju tempat Reyhan. Saat ini aku yakin teman temanku memandang sifat aneh dariku.
Namun aku harus tetap menemuinya saat ini, kutahan air mataku yang sudah keluar beberapa kali. Sebab yang kubutuhkan saat ini adalah penjelasan darinya.


Aku bisa melihatnya, ia sedang duduk seperti biasanya di bangku kesukaannya. Aku tahu ia pasti melihatku berlari ke arahnya, dan ia juga melempar sebuah senyum yang manis untuk menutupi kebusukannya.


"Kau terlambat gadis bodoh!" Sapanya ketika aku sudah berada di hadapannya.


Kuatur kembali nafasku dan ku coba redam amarah serta ku tahan air mataku saat ini. Untuk pertama kalinya aku bersuara lantang padanya. "Apa yang kau lakukan kemarin sore!"


Dia hanya melihat ekspresi ku saat itu, namun dia tak menjawab atau mengatakan apapun padaku. Ia seperti penjahat yang tidak mengakui perbuatan dosanya, serta bertingkah seperti tidak terjadi apa apa. Dengan tatapan matanya yang tajam ia melihatku.


"Jawab pertanyaanku... Apa kau pergi dengan seorang gadis lain kemarin!!!" Ucapku dengan setengah berteriak dan meneteskan air mata.


"Bukan urusanmu..." Jawab Reyhan. Dan kemudian ia berlalu pergi meninggalkan diriku.


Kata katanya itu seperti menyadarkan diriku, bahwa kami bukan siapa siapa. Tidak ada hubungan resmi atau ikatan yang terjadi atau terjalin diantara kami berdua.
Hatiku semakin hancur mendengar hal itu, sekarang racun yang terdapat di pisau itu seperti sudah meracuni dan membunuhku sekarang.


Hatiku sakit meminta penjelasan. Namun apa yang ingin aku dapatkan tak terwujud. Aku masih bisa melihatnya meski sudah beberapa langkah ia pergi. Ku hapus air mataku dengan kedua tangan dan aku berteriak padanya.


"Kau tahu kak... Aku berharap ini tidak pernah terjadinya. Aku berharap tidak pernah bertemu ataupun kenal denganmu!!" Ucapku yang berteriak memaki dirinya.


Namun ia hanya menghentikan langkah kakinya tanpa berbalik mengahadapku, ia hanya bersuara seperti biasanya. "Maaf... Dan semoga tuhan mengabulkan doamu itu."
Kemudian ia melanjutkan langkah kakinya pergi meninggalkanku.


Setelah itu aku tidak pernah mau lagi mendengar kabar tentangnya. Ku putuskan untuk menghapus namanya dari ingatan dan hatiku. Namun rasa sakit dan perasaan hancur masih membekas di hati ini. Saat itulah Arifin ada dan menjadi sosok pahlawan yang dengan setia menghibur dan menjadi semangat baru di hidupku. Hubungan kami semakin dekat dan akrab lalu berpacaran hingga sekarang ini.


Namun untuk Reyhan, setelah kejadian peristiwa itu. Menjadi pertemuan terakhir diriku dengannya, sejak hari itu aku tidak pernah lagi mendengar atau melihatnya di setiap sudut kampus.
Bangku taman kesukaannya juga selalu kosong, dan bahkan ada gosip tersebar bahwa dia di  Drop Out atau D.O dari kampus. Ada juga gosip yang mengatakan ia pindah ke Universitas lain.
Tentu saja semua hal itu aku ketahui dari Risti, si Ratu Penggosip.
Pernah aku iseng bertanya tentang kabarnya ke beberapa orang teman sekelas dan sahabatnya. Namun tidak ada yang tahu kabarnya atau dimana ia berada sekarang. Juga para Dosen yang aku tanyai saat itu seperti menyembunyikan sesuatu tentang dirinya.


Hingga kami bertemu kembali setelah beberapa waktu berlalu, atau lebih tepatnya setelah ia pindah dan menjadi tetangga sebelah rumahku.


TBC...

S.O.L.O

Bab 14

Sore hari yang indah. Matahari masih bersinar dengan sisa cahaya yang tersisa. Nampak berwarna sangat indah dan tenang. Seperti menggambarkan Keagungan Tuhan di alam semesta.
Sore ini Bunga duduk diam di dalam kafe, gadis bertubuh kurus ini menikmati keindahan sore ini dengan sendiri, tak ada teman, sahabat atau kekasih. Setelah ia dan Tama menghadiri acara pernikahan sahabatnya, ia kemudian harus mengantarkan kekasihnya ke Bandara. Meski walau rasa rindu masih menyelimuti, namun secara terpaksa ia harus berpisah dengannya. Semua itu dilakukan Tama demi sebuah masa depan yang indah.


"Kau datang terlalu awal..." Tegur seorang laki laki.


"Tidak apa apa... Sesekali aku ingin datang lebih awal." Jawabnya sambil mempersilahkan lelaki itu duduk.


"Kurasa kau benar.." Ucap laki laki ini. Ia menarik bangkunya dan duduk di meja hadapan Bunga.


"Apa kau kesepian setelah kekasihmu pergi?" Ujar laki laki ini.


"Tentu... Aku bahkan masih sangat merindukannya..." Seru Bunga setelah menegak minumannya.


"Bukankah tidak baik jika kekasihmu baru beberapa hari pergi dan kau malah bertemu pria lain... Kekeke."


"Kau benar sekali Reyhan. Tapi kurasa tak masalah jika aku bertemu denganmu.." Jawab Bunga dengan tersenyum ke arahnya.


"Hahaha... Pasti pacarmu yang sialan itu sudah cerita banyak hal tentangku kepadamu ya?" Ujar Reyhan.


"Mungkin iya atau mungkin tidak.." Guman lirih Bunga. Senyuman jelas terlihat dari wajah cantik gadis ini.


"Kekeke... Kurasa kau gadis yang cepat belajar ya... Hahaha." Suara Reyhan di sela tawanya.


"Tentu... Aku belajar dari kesalahan dan pengalaman." Timpal Bunga.


"Bagus kalau begitu... Jadi tidak masalah jika kita berteman." Sahutnya.


"Berteman?"


"Iya." Ucap Reyhan.


"Baiklah..." Jawab Bunga.


"Lalu untuk apa kau ingin bertemu denganku?" Tambah Reyhan.


"Ada hal yang ingin aku tanyakan padamu?" Seru Bunga dengan wajah yang serius.


"Kau adalah gadis yang unik dan mempunyai kemampuan menganalisa seseorang dengan baik." Puji Reyhan.


"Kau tahu kan... Ketika aku bersamanya dalam beberapa hari ini, dan aku bertanya padanya tentang siapa aku sebenarnya. Namun kekasihku itu menjawabnya dengan sesuai yang ia ketahui. Dan kemarin aku bertemu dengan sahabatku Yunita Novianti atau Nita, tentu kau tahu apa yang telah disampaikan olehnya kepadaku." Kata Bunga dengan penuh keyakinan.


"Apa ini sebuah pernyataan atau pertanyaan?" Ucap Reyhan. Namun ekspresi wajahnya telah berubah menjadi sedikit tegang.


"Silahkan kau artikan sendiri... Yang jelas sekarang aku ingin penjelasan darimu." Serunya.


"Kekeke... Kau tahu Bunga. Kau mempunyai kemampuan mengintimidasi lawan bicaramu, dan kau juga pandai menyembunyikan ekspresi aslimu. Tapi kau salah dalam satu hal." Ucap Reyhan.


"Apa itu...?" Tanya Bunga sambil mengernyitkan alisnya.


"Hahaha... Kebenaran." Jawab Reyhan.


"Maksudmu?" Suara Bunga yang semakin bingung.


"Kau bisa mengintimidasi lawan bicaramu dan kau memiliki kemampuan analisa yang bagus. Tapi... Bagaimana kalau itu adalah rencana dari lawanmu...?" Jelas Reyhan dengan senyum kemenangan.


Bunga berubah menjadi bingung, ia yakin bahwa tadi ia sempat membaca cara berpikir Reyhan, namun sekarang dirinya yang di buat bingung dengan kata kata Reyhan.
Ia tahu bahwa orang ini begitu pandai bermain teka teki dan tipuan, namun ia tidak bisa menebak jalan pikirannya.
Apa yang dipikirkan, ekspresi wajahnya, tingkah laku dan gerakan tubuhnya serta suara hatinya, tak bisa ditebak. Ini mirip ketika kau ingin pergi ke selatan tapi melangkahkan kaki ke utara.


"Hahaha..." Tawa Reyhan pecah melihat ekspresi kebingunan dari temannya itu.


"Sudah tidak usah dibahas lagi." Gerutunya yang masih bingung.


"Lalu apa yang kita bahas?" Seru Reyhan dengan tersenyum.


"Kau dan Nita." Jawabnya Tegas.


"Bukankah temanmu itu sudah menjelaskan semua dan segala hal padamu. Jadi seharusnya tak perlu ada lagi yang kau tanyakan." Ungkap Reyhan.


****


Sehari sebelumnya.


Nita yang waktu itu setelah bertemu dengan Reyhan memilih untuk pergi ke rumah temannya, Bunga. Ia ingin bercerita dan berbagi kesedihan saat ini, sebab ia tak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.
Dan ketika sampai dirumah sahabatnya itu ia melihat mobil salah satu sahabat lainnya disana. Ia lalu mengetuk pintu rumah dan langsung disambut oleh Bunga.


Saat itu Bunga sangat heran dengan Nita, wajah sahabatnya ini begitu sedih dan pucat, tak ada sinar cerah yang setiap hari menghiasi wajah sahabatnya ini.
Ia pun mempersilahkan Nita untuk masuk dan menyuruhnya duduk di ruang tamu bersama dengan Merlin, yang saat itu juga ada di rumahnya.
Ekspresi Merlin hampir sama dengan Bunga, ketika melihat Nita datang dengan wajah sedih, dan pucat. Seperti habis di terjang oleh sebuah badai.


"Ada apa Nita?" Tanya Merlin sambil memeluk sahabatnya itu.


Nita yang duduk dan mendapat pelukan hangat dari sahabatnya itu hanya bisa diam. Matanya berkaca kaca, hatinya sangat sedih serta tinggal menunggu waktu saja agar air matanya segera tumpah.


"Ini minumlah dulu..." Ujar Bunga yang datang dari dapur dan membawa minuman untuk sahabatnya.


"Terimakasih..." Ucapnya lirih.


"Ceritakan pada kami apa yang sebenarnya terjadi... Hingga bisa membuatmu seperti ini?" Seru Bunga yang duduk di sebelah kanan Nita, sedangkan Merlin berada di samping kiri dari Nita.


Nita terdiam dan menatap sahabatnya satu per satu. Ia bersyukur disaat seperti ini mempunyai sahabat seperti mereka. Sahabat yang takkan ingin ia tukar dengan apapun jua.
Ia kembali menghela nafas dan menyiapkan mentalnya. Kemudian dirinya bercerita tentang masa lalu dirinya bersama Reyhan. Ia menceritakan semua hal dengan detail kepada kedua sahabatnya ini, hingga tak ada satu kata pun yang terlewat olehnya. Namum di akhir cerita itu, ia sudah tak mampu lagi membendung air matanya. Cerita ini berakhir dengan suara tangis dan akhir mata dari Nita.


Sedangkan Bunga, dan Merlin hanya terdiam. Mereka berusaha menenangkan sahabatnya, namun mereka juga tidak tahu jalan keluar dari permasalahan sahabatnya ini. Hingga ketiga gadis ini saling berpelukan dan memeluk sama lain sebagai simbol mereka berdua juga merasakan apa yang sedang dirasakan sahabatnya, Nita.


****


"Kau sudah paham... Lalu untuk apa kau ingin bertemu dan membahas hal ini denganku." Ujar Reyhan kepada Bunga.


"Tapi aku juga ingin mendengarkan penjelasan darimu.." Kata yang keluar dari mulut Bunga.


"Terserah. Tak ada yang perlu dijelaskan." Jelas Reyhan yang kemudian pergi meninggalkan Bunga.


Sementara Bunga hanya duduk terdiam tanpa bisa melakukan apa apa. Sebenarnya ia ingin sekali membantu dua orang yang sedang bermusuhan ini, namun ia dihadapkan pada sikap egois masing masing dari mereka. Perbincangan dengan Reyhan tak menghasilkan apa apa, tak ada informasi yang ingin ia ketahui berhasil di dapatkan, semua ini berakhir dengan percuma.


*****


Nita yang beberapa hari terakhir terlihat murung ini mencoba untuk menghapus kesedihan yang ada di hatinya. Ia ingin pergi jalan jalan dan berbelanja sebagai sebuah pelampiasan, namun saat hendak keluar ia melihat rumah Reyhan yang tepat ada di sebelahnya dan hanya berjarak beberapa meter itu. Ia merasa sangat benci dan penuh amarah kepada Reyhan, ia sangat ingin mengusirnya pergi agar tidak mengganggu lagi ketenangan hidupnya.
Ia langsung mengendarai motornya dan pergi entah kemana.


Nampaknya berbelanja memang bisa sedikit mengobati rasa sesal penuh amarah dan rasa sakit hatinya. Seharian berjalan jalan dan berkeliling mall sedikit sejenak melupakan masalah yang tengah di hadapinya. Namun rasa itu nampaknya tidak akan bertahan lama.
Ada seseorang yang menghampiri dan menyapa dirinya ketika menikmati Makan siang di Mall.


"Kau...?" Ucap Nita dengan heran.


*****


TBC....

Senin, 15 Januari 2018

S.O.L.O (Story Of Love)

Bab 11

Beberapa Minggu Kemudian.


Sebuah hari yang indah, dengan cuaca cerah dan di minggu pagi. Tapi ada beberapa hal yang justru terjadi di hari yang indah ini.


"Sayang... Cepat nanti kita terlambat?" Teriak Tama yang duduk ruang tamu menanti kekasihnya berganti pakaian dan berhias.


"Iya sebentar sayang..." Teriak Bunga yang masih sibuk dengan hiasan wajahnya.


"Maaf ya nak Tama, anak ibu memang lama kalau berdandan." Seru suara halus yang mendinginkan suasana panasnya.


"Iya tidak apa apa kok tante.." Jawab Tama dengan nada yang tak kalah halus.


Hari ini adalah hari salah satu sahabat Bunga. Annisa Putri Choirun atau Nisa dan Indra melangsungkan acara resepsi pernikahan mereka, yang bertempat di sebuah hotel. Setelah sebelumnya beberapa hari yang lalu mereka melaksanakan acara Ijab Qobul. Calon mertua dan menantu ini masih sibuk menunggu Bunga yang masih sibuk tersendiri. Sudah hampir setengah jam kedua orang lintas generasi ini menunggu, hingga tergambar jelas rasa bosan dan sebal pada wajah masing masing.


"Ayo kita berangkat..." Ucap Bunga yang baru keluar dari kamarnya. Kali ini ia berbeda dari biasanya, terlihat lebih cantik dan anggun. Bahkan Tama menatapnya tanpa berkedip.


"Ehem ehem..." Suara Ibu Bunga yang membuyarkan lamunan Tama. Sementara itu Bunga hanya mampu tertawa melihat ekspresi pacarnya itu.


Mereka bertiga keluar dari rumah dan menuju tempat Resepsi Pernikahan.


****


Di Tempat lain Yunita dan Arifin berangkat bersama. Mereka pergi menggunakan mobil Arifin. Sedangkan orang tua dan adiknya telah berangkat terlebih dahulu. Hari ini Nita mengenakan pakaian yang sepasang dengan kekasihnya. Sebuah pakaian yang indah serta di balutan dengan warna merah muda yang semakin menampilkan keindahan dan kecantikan dirinya. Ditambah dengan sepasang sepatu yang menghiasi dan menjadi pijakan keindahan kakinya.


Sementara Arifin mengenakan pakaian dengan warna merah dan celana hitam dengan sepatu berwarna hitam gelap. Kedua pasangan ini nampak serasi sekali, bahkan sudah seperti terlihat bagaikan suami istri.


****


Pesta Pernikahan ini berlangsung dengan meriah dan khidmat. Semua orang memandang kedua pasangan tersebut yang menjadi tokoh utama dari sebuah kisah pendek dan bagaikan menjadi raja dan ratu semalam.
Nisa malam ini terlihat sangat cantik dan sempurna, dengan pakaian sebuah gaun yang berwarna putih yang melambangkan sebuah kesucian.
Demikian juga dengan sang mempelai pria yang menggunakan jas berwarna putih, dan celana putih. Hingga nampaknya keduanya seperti pasangan dari kerajaan langit yang suci.


"Tak kusangka Nisa menjadi secantik itu..." Bisik Merlinda ke telinga Bunga.


"Heem that's  beautiful natural." Seru Bunga. Merlinda, Bunga dan kekasihnya duduk menjadi dalam satu deretan bangku. Dan disamping kirinya duduk Nita dengan kekasihnya. Sementara Merlin tidak datang dengan pacarnya yang baru putus beberapa minggu lalu.


Tapi tiba tiba semua mata hadirin di pesta tersebut melihat ke tempat lain. Kali ini semua mata menatap seorang laki laki yang baru datang dan masuk ke hotel tersebut.


"Kenapa dia ada disini?" Ujar lirih Bunga.


"Nisa juga mengundangnya..." Sahut Nita di sela ucapan sahabatnya.


Tapi memang benar, Reyhan datang seperti sebuah Bintang baru. Mengalahkan semua pandangan yang tadi menatap kagum ke arah pasangan suami istri tesebut. Namun sekarang semua tatapan kagum dan takjub itu beralih pada Reyhan.


Reyhan datang dengan penampilan baru. Rambut panjangnya sudah tak lagi ada, ia juga sudah memotong dan mengganti model gaya rambutnya menjadi belah samping. Terlihat sangat rapi dan elegan.


Ia datang ke acara ini dengan menggunakan pakaian berupa jas yang berwarna hitam dengan corak berwarna kuning emas. Ditambah dengan celana warna hitam serta sepatu hitam yang mengkilat. Hal ini membuat dirinya terlihat seperti Bangsawan dari sebuah kerajaan. Apalagi sikapnya saat berjalan terlihat elegan dan angkuh, justru semakin memperkuat pesona akan dirinya.


"Aku tahu dia memang tampan... Tapi malam  begitu terlihat tampan dan mempesona. Oh Tuhan kuatkan diri hamba ini.." Suara lirih Merlin saat melihat Reyhan datang dan berjalan serta kini tepat duduk di sebelahnya.

Sementara Tama mengetahui teman lamanya itu juga datang, ia langsung meninggalkan Bunga untuk berpindah tempat duduk di sebelah Reyhan.

Sementara Merlin dan Nita menatap heran dengan ekspresi aneh saat pacar sahabatnya itu akrab dengan Reyhan, lelaki aneh namun tampan.

"Suatu saat akan aku ceritakan.." Ucap Bunga yang melihat ekspresi aneh dari kedua sahabatnya.

"Maksudmu apa?" Gerutu Merlin yang makin penasaran.

"Sudahlah. Kita nikmati dulu saja pestanya." Jawabnya.

****


Tiga hari kemudian.


Udara malam yang dingin dengan awan mendung menyelimuti langit malam ini dan hembusan angin yang bertiup seperti mengatakan bahwa hujan tak lama lagi akan tiba. Untuk di Negara Indonesia seharusnya waktu ini adalah musim panas, namun nampaknya bumi ini sudah terlalu tua dan rapuh hingga terkadang kita bisa merasakan air hujan di musim panas, dan juga kita bisa kekeringan di musim hujan.


Tidak ada yang tahu kenapa hal ini bisa terjadi, bahkan para manusia yang ahli pun sulit untuk menjelaskan hal ini dengan detail dan logis. Mereka hanya memberi sebuah pernyataan dan jawaban yang ingin kita ketahui.


Sebenarnya malam ini belum terlalu larut. Akan tetapi mungkin karena sebentar lagi hujan akan segera turun, jadi jalanan yang biasanya terlihat ramai dan sedikit macet kini terlihat lenggang dan sedikit sepi. Namun masih banyak orang orang yang berlalu lalang di jalanan ini.


"Hei Robi... Apa kau benar orang ini akan lewat sini?" Tanya seseorang kepada temannya.


"Aku yakin sekali, bahkan sangat yakin." Jawabnya ke orang yang duduk di sebelahnya dan menyetir mobil.


"Tapi apa kau yakin akan melakukan ini Arifin?" Kata orang yang duduk di jok belakang.


"Iya... Kita harus memberinya pelajaran." Sahut salah satu yang ada di jok belakang juga.


"Aku mengandalkan kalian semua." Ujar Arifin.


Entah apa yang akan dilakukan keempat orang ini, namun mereka seperti membuat rencana untuk melakukan sesuatu hal yang buruk. Dan seketika sampai di suatu jalan, mobil yang mereka tumpangi menepi dan berhenti sambil mata mereka mengamati sesuatu.
Sudah berapa menit mereka menunggu disitu, terdiam duduk di dalam mobil dengan waspada, seperti seekor Harimau yang sedang mengincar mangsanya.


"Lihat itu..." teriak salah satu temannya yang menunjukkan seseorang yang melewati mobil mereka.


Arifin pun menyalakan mesin mobilnya dan memacu mengejar si pengendara sepeda motor yang baru saja lewat. Dan butuh waktu lama bagi Arifin mengejar dan mengikuti orang itu. Ia pun tepat berada di belakang jarak orang itu dan tetap menjaga jarak. Hingga kemudian mobilnya melewati si pengendara dan berhenti tepat di depannya, pada saat jalanan yang sepi.


Sedangkan si pengendara tadi langsung mengerem motornya hingga hampir terjatuh. Ia lalu berhenti dan menatap mobil yang berhenti seenaknya di depannya.
Saat itulah keempat orang ini turun dari mobil dan menatapnya dengan tajam.


Si pengendara ini hanya terdiam melihat empat orang berjalan ke arahnya, ia pun langsung membuka helmnya dan turun dari motornya.


"Aku hanya mengatakan ini sekali! Pergi dari Kota ini dan hidupmu akan tenang, tapi jika kau bersikeras maka jangan salahkan kami kalau kami harus membuatmu terluka." Teriak Arifin dengan nada keras, layaknya pria sejati.


"Benar Bung, lebih baik kau pergi atau menyesal." Tambah salah satu temannya yang bertubuh paling besar diantara keempat orang ini.


Sementara yang dua lainnya bertubuh kekar namun dengan tinggi yang sedang, akan tetapi ada salah satu diantara mereka berpenampilan layaknya seorang tentara. Dengan rambut khas dan badan yang identik mirip prajurit.


"Hahaha.... Kalian terlalu bodoh. Kenapa aku tidak terkejut dengan apa yang kalian rencanakan dan yang akan kalian lakukan." Ujar pria yang ada di hadapan ke empat orang ini. Dengan pakaian serba hitam, ia seperti mengadopsi kegelapan dalam dirinya.


"Diam kau Reyhan. Kau pikir kami tidak tahu siapa kau ini!" Teriak dan hardik Arifin.


"Tentu saja kau dan teman teman bodohmu itu tahu siapa aku yang sebenarnya. Justru ini adalah hal yang bagus bukan!" Ujar Reyhan.


"Benar Bung.. Pergilah dari kota ini. Maka kau akan selamat." Ucap salah satu orang yang ada disebelah kanan Arifin.


"Hahaha... Kau pikir kami akan takut dengan cerita legenda waktu kau masih kuliah dulu! Lebih baik pergi saja!" Sahut orang yang berpenampilan layaknya tentara ini.


"Lalu apa mau kalian? Orang bodoh!" Ujar Reyhan. Kali ini matanya memancarkan sebuah tatapan tajam dan menakutkan.


"Ayo kita beri pelajaran saja orang ini!" Teriak salah satu orang yang bertubuh tinggi. Arifin dan teman temannya pun berlari ke arah Reyhan untuk menghajarnya.


Sementara Reyhan menatap orang orang yang berlari sambil menyeringai. "Tidak ada perkelahian malam ini, hanya ada sebuah pembantaian."


****


Nita duduk di kursi depan rumahnya, hari ini atau lebih tepatnya malam ini mendadak ia merasakan sesuatu yang tidak enak di dalam hatinya. Ia seperti merasakan sebuah rasa takut dan khawatir, apalagi udara malam yang dingin semakin memperburuk suasana hatinya.
Beberapa kali ia mengirim pesan dan menelpon kekasihnya, namun tidak ada balasan satu pun. Ia lalu masuk ke dalam rumah karena air hujan sudah datang malam ini. Dia juga berdoa agar tidak terjadi sesuatu pada kekasihnya, Arifin.


Gerimis kecil malam ini membasahi beberapa orang pemuda yang tergeletak dan terbaring lemah, sisa nafasnya masih ada. Namun tenaga mereka sudah tidak ada lagi, dengan luka memar, dan wajah yang lebam. Nampaknya keempat orang ini babak belur dan terluka parah, hingga tak ada satupun dari mereka yang mampu untuk berdiri.


"Bukankah aku tadi mengatakan, bahwa ini bukan perkelahian. Tapi pembantaian." Ucap Reyhan yang masih berdiri kokoh. Meski ia juga mengalami luka memar di bagian tubuhnya namun ia bisa berdiri tegak. Mengalahkan orang orang yang berbadan lebih besar darinya.


Sementara Arifin bersama teman temannya yang tergeletak lemah itu hanya menatap tajam ke arahnya. Ia dan teman temannya tidak percaya bisa dikalahkan oleh orang yang berbadan lebih kecil darinya saat ini, apalagi ini pertarungan empat lawan satu, justru pihaknya yang unggul dan harus menang, bukan sebaliknya.


"Jika kalian pernah mendengar cerita tentangku di masa lalu, seharusnya kalian takkan mengganggu ku dengan hal bodoh dan tidak berguna ini. Kalian para sampah yang menyedihkan." Ujar Reyhan dengan tatapan tajam dan menakutkan. Ia berbicara dengan gayanya yang meremehkan empat orang yang terbaring lemah ini.


"Tapi kami tidak tahu bahwa cerita itu benar..." Ucap salah satu dari mereka di sela erangan rasa sakitnya.


"Tentu, aku tak menyalahkan kalian akan hal itu. Namun yang harus kalian ketahui adalah bahwa terkadang dongeng atau legenda berasal dari sesuatu yang nyata dan benar." Jelasnya.


"Lalu apa yang akan kau lakukan pada kami sekarang..." Suara Arifin Serak.


"Kali ini aku akan membiarkan kalian. Namun jika lain kali kalian mengangguku, maka akan benar benar terjadi pembantaian!!! Kalian pikir kalian adalah Pemangsa, tapi sebenarnya kalian adalah Mangsa. Kekekeke...." Serunya dengan tawa yang menakutkan.


Reyhan masih menatap orang orang ini dengan tatapan yang menakutkan, ia melihat dan menatapnya satu per satu. Mulut besar dan suara lantang yang tadi di dengarnya dan berteriak kepada dirinya sudah tidak lagi di dengar olehnya. Sekarang hanya nampak sebuah tatapan putus asa dari keempat orang ini.


Akan tetapi Reyhan tak puas akan hal ini, ia sudah tahu identitas dan keburukan semua lawannya. Kemudian dirinya mengatakan satu per satu kebusukan, dan tingkah laku orang orang ini. Dan tentu saja ke empat orang ini terkejut setengah mati, seperti ada petir yang menyambar tubuh mereka saat ini.
Tak terkecuali dengan Arifin, ia mendengar Reyhan berbicara tentang kelakuan buruk, serta kebusukannya dan semua hal buruk dirinya dan orang tuanya.


"Asal kau tahu Arifin bodoh! Jika kau mengganggu ku lagi, akan aku pastikan kau dan semua keluargamu akan kehilangan segalanya dan terusir serta tersisih dari dunia ini." Ancam Reyhan. Ia kemudian pergi meninggalkan ke empat orang ini.


Keesokan harinya.


Nita yang berada di ruang tamu kekasihnya ini sedang menunggu kekasihnya keluar dari kamar. Ia tahu dari temannya bahwa Arifin masuk rumah sakit karena sebuah insiden perkelahian. Hari ini ia langsung mengunjungi rumahnya serta membawa beberapa buah buahan.


"Maaf kau menunggu lama ya sayang.." Tegur Arifin yang berjalan ke arahnya. Luka memar dan lebam nampak di sekujur tubuhnya.


Nita yang melihat hal itu bersedih dan langsung meneteskan air mata. Ia sebenarnya ingin bertanya pada kekasihnya itu tentang siapa yang melukainya seperti ini. Namun Arifin tidak ingin mengatakan atau membicarakan hal ini. Matanya seperti menyembunyikan sesuatu hal kepadanya.


Dan sebagai wanita secara naluri ia tahu betul apa yang membuat kekasihnya ini babak belur. Ia tidak tahu secara detail dan logis, namun perasaan dan hatinya mengatakan hal itu.


*****


Reyhan baru bangun tidur dari malam yang panjang, ia lalu berjalan ke pintu depan rumahnya untuk membersihkan rumah serta halamannya. Namun baru saja membuka pintu ia melihat sebuah amplop surat yang berada dan tergeletak di depan pintunya. Kemudian diambilnya amplop itu dan dibukanya. Ia sedikit tersenyum saat membaca isi dari amplop tersebut.


Dua jam telah berlalu, dan ia sudah pergi ke suatu tempat setelah menerima amplop tersebut. Hingga ia berada di tempat itu, langkah kakinya seperti tahu dimana orang yang berada mengirimnya surat sekarang.
Dari jauh ia bisa melihat orang itu dengan jelas, ia berjalan ke arahnya langka demi langkah hingga sampai tiba di hadapannya.


"Aku harap kau ingin bertemu denganku bukan untuk mengatakan atau membicarakan hal bodoh dan tak berguna." Sapa Reyhan.


Namun seorang gadis berdiri dan menatapnya dengan sinis. Dari tatapan matanya saja sudah terlihat sebuah amarah yang maha dahsyat. Ia hanya mengatakan sedikit hal. "Apa yang kau lakukan pada Arifin dan untuk apa kau kembali lagi kesini!"


"Nampaknya setelah lama kita tidak bertemu dan berbicara. Kau telah mengalami kemajuan mental yang hebat." Ujar Reyhan.


"Terserah apa katamu! Yang jelas jangan kau ganggu aku, dan sahabatku juga kekasihku." Ucap Gadis ini setengah membentak.


"Kekeke... Nampaknya kau salah paham. Coba bersihkan matamu dan lihat baik baik." Ujarnya.


"Apa kau pikir dengan menghajar dan memukul, serta mengancam pacarku akan membuat diriku kembali padamu kak! Kau salah kalau begitu." Suara Gadis ini dengan penuh amarah.


"Kekeke.... Kurasa kau masih tetap menjadi Gadis Bodoh, walau sekarang kau jauh lebih pintar. Asal kau tahu... Bahwa kekasih bodohmu itu yang ingin menghajarku, namun seperti dia salah perhitungan." Jawabnya.


"Aku tidak peduli siapa yang salah! Yang aku inginkan kau jangan lagi mengganggu ku dan hadir di hidupku."


Reyhan berjalan mendekatinya dan hanya berjarak dua langkah. Ia menatap matanya kemudian tersenyum sambil mengatakan sesuatu dengan sangat jelas. "Kau salah Nit... Aku kembali lagi kesini bukan untukmu, aku hanya mengambil sisa kenangan yang tersisa dariku di Kota ini."


Nita ingin sekali marah saat ini, tapi ia harus berpikir jernih, ia tidak mau rasa amarah mengendalikan tubuhnya. Beberapa kali ia mengambil nafas untuk menenangkan dirinya.


Tapi saat itulah Reyhan berbalik arah melangkah pergi meninggalkan dirinya. Ia hanya mendengar sedikit kata darinya. "Bagiku kau tetaplah Gadis bodoh yang tidak tahu apapun."


Setelah itu ia melihat Reyhan berjalan semakin jauh, dan jauh hingga tidak terlihat lagi oleh kedua bola matanya. Sama seperti masa lalu saat dimana ia melihatnya berjalan pergi untuk terakhir kalinya waktu itu.


TBC....